Rabu, 20 Oktober 2010

DISKURSUS KENABIAN DAN KEPEMIMPINAN

Oleh Lallang Salam

Mukadimmah

Pada perkembangan pemikiran tentang manusia melahirkan berbagai cara pandang melihat manusia. Ada yang beranggapan bahwa manusia seperti makhluk lain yang hanya sebatas susunan materi. Perubahan pada manusia tidak terlepas pada perubahan material saja, kehidupan seperti tumbuh, berkembang biak semua itu tidak memiliki relevansi atau kaitanya dengan non material. Pandangan lain melihat manusia tidak hanya pada susunan materil akan tetapi melihat Sesuatu yang subtantif dari manusia yakni bahwa manusia memiliki fitrah yang kecenderungan pada kesempurnaan. Dengan fitrah yang dimiliki pada dirinya sebagai sebuah nilai ke-Ilahiaan ketika di aktualkan akan membawa manusia pada proses transendensi.

Pada diri manusia, sesuatu yang tidak bisa dingkari kecederungan akan hal-hal sifatnya hewani sehingga semestinya manusia berproses dari sisi hewani menuju sisi ke-Ilahian. Karena ketika manusia hanya berhenti pada materil (hewani) maka dengan sendirinya manusia telah meruntuhkan nilai keistimewaannya. Manusia pada kenyataan seperti ini tidak bisa lagi di bedakan dengan makhluk lainnya.

Manusia sebagai penciptaan terakhir dari sekian mahkluk yang telah dciptakan Tuhan, memiliki keistimewaan karena diberi tugas untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Ketika makhluk lain di berikan tugas ini semuanya enggan untuk menerimanya. Keistimewaan manusia pada sisi lain memiliki kebebasan untuk memilih pilihan dari berbagai pilihan yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang tentunya dengan barengi konsekuensi dari pilihan tersebut. Akal sebagai salah satu pembeda dengan makhluk yang lain dan merupakan anugerah Tuhan menjadi timbangan dalam setiap perilaku manusia, Kesempurnaan akal yang di miliki manusia meniscayakan manusia tersebut akan sampai pada taraf a’rif dimana kebijaksanaan, keadilan akan menjadi sebuah karakter dalam dirinya. Nilai-nilai Ilahi menjadi wujud dalam tingkah lakunya (Akhlak).

Dalam perjalanan sejarah manusia, pada awalnya adalah ummat yang satu namun karena pertikaian dalam internal manusia yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan. Pertikaian yang di akibatkan bergesernya manusia dari fitrahnya yag sebenarnya harus diaktulakan sehingga kedamaian, persaudaraan akan tercipta. Namun, kenyataanya manusia lebih memilih mengaktualkan kebinatangannya.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia tentunya tidak mampu untuk membawa manusia itu sendiri pada kedekatan dengan penciptanya sebagai sebuah tujuan dari segala tujuan sehinnga dengan kecintaan Tuhan (Pencipta) pada hambannya untuk menyelesaikan pertikaian itu maka, Tuhan menurunkan solusi dari kalangan manusia itu dengan mengutus manusia pilihan dari kalangan mereka sendiri yang kelak disebut sebagai Nabi, Rasul, atau pemimpin.

Manusia itu adalah ummat yang satu (setelah timbul perselesihan). Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihan. (QS. Al-Baqarah; 213)

Kehadiran nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan tentunya bertujuan untuk bagaimana manusia itu kembali utuh sebagai ummat yang satu. Ummat yang penuh dengan kedamaian, persaudaran dan yang terpenting menjadi ummat yang bersama-sama bergerak menuju kedekatan dengan Tuhan.

Nabi dan Rasul Dalam Definisi

Dalam pembahasan kenabian salah satu subtema yang mesti dijelaskan adalah definisi nabi dan rasul. Maksud dan tujuan perlunya untuk memberikan batasan kepada nabi dan rasul agar supaya kita dapat membedakannya dengan yang bukan nabi karena dalam sehari-hari kita ada dua terma yang selalu beriringan yakni nabi dan rasul. Menurut Imam Ali pada dasarnya Nabi itu berjumlah sekitar 124 ribu. Lalu apakah perbedaan nabi dan rasul?. Maka, dari pertanyaan inilah kita mulai mencoba mengurai tentang apa definisi nabi dan Rasul.

Nabi adalah pembawa berita. Nabi adalah seorang yang menerima berita disisi Allah sedangkan Rasul adalah utusan Allah yang memiliki tugas tertentu, baik itu tugas berupa perintah dari Allah untuk menyampaikan Syariat kepada ummat atapun tugas dan tanggung jawab yang lain dari pada itu. Pengetahuan yang selama ini yang berkembang dimasyarakat pada umumnnya membedakan antara nabi dan Rasul. Nabi adalah utusan Tuhan yang tidak membawa ajaran syariat tertentu sedangkan yang dimaksud dengan rasul seorang yang membawa syariat tertentu untuk disampaikan kepada umat pada hal menurut Al-Quran yang membawa syariat biasa disebut nabi dan yang tidak membawa syariat biasa disebut dengan rasul.

Pada dasarnya antara nabi dan rasul tidaklah memiliki perbedaan. Semua nabi adalah rasul akan tetapi tidak semua rasul adalah nabi. Dalam Al-Quran Malaikat tertentu juga disebut sebagai rasul seperti misalnya malaikat jibril.

“Sesungguhya Al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)

Bukti lain dalam Al-Quran bahwa rasul (utusan) tidak hanya dari kalangan nabi akan tetapi juga berasal dari kalangan selain nabi. Kata Ba’ts dalam Al-Quran yang berarti (pengutusan) terdapat dalam satu ayat, dimana ayat tersebut di khususkan kaum tertentu yang diberi kekuatan oleh Tuhan untuk memerangi kaum yahudi yang congkak.

“Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan pertama dari kedua kejahatan itu, kami utus (ba’atsna) kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung dan itulah ketetapan yang pasti” (QS. al-Isra: 5)

Nabi dan rasul dua karakter yang mewujud dalam diri seseorang yang pada dasarnya tidak terpisahkan. Antara nabi dn rasul sama-sama utusan Tuhan dan juga sama-sama memiliki peran dan tanggungjawab (Tugas).

Ciri Kenabian

Pengenalan terhadap siapa nabi merupakan salah satu tangga untuk memahami bagaimana ajaran yang dibawanya. Untuk mengenali siapa saya tentunya ada ciri khusus yang bisa dikenal bahwa itu adalah saya begitupun halnya dalam kenabian. Disisi lain pentingnya untuk mengetahui karateristik nabi yakni agar kita dapat memilah mana nabi dan bukan nabi. Tidak bisa di pungkiri dalam perjalan sejarah manusia banyak sekali kita jumpai mengaku sebagai nabi. Di Indonesia misalnya dari media cetak maupun eletronik nampak ditayangkan oang-orang yang mengaku sebagai nabi. Menurut Murtadha Muthahhari karaterisktik kenabian antara lain Mukjizat, maksum, petunjuk, ikhlas, konstruktif, sisi manusia, pembawa syariat.

  • Mukjizat merupakan salah satu ciri yang dimiliki oleh nabi maksud mukjizat ialah bahwa nabi memiliki kekuatan yang luar biasa (Mistis) yang tidak dimiliki oleh orang biasa. Secarah harfiah Mu’jizat berarti “yang membuat lemah”. Dalam perjalan manusia di setiap zaman terdapat orang-orang ingin mencari kebenaran dalam artian ingin membuktikan bahwa apakah orang yang diutus oleh Tuhan adalah nabi sebagai pembawa berita dan biasanya orang-orang tersebut kehendak pembuktian agar para nabi mengeluarkan mu’jizatnya. Dalam Al-Quran dapat kita temui beberapa kisah para nabi yang menunjukkan mu’jizatnya seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, mengubah tongkat menjadi ular, serta Al-quran itu sendiri muk’jizat Rasulullah SAAW.
  • Maksum adalah terjaga serta terbebas dari dosa yakni bahwa dalam selama menjalani kehidupan, para nabi tidak pernah berbuat dosa. Makna dosa disini adalah segala yang terkait dengan Teologis dan syariat. Selama hidupnya Para nabi tidak pernah menyimpang dari perbuatan yang bertentangan Teologis (Tauhid) ataupun Syariat. Mengenai ciri kenabian ini tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi perdebatan dikalangan para ulama misalnya dalam “kasus” Rasulullah SAAW ketika bermuka masam pada suatu majelis sehingga ada yang beranggapan bahwa bermuka masamnya nabi menandakan bahwa nabi juga pernah melakukan kesalahan apakah benar demikian?. Peristiwa ini di abadikan dalam Al-Quran surah Abasa ayat 1-6 perlu ditelaah lebih jauh.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum), dan tahukah engkau (Muhammad) barang kali Dia ingin menyucikan diri (dari dosa), atau Dia ingin mendapatkan pengajaran yang bermanfaat padanya?. adapun orang yang merasa dirinya serbacukup (pembesar-pembesar Qurays), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya.” (QS. Abasa: 1-6).

  • Petunjuk mengenai ciri ini bahwa seorang nabi meniscayakan dirinya menjadi teladan bagi ummatnya. Mengangkat derajat ummatnya menuju kedekatan dengan Tuhan. Untuk lebih jelasnya tentang ciri nabi yakni sebagai petunjuk maka saya mengutip Muh. Iqbal. “Orang sufi tak mau kembali dari kedamaian (pengalaman menyatunya) kalaupun dia kembali, dan memang ini harus. Kembalinya dia itu tak berarti banyak bagi ummat manusia pada umumnya. Kembalinya nabi besifat kreatif. Nabi kembali untuk memasuki jalan waktu dengan maksud mengendalikan sejarah”

  • Ikhlas; nabi dalam menyampaikan risalah Tuhan tentunya tak mengharapkan sesuatu selain keridhoan Allah. Nabi dalam berbuat tidak memiliki tendensi yang dapat menjauhkan dari Tuhan. Kepentingan nabi adalah tidak lain adalah untuk membawa manusia menuju Tuhan. Para nabi tidaklah berbuat karena ingin mendapatkan popularitas, kekayaan, kekuasaan.
  • Konstruktif, ciri kenabian ini sangat terkait erat ciri lainnya khususnya ciri mengenai petunjuk bahwa kehadiran nabi adalah membangun masyarakat. menciptakan kesejahteraan, keadilan serta kedamaian. Muh. Iqbal terkait dengan ciri ini mengatakan “ cara lain untuk mengetahui nilai pengalaman religius nabi adalah mengkaji tipe manusia apa diciptakannya, dan budaya yang terbentuk dari roh risalahnya”
  • Ciri kenabian selanjutnya adalah bahwa para nabi memiliki sisi manusia yakni walaupun para nabi memiliki kelebihan dari manusia umunnya akan tetapi bukan berarti nabi begitu saja meninggalkan syariat atau perintah Tuhan seperti shalat, puasa dan lain sebagainya. Nabi juga pada dasarnya tetap bekerja untuk memberi nafkah pada keluargaanya.
  • Dalam perjalanan kenabian guna menyampaikan risalah Tuhan serta membangun manusia agar kembali kepada fitrahnya bukan berarti tanpa sebuah perjuangan serta konflik. Nabi selalu mengahadapi hambatan, rintangan dari orang yang menentangnya.
  • Tentunya yang paling mudah untuk mengidentifikasi kenabian maka pastinya para nabi membawa risalah (syariat) Tuhan atau penyebar risalah yang sudah ada.

Tujuan Pengutusan Nabi

Utusan Tuhan (Para Nabi) hampir ada di tiap zaman akan tetapi ironisnya kehadirannya selalu dianggap sebagai orang hina dan bodoh dimata ummatnya. Mengapa demikian? Karena para nabi selalu ingin megembalikan manusia kepada fitrahnya memperingatinya agar kembali kepada kecenderungan untuk kepada kebenaran dan kebaikan guna mengajak manusia menuju kesempurnaanya.

“Manusia itu adalah ummat yang satu. (setelah timbul perselisihan). Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar dan pemberi peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213)

Dari gambaran Surah Al-Baqarah di atas bahwa pada awalnya manusia itu bersatu namun di kemudian hari terjadi perselisihan, mengapa perselisihan itu terjadi?. Menurut Murtadha Mutahhari karena diantara manusia mulai ingin memanfaatkan kenikmatan dunia hanya untuk diri mereka sendiri. Jelas, sebagian akan menjadi kuat (serakah) dan akan memiliki kenikmatan yang banyak sedangkan sebagian yang lain adalah lemah dan berada dalam kemiskinan. Masyarakat akhirnya nampak dalam dua bentuk yakni manusia yang berada level atas dan yang berada pada level bawah atau dalam bahasa Karl Marx masyarakat borjuis dan Proletar.

Perbudakan atas manusia yang satu terhadap manusia yang lain menjadi sebuah tontonan dalam masyarakat seperti ini. Maka, konflik atau perselisihan akan muncul dalam masyarakat yang selalu terulang sepanjang sejarah. Namun pada konteks masyarakat dimana perbudakan, perampasan hak-hak atas kaum yang lemah oleh yang kuat dalam sejarah manusia merupakan penyebab perselisihan di sana selalu pula muncul manusia-manusia pilihan (nabi) yang semestinya menjadi pelajaran bagi kita semua. Muthahhari mengurai dari sudut pandang tujuan kenabian bahwa, nabi adalah dualis dengan kata lain tujuan nabi ada dua. Yang pertama menyangkut kehidupan akhirat bagaimana manusia mengalami kesuksesan di akhirat yang kedua menyangkut kesuksesan di dunia (Tauhid sosial) guna mewujudkan kesejahteraan ummat manusia di dunia ini dan ini merupakan tujuan pokok kenabian karena melalui jalan inilah manusia dapat mendekat disisi Tuhan.

Para nabi dengan aplikasi Tauhid menjadi Tauhid sosial tampil sebagai pembebas terhadap mereka yang terampas haknya. Mereka (manusia Pilihan/Para Nabi) memasukkan kebahagiaan dalam hati orang-orang yang tertindas, menghibur mereka dengan mengajak untuk berani berkata “Tidak” kepada penidasan yang mereka alami dan berupaya memberikan kesadaran kepada penindas dengan perlawanan agar sadar akan perbuatannya sebagai penindas. Jadi bentuk pembebasan para nabi tidak hanya membebaskan kaum tertindas akan tetapi juga membebaskan para penindas. Tertindas dibebaskan dari ketertindasannya sedangkan para penindas dibebaskan dari sikap penindasnya.

Kenabian Terakhir

Pada pembahasan ini saya ingin mengutip Al-Quran terkait dengan kenabian terakhir:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Khatamun nabiyyin atau penutup para nabi disini perlu untuk diurai. Sungguh kita akan mempertanyakan keadilan Tuhan jikalau di masa-masa sebelumnya saja ada nabi. Pada dasarnya semua manusia memiliki potensi kenabian sehingga siapaun bisa menjadi nabi. Untuk lebih memudah memahami kenabian itu terbagi menjadi dua. Yang pertama nabi sebagai utusan serta pembawa berita yakni nabi yang telah ditunjuk oleh Tuhan (Kenabian Tablig). Yang kedua adalah nabi sebagai derajat ketaqwaan, kemuliaan, kedekatan dengan Tuhan (Kedudukan Spiritual).

Nabi sebagai tablig pada dasarnya inilah kenabian yang berakhir yang dimaksud khatamun Nabiyyin (penutup para nabi dan rasul) akan tetapi kenabian sebagai kedudukan spiritual tidak akan pernah berakhir. Penyebab keberakhiran kenabian tablig salah satunya dalah karena perkembangan inteletual-rasional manusia pada zaman ini mencapai kesempurnaan disbanding pada masa sebelumnya.

Keberakhiran kenabian tablig meniscayakan keberakhiran risalah (wahyu) jadi setelah Rasulullah tidak ada lagi nabi dan rasul yang membawa syariat akan tetapi penyebar risalah kenabian tetap akan ada namun penyebar risalah kenabian ini harus memiliki derajat seperti derajat kenabian guna ajaran yang dibawa oleh nabi tidak mengalami sebuah distorsi. Mengenai hal ini selanjutnya akan dibahas dalam pembahasan kepimpinan karena ini terkait siapa sepantasnya menjadi pelanjut Rasulullah SAAW untuk memimpin ummat islam. Dan karakter apa yang mesti dimiliki sebagai kategori pelanjut Rasulullah sebagai pemimpin keagamaan (spiritual) dan pemimpin sosial.

Pemimpin (Imam) dalam Definisi

Pemimpin (Imam) berarti orang didepan, kata “Imam”(Pemimpin) dalam Al-Quran memiliki arti kesucian hidup. Imam adalah orang yang punya pengikut. Dalam pembahasan kepimimpinan atau (Imamah) terjadi pula perbedaan pendapat. Keduanya sama-sama mengakui mestinya ada pemimpin setelah sepeninggal Rasulullah SAW. Namun perbedaan keduanya terletak pada cara pandang terhadap pemimpin. Pendapat yang satu mengatakan bahwa pemimpin dalam islam di tentukan oleh ummat (musyawarah) sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa kepemimpinan dalam Islam haruslah berdasarkan titah dari Tuhan atau yang ditunjuk oleh Tuhan dan dipertegas melalui nabinya.

Argumentasi bahwa kepimpinan sepeninggal Rasulullah dipilih oleh ummat karena pada dasarnya bahwa Tuhan dan Rasulullah tidak mentitahkan atau menunjuk langsung pemimpin. Jadi yang mengambil peran penting dalam pemilihan pemimpin adalah ummat. Maka, dapat dilihat setelah Rasulullah wafat jika kita membaca sejarah maka pemilihan kepimpinan ada di tangan ummat.

Kemestian Hadirnya Pemimpin

“Kami tunjuk sebagai imam yang memberikan panduan dengan izin kami” (QS. al- Anbiya; 73)

Berakhirnya kenabian akan mempersulit manusia selanjutnya untuk menuju Tuhan. Al-Quran dan hadist serta agama dengan syariat telah turunkanya sebagai penuntun. Al-Quran dan Hadis sebagai petunjuk tentunya tidak cukup karena kita manusia biasa mengalami keterbatasan dalam memahami Al-Quran dan hadist sebagaimana Al-Quran dan hadist itu sendiri jikalau tidak memiliki pemandu untuk memahaminya. Kemestian kehadiran kepimpinan dalam hal ini pemimpin agama dan sosial adalah guna untuk menuntun manusia untuk memahami Al-Quran dan hadist serta agama yang otentik.

Ciri Pemimpin

Ciri atau karateristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tentunya tidak jauh beda dengan karakteristik nabi hal ini tidak terlepas dari posisi pemimpin sebagai penerus kenabiaan. Pemimpin sebagai penerus kenabian yang bertugas untuk memandu manusia menuju Tuhan serta membangun masyarakat agar mampu mencapai tara hidup yang sejahterah. Sebagai pemandu keagamaan sepeninggal Rasulullah tentunya pemimpin tersebut memiliki kemampuan untuk menjelaskan Agama sebagaimana Rasulullah menjelaskan Agama. Pemimpin haruslah pula terjaga dan terbebas dari dosa dan kesalahan (Manusia Sempurna) ini tidak terlepas dari kesempurnaan agama. Bukankah agama itu sempurna? Kesempurnaan Agama memestikan pula untuk ditafsirkan oleh manusia sempurna guna menghindari dari kesalahan dalam mengajarkan Agama.

Tujuan Kepemimpinan

Pembahasan ini saya akan mengutip Hegel seorang filosof Idealis yang berasal dari Jerman. Dia berkata demikian “Sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah” . Sejarah manusia terus berulang dari kesalahan manusia. Namun disisi lain dari sejarah yang terus berulang dengan pola-pola yang berbeda akan tetapi prosesnya tetap meenggambarkan perilaku kesalahan manusia, Tuhan selalu mengutus dari kalam manusia sendiri menjadi wakilnya untuk memberikan peringatan dari kesalahan-kesalahan itu.

Pemerasan dan penindasan masih terus berlanjut sepeninggal Rasulullah maka dalam kondisi seperti ini peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan. Membebaskan manusia dari perbudakan manusia atas manusia yang lain itulah salah satu tugas dari seorang pemimpin. Disisi lain tugas kemimpinan adalah mengangkat menuju kedekatan dengan Tuhan. Pada hakikatnya tujuan kepemimpinan adalah melanjutkan tujuan kenabiaan.

Sumber Bacaan:

Dr. Ali Shariati: Tugas Cendikawan Muslim, Rajawali; 1984

Pemimpin Mustadh’afin, Muthahhari Paperbacks; 2001

Ideologi Kaum Intelektual, Mizan; 1993

Murthada Muthahhari; Manusia dan Alam Semesta, Lentera; 2002

Falsafa Kenabian, Pustaka Hidaya; 1991

Kenabian Terakhir, Lentera; 2001

Michel chodkiewicz: Konsep Ib’nu Arabi Tentang Kenabian dan Aulia. Srigungting; 2002





Senin, 18 Oktober 2010

Baca Ulang Filsafat Islam: Sebuah Pengantar

“Kehidupan yang tiada pernah diteraju dengan akal, tidak akan memiliki nilai hayati”-Sokrates-

Membaca ulang filsafat islam, tentu memerlukan penalaran di dalamnya, namun dari manakah kita harus memulainya? Itu terserah Anda! Tapi paling tidak tawaran tulisan berikut ini dapat dijadikan pengantar yang bisa memberikan sontakan kognitif untuk membaca kembali keberadaan filsafat islam. Karena itu wajar saja jika saya bertanya kembali, apakah mungkin filsafat dapat bersandingan mesra dengan agama (islam)? Munginkah filsafat islam itu dapat terwujud? Jika mungkin, adakah kita sekarang memiliki filsafat islam?

---------------------------------------

Kata Plato, suluk filosofis dimulakan dengan laku heran dan takjub, suatu laku ketercengangan dihadapan kenyataan yang hanya menyisakan setakhingga soalan. Namun ketakjuban itu bukan lantas menenggelamkan manusia dalam seru terperananya, tapi justru membakar hasrat keingintahuan manusia untuk menembus rahasia realitas yang meliputinya, misteri tentang hakikat dirinya, mencari tahu akan keberlanjutan hidupnya nanti, dan menyingkap makna di setiap ayat keberadaan.

Selaku makhluk rasional yang memiliki ikhtiar dan kehendak; karuan saja manusia tak akan sanggup tinggal diam dalam kubang kejahilan. Ada kalanya ia berlari mencari jawaban pelbagai soalan asasi itu pada tuturan orang-orang terdahulu, lalu ia pasrah begitu saja dengan pesan mitologis yang diwariskan tradisi kaumnya; jika tak puas ia pun mencari-cari disela-sela lembaran kitab suci, andaikan ia tak larat pula dengan tuntutan iman-religi yang dikehendaki oleh doktrin kitab suci, mungkin saja ia akan berlari ke pelbagai teorema saintis dan beragam simpulan pengalaman empiris; kalaupun kemudian ia teguh dengan iman religinya, namun tak tahan dengan keringnya sakramen syariat, bisa jadi ia akan berupaya menyibak batin agama, dan mengembara di jalan sufistik sembari mencari makna hidup dari penyaksian irfani. Tapi, terkadang ada pula yang kembali pada kedalaman dirinya, dan berupaya menemukan jawaban seluruh soalan hidup secara filosofis dengan berpegang teguh pada daya rasional yang menjadi jatidiri insaniahnya. Tegasnya, ada banyak jalan yang bisa dipilih dan ditempuh manusia untuk menyikapi realitas dan keberadaan disekelilingnya.

Maka filsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas-burhani sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Ia adalah kerangka interpretatif yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, agama pun memaknai realitas dengan ajaran wahyuninya, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, bahkan pada beberapa pembacaan atas agama, dimensi akliah manusia malah kudu dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.

Kehadiran Islam sebagai agama yang menkhotbahkan janji keselamatan dan kebahagiaan abadi turut pula menyuguhkan pandangan dunia yang mampu memaknai ayat-ayat eksistensial. Meski demikian, mengingat bahwa hakikat agama tersebut menjelma ke dalam beragam tingkatan fenomenal dan gatra, maka tidak semua manusia mampu menyingkap pasal-pasal penting kandungan agama dan pandangan-dunia yang ditawarkannya. Ada pelbagai piranti lunak yang diperlukan untuk menyingkap semua itu. dan sekedar berpegang pada iman, niscaya tidak akan mencukupi untuk mengupayakan hal itu.

Maka, untuk sekian kalinya, fakultas akli manusia sebagai jauhar (substansi) filsafat harus tetap diberdayakan sekalipun dalam pelataran iman religi. Sehingga, pada noktah inilah, peran filsafat kian diperlukan oleh seorang mukmin. Tapi, apakah mungkin filsafat yang berjiwakan kebebasan berpikir rasional, bisa bersandingan mesra dengan agama (baca: Islam) yang notabenenya bercirikan penghambaan imani? Bukankah keunikan argumentasi falsafi dibangun berdasarkan premis swabukti akal (badihiyyat), sementara agama bersandarkan pada mukaddimah yang dinukil dari matan-matan suci dan proposisi wahyu? Apakah mungkin identitas kemurnian filsafat dan kesejatian agama (islam) dapat tetap terjaga ketika keduanya saling bersinergi dalam ranah yang sama? Bisakah keduanya berpadu harmonis? Simpul kata, mungkinkah filsafat islam itu? jikalau mungkin,adakahfilsafatislamtersebut?FilsafatIslam:Mungkinkah?

Terlepas apakah dalam alur sejarah pemikiran, kita bisa temukan filsafat islam ataukah tidak, adalah soalan lain yang perlu kita baca ulang juga. Namun jika kita lebih jeli, pertanyaan sub-judul di atas jauh lebih urgen untuk kita telisik terlebih dahulu, dengan artian bahwa apakah mengawinkan filsafat dengan islam adalah suatu perkara yang mungkin?Sejatinya, tilikan atas soalan di atas akan bergantung dengan sejauhmana pandangan kita terhadap hubungan antara akal dengan agama. Dan hal inipun akan bergantung pula dengan pembacaan kita atas akal dan agama.

Karena itu, layak adanya jika kita tegaskan terlebih dahulu apa pengertian akal dan agama yang termaksud di sini? Dan bagaimanakah hubungan antara keduanya itu?Sebagai praanggap awal, akal yang saya maskud adalah daya kognitif manusia yang berfungsi sebagai kekuatan bernalar (akal teoritis) dan bertindak (akal praktis) baik dalam mencerap dan meneguhkan “ada” dan “tiadanya” sebuah realitas; atau juga dalam memutuskan “harus” dan “tidak harusnya” suatu tindakan etis. Dengan pengertian semacam ini, tentu saja hal ini akan menjadikan filsafat sebagai kelaziman dari hasil pemberdayaan akal yang demikian itu. Karenanya, filsafat menjadi begitu identik dengan akal. Sehingga untuk selanjutnya, apa yang termaksudkan sebagai hubungan antara akal dan agama tak lain merupakan hubungan antara filsafat dengan agama (islam), mengingat bahwa filsafat dalam artian ontologisnya adalah sehimpun kajian tentang “ada sebagaimana adanya” yang dihasilkan dari argumentasi rasional-burhani.

Lalu apa yang dimaksud dengan agama? Sudah barang tentu, ada banyak riwayat dan pembacaan yang bisa kita ajukan di sini dalam mendefinisikan agama. Namun sebagai mukaddimah, saya lebih memilih untuk memahami agama selaku segugus ajaran dan nilai (akidah, akhlak, dan fikih) yang berasal dari Tuhan dan disampaikan melalui utusanNya sebagai pedoman dan panduan hidup untuk mencapai kebahagiaan abadi.

Bersandar pada definisi dan kelaziman yang dimiliki oleh akal (filsafat) dan agama, secara zahir—dengan keunikan yang dimiliki masing-masing—kiranya tak mungkin untuk memadukan filsafat dan agama. Satu sisi, filsafat menghendaki kebebasan berpikir secara rasional, namun di sisi lain, agama justru menuntut keimanan tanpa syarat. Akan tetapi, jika kita sudi untuk menelisik lebih jauh ke dalam batin filsafat dan agama. Terungkap jelas bahwa filsafat dan agama merupakan satu hakikat yang terjelmakan dalam dua gatra dan bahasa yang berbeda, keduanya berasal dari sumber yang sama, dan mengarah pada hala-tuju yang satu pula.Maka, betapapun agama telah berkelindan dengan ketulusan iman, namun iman yang sejati adalah makrifat tentang hakikat realitas yang berbalut dengan kehangatan cinta religik. Iman agama bukan sekedar keyakinan buta atas doktrin kitab suci. Seorang mukmin yang sejati, akan berupaya memilah dan menguji-kaji pelbagai sabda yang didakwahkan sebagai wahyu hakiki dengan perangkat akalnya. Bahkan dalam larik-larik matan suci, ada banyak ayat yang menegaskan proposisi filosofis tentang hakikat realitas. Ayat-ayat semacam itu tidak cukup sekedar dilafalkan, tapi kudu diuji kesahihannya dengan neraca akal. Sehingga bukti bahwa agama dapat mengantarkan manusia pada kebahagiaan abadi bisa lebih termantapkan lagi di lubuk iman seorang agamis. Karena apa yang disabdakan oleh agama tak lain adalah kalimat hakikat yang meriwayatkan esensi kenyataan.

Itu sebabnya, jika agama dalam pasal-pasal pokok sistem akidahnya, menuturkan tentang Tuhan sebagai sumber keberadaan, menjelaskan tentang hakikat ma’ad, menceritakan tentang hakikat diri manusia dan keberlanjutan perjalanan eksistensial yang harus ditempuhnya. Maka demikian pula dengan filsafat, ia juga mengkaji persoalan Tuhan sebagai wujud-niscaya (wajibul- wujud), menerangkan tentang hakikat manusia, menjelaskan tentang akhir dunia (ma’ad), dan beragam bahasan filosofis sekitar persoalan umum hakikat keberadaan.

Oleh karena itu, mengingat bahwa filsafat dan agama pada beberapa aspeknya, memiliki ranah perhatian yang sama. Maka, terjalinnya suatu hubungan di antara keduanya pada aspek-aspek tersebut bisa dimungkinkan. Kendati begitu, andaikan hubungan itu dapat terjalin, mungkinkah kesejatian identitas filsafat masih dapat terjaga? Kalaulah identitas filsafat itu masih murni, lantas apa yang dimaksud dengan keislaman filsafat itu? Dengan kata lain, apa sih yang dimaksud dengan filsafat islam?

Tak syak, ketika antara filsafat dan agama terjalin suatu hubungan, maka kesejatian filsafat hanya akan murni terjaga jika wahyu tidak diperkenankan sama sekali untuk turut campur dalam pembuktian rasional filsafat, karena jauhar filsafat adalah rasionalitas semata. Jika demikian, lantas dimanakah letak keislaman filsafat itu sementara pada titik yang sama identitas filsafat harus tetap dipertahankan?

Secara singkat ada empat noktah yang bisa kita ajukan sebagai mizan yang bisa kita gunakan untuk menimbang sejauhmana keislaman sebuah sistem filsafat: Pertama, kemanakah arah kajian filsafat digerakkan? Adakah ia mengarah pada tauhid ataukah tidak? Perkara ini dapat diselidiki dengan menilik pelbagai permasalahan pokok yang terpaparkan dalam sebuah sistem filsafat.

Kedua, mengingat bahwa dipadukannya filsafat dengan agama, besar kemungkinan karena adanya motif teologis dan apologia, maka kefilsafatan sebuah filsafat agamis, tidak cukup dinafikan karena muatan apologetik-nya, namun identitas filsafatnya itu harus diukur dari sejaumana rasionalitas pembelaan teologis yang diungkapkan oleh filsafat agamis tersebut. Karenaya, selama pembelaan teologisnya itu rasioanal dan dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis, maka ia tetap layak untuk disebut sebagai filsafat.

Ketiga, sejauhmana keterkaitan psikologis antara argumentasi rasional yang dibangun dengan isyarat ontologis matan-matan suci? Mampukah ayat-ayat kitab suci menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya sebuah argumen filosofis yang kokoh?

Keempat, sejauhmana peran agama sebagai neraca dalam menakar kesahihan simpulan-simpulan falsafi yang dihasilkan ketika ditengarai bahwa akal tidak lagi sanggup bergerak pada wilayah di luar jangkauan akal?Semua tolak ukur di atas, merupakan beberapa parameter penting untuk mengetahui sejauhmana keagamisan dan keislaman sebuah bangunan filsafat.

Karenanya, ketika kita hendak menegaskan layak tidaknya sebuah sistem filsafat untuk disebut sebagai filsafat islam, maka kita harus kembali pada ruang sejarah filsafat sembari mengukurnya dengan keempat mizan di atas. Sehingga kemudian, kita patut untuk bertanya kembali, apakah filsafat islam itu benar-benar ada ataukah tidak?

Filsafat Islam: Adakah?

Boleh jadi bagi mereka yang telah akrab dengan alif-ba filsafat islam, sub-judul di atas akan terkesan karikatural ketika di saat yang sama mereka saksikan tumpukan ratusan jilid buku-buku dan risalah filsafat yang ditulis oleh para filosof muslim. Bahkan bisa jadi, istilah filsafat islam itu sudah menjadi istilah baku oleh sebagian dari kita yang telah ditelan mentah-mentah sebagai postulat tanpa peduli dengan selaksa persoalan yang menjangkitinya. Kalaulah dikatakan bahwa filsafat islam itu berajektifkan islam karena para pelakunya adalah seorang muslim, tidakkah lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai filsafat muslim? Bukankah antara agama dan pemeluknya adalah dua hal yang berbeda? Tidakkah filsafat adalah filsafat, yang tidak mengenal sama sekali ajektif geografis, ideologis maupun embel-embel lainnya? Lantas bagaiamana mungkin kita menyebutnya sebagai filsafat islam?

Ya... betapapun secara ideal, esensi filsafat tidak bisa dinisbatkan dengan ajektif tertentu. Namun, ketika filsafat telah berhadapan dengan realita sejarah, hal yang demikian itu akan sangat sulit untuk bisa kita pertahankan. Sebab, dalam ruang sejarah ada banyak variabel kultural yang saling tumpang-tindih dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Sehingga serasa mustahil sebuah unsur budaya dapat berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh unsur yang lain.

Begitu halnya dengan nasib filsafat dalam sejarah, identitas suatu bangunan filsafat tidak mungkin hanya dilandaskan pada kemurnian rasionalitas yang menjadi jauharnya. Rasionalitas hanyalah merupakan syarat lazim bagi filsafat dan bukan syarat yang mencukupi, dengan artian bahwa kendati rasionalitas adalah ruh filsafat, namun ruh tersebut harus ditubuhkan ke dalam pelbagai unsur kultural di luar filsafat. Peran agama, keunikan budaya lokal, karakter bahasa, dan perkembangan sains adalah beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi bagaimana identitas filsafat diarahkan.

Karena itu, Ada banyak faktor lain yang menentukan sehingga identitas filsafat dapat terwujud dalam ruang sejarah. Maka sah-sah saja bila kita sebut filsafat Barat, filsafat Timur, filsafat Kristen, filsafat Islam, dsb. Lantaran memang, beragam ajektif tersebut telah mampu menentukan bagaimana format dan arah filsafat tumbuh dan berkembang dalam buaiannya.Jika demikian, adakah filsafat islam itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, selain memerlukan telaah sejarah, diperlukan juga mizan argumentatif untuk menentukan keislaman sebuah bangunan filsafat dalam sejarah perkembangannya. Yang jelas, empat tolak ukur utama di atas, setidaknya bisa dijadikan mizan untuk menjawab pertanyaan tadi.Dari beragam pandangan yang sempat bermunculan, sebagian menyatakan bahwa filsafat islam tak lain hanyalah perpanjangan tangan dari filsafat yunani, sebuah wajah lain dari filsafat neo-platonis, lantas ada pula yang secara total menafikan identitas filsafat yang dikandungnya dan sekedar menyebutnya sebagai teologi murni (kalam), tapi anehnya, ada juga yang secara lapang dada menerima filsafat dengan beragam ajektifnya, namun tidak untuk filsafat islam, mereka malah menolak mentah-mentah label islam pada filsafat. Sekali lagi, adakah filsafat islam itu?

Dalam tradisi filsafat di dunia islam, adalah jelas bahwa, tesis Kindi yang mencoba mendamaikan filsafat dengan agama, upaya Farabi dalam membuktikan bahwa filsafat dan agama adalah hakikat yang satu namun terjelmakan dalam dua bahasa yang berbeda, usaha gigih Ibnu Sina dan filosof muslim lainnya dalam membuktikan wajibul-wujud melalui pelbagai versi “burhan siddiqin-nya”, hingga lantas berpuncak pada juang keras Mulla Shadra dalam mengharmonisasikan burhan (filsafat), Quran (agama) dan irfan; merupakan beberapa indikator utama akan nuansa keislaman yang dikuaskan islam pada filsafat, sehingga kesan kuat keyunanian yang melatarinya telah luntur dengan ruh monoteisme yang ditiupkan para filosof muslim dalam karya-karya luhur falsafinya. Malahan, pada ruang ontologis filsafat islam, tauhid senantiasa menjadi aksis utama kajiannya, sedang pada ruang antropologi-falsafinya, humanisme Yunani telah dibongkar sedemikian rupa sehingga humanisme ala filsafat islam adalah memandang manusia sebagai khalifah Tuhan. Itu berarti, keberadaan tauhid sebagai ruh islam telah begitu terjiwakan dalam filsafat islam. Maka tak aneh jika Anda berkenan untuk membaca ulang larik-larik filsafat islam, penyaksian atas wujud filsafat islam akan semakin tampak Anda pirsa, karena itu coba saja Anda tengok bahasan Tuhan dalam filsafat Aristoteles, niscaya Anda hanya akan menjumpainya tak lebih dari empat halaman, itupun sekedar dikenang sebagai “penggerak utama” atau “penggerak tanpa tergerak” yang tak lain cuman aktualitas murni belaka. Tapi, coba bandingkan dengan Ibnu Sina sambil membuka lembaran-lembaran “Ilahiyyat as-Syifa” karya beliau, terdapat seratus halaman lebih yang mengkaji Tuhan sebagai “wajib bil-dzat”, belum lagi jika Anda menelaah karya agung Mulla Shadra dalam “Asfar Arba’ahnya”, lebih dari seperempat kitab hanya terfokus dalam kajian ketuhanan. Selain bahasan teologi tadi, kajian penting lainnya yang sarat akan nuansa islam seperti: “ma’ad jismani dan ma’ad ruhani”, “khudusul-dzati dunia” (keterbaruan substansial dunia), hakikat ruh manusia, pembuktian nubuwwat, dsb, adalah beberapa topik kajian yang cukup membuktikan betapa islam telah mampu mewarnai bangunan filsafat yang tumbuh dalam asuhannya, tanpa harus melunturkan kemurnian rasionalitas sebagai jatidiri filsafat.

Simpul kata, mengingat bahwa Islam adalah agama yang sejiwa dengan fitrah rasional manusia, maka dengan mudah diduga, bahwa islam akan dengan mudah pula tumbuh bersanding secara mesra dengan tradisi filsafat yang menyertainya. Karena itu, mewujudkan filsafat islam secara ideal bukanlah hal yang mustahil, begitu juga pada dataran realnya, setidaknya catatan sejarah merupakan bukti paling dekat untuk membuktikan keberadaan filsafat islam yang telah tertubuhkan dalam ratusan jilid kitab dan risalah filsafat para filosof muslim.



Seri Kajian Filsafat Mazhab Frankfurt (1)


Teruntuk Para Penggiat Filsafat di Yayasan LDSi Al-Muntazhar Makassar

A. Mukaddimah

Salah satu perubahan terbesar yang ditimbulkan oleh perang dunia pertama adalah bergesernya gravitasi sosialis (Marxis) ke arah Eropa Timur khususnya Rusia (Uni Sovyet). Ide-ide Marxisme yang kritis tiba-tiba terabsolutisasi menjadi sebuah ideologi maenstreem dan menjelma dalam bentuk suatu negara besar yang bernama Uni Sovyet. Fenomena ini memantik keresahan bagi kalangan Marxian Jerman yang tetap berusaha memelihara spirit kritis dari pemikiran Marx. Marx dengan tegas mengatakan bahwa ideologi adalah bentuk kesadaran palsu yang disebabkan pemutarbalikan informasi tentang realitas sosial yang dilakukan oleh kalangan borjuasi. Namun, oleh Lenin dan Stalin ide-ide kritis Marxis pun dipeleintir menjadi ideologi yang berujung pada despotisme dalam bentuk sebuah negara.

Dilema lain dari pemikir kritis adalah metamorfosa dari positivisme dalam bentuk positivisme logis yang dikembangkan oleh kalangan pemikir lingkar Wina yang makin mereduksi pengetahuan menjadi sebatas sekumpulan proposisi tentang fakta-fakta keras yang semakin menegaskan kesadaran mekanistik yang mengalienasi. Borjuasi modern yang makin menggeliat justru melenceng jauh dari spirit awalnya sebagai proyek pembebasan amnusia dari mitologi dan dogam. Proyek pencerahan aufklarung lewat rasionalisasi di segala bidang telah gagal mengantarkan manusia untuk terbebas dari allienasi. Justru yang ditangkap oleh para pemikir kritis adalah rasionalisme telah menjadi mitos baru.

Ditengah himpitan dilema antara ortodoksi Marxian yang memunculkan ideologi komunis yang justru dehumanis dan keangkuhan modernisme dengan mendewakan nalar positivisme. Beberapa pemikir kritis yang diawali dari sebuah gerakan intelektual kalangan Marxian kritis di Jerman pun mendirikan sebuah institut sosial yang bertempat di Universitas Frankfurt pada tahun 1923. Institut ini pun kelak menjadi besar dan melahirkan banyak tokoh pemikir

B. Sejarah Mazhab Frankfurt

Mazhab Frankfurt adalah gerakan intelektual yang dilakukan secara multidisipliner oleh sekelompok intelektual Jerman yang memusatkan kegiatan mereka di kota Frankfurt. Pada tahun 1923, para intelektual Jerman tersebut mendirikan sebuah institut sosial (institut fur Socialforschung). Sebuah lembaga otonom yang bertempat di Universitas Frankfurt. Kebanyakan anggotanya bersimpati pada Marxisme dan banyak juga yang menjadi anggota Partai Komunis Jerman, sehingga oleh para mahasiswanya institut tersebut dijuluki sebagai Cafe Marx. Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) merupakan institut yang terdiri dari intelektual multidisiplin, dari teologi sampai filsafat. Meskipun sangat multidimensional, penggiat mazhab Frankfurt mempunyai semangat intelektual yang sama. Yakni mengangkat kembali ttradisi kritis yang sudah mulai memudar sejak pelembagaan Marxisme dalam negara komunis Uni Sovyet.

Mazhab Frankfurt juga hadir sebagai reaksi atas kelompok lingkar Wina (Winner Kreis) yang penngaruhnya sangat luar biasa dalam dunia ilmu pengetahuan dan filsafat sampai akhir dekade 1960-an. Lingkar Wina merupakan kelompok pemikir neo-positivisme yang menafsir ulang dan mengembangkan teori positivisme sebagai basis pandangan ilmiah hingga pada ranah bahasa. Keberadaan lingkar Wina sebagai metamorfosa positivisme dianggap sebagai ancaman tersendiri bagi kesadaran kritis manusia yang telah gagal dipertahankan oleh proyek aufklarung.

Institut ini didirikan oleh Felix J. Weil pada 3 Februari 1923, atas biaya Herman Weil, seorang pengusaha besar yang bergerak di bidang penjualan grosir gandum. Meski seorang kapitalis besar di zamannya, Herman Weil pada akhir hayatnya untuk mengurangi penderitaan di dunia. Lewat sebuah surat wasiatnya, ia menghibahkan sejumlah besar hartanya untuk mendirikan sebuah institut yang harus meneliti tentang sumber penderitaan umat manusia. Walhasil jadilah ia sebagai penyandang dana utama mazhab Frankfurt yang concern pada teori-teori kritis yang selalu melontarkan kritikan terhadap dua bangunan ideologi besar yang diyakini sebagai sumber penderitaan umat manusia di abad 20, yaitu komunisme dan kapitalisme.

Selanjutnya, secara ringkas perkembangan mazhab Frankfurt dapat dibagi menjadi empat periode:

  1. 1923-1933, masa formasi awal mazhab Frankfurt, pada masa ini studi-studi yang dilakukan masih menunjukkan karakter empirik. Pada masa ini, mazhab Frankfurt di pimpin oleh seorang ekonom dan sejarahwan ternama, Carl Gurenberg.
  2. 1933-1950. Masa ini merupakan periode pengasingan di Amerika Serikat akibat dari rezim Nazi. Di bawah pimpinan Max Horkhaimer, Mazhab Frankfurt berorientasi pada teori kritis neo-Hegelian.
  3. 1950-1970, di saat ini para pemikir mazhab Frankfurt kembali dari pengasingan dan mereka sangat mempengaruhi pemikiran di Jerman dalam periode ini mazhab Frankfurt memunculkan gerakan new left yang dianut oleh mahasiswa radikal.
  4. 1970-sekarang, pengaruh mazhab Frankfurt mulai menurun, terutama setelah keretakan mereka dengan mahasiswa-mahasiswa yang mengingnkan perubahan secara radikal dan total. Kebuntuan intelektual akibat dominasi sistem yang amat total juga menyebabkan penurunan itu. Jurgen Habermas, tokoh dari generasi kedua mazhab Frankfurt, mencoba mengatasi kebuntuan intelektual dengan paradigma komunikasinya.

Adapun tokoh-tokoh yang menjadi penggiat utama dalam membidani pemikiran-pemikiran kritis mazhab Frankfurt adalah Carl Gurenberg, Max Horkhaimer, Theodore Adorno, dan Herbert Marcuse dari generasi pertama serta Erich Fromm dan Jurgen Habermas dari geenrasi kedua.

C. Basis Epistemologis Pemikiran Teori Kritis

Mazhab Frankfurt menjadi terkenal karena anggota-anggotanya sangat getol melontarkan kritik-kritik tajam terutama terhadap ideologi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Kritik yang paling tajam dari mazhab Frankfurt adalah pada proyek pencerahan (auflarung) yang gagal total dalam suatu paradoks antropologis. Itulah sebabnya, mazhab Frankfurt dikenal dengan gagasan-gagasannya mengenai teori kritis yang selalu menyerang apa saja yang dianggap mematikan kesadaran kritis manusia.

Pemikiran yang dipraktekkan oleh mazhab Frankfurt dikenal sebagai teori kritis. Kalau kita ingin menentukan kedudukan teori kritis dalam rangkai sejarah filsafat, maka sangat terkait dengen tiga pemikir yang banyak menginspirasi pemikiran teori kritis, yaitu Hegel, Marx, dan Freud. Teori kritis yang mereka kembangkan adalah perpaduan yang apik antara pemikiran Hegel, Marx, dan psikoanalisa Freud. Ketiga pemikiran kritis tersebut memahami kata kritik secara berbeda. Hegel memahami kritik sebagai refleksi atau refleksi diri atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan kontradiksi-kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri dan rasio dalam sejarah. Marx sebagai seorang Hegelian kiri, memahami kritik sebagai usaha-usaha emansipatoris dan pencerahan dari alienasi yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan dalam amsyarakat. Sedangkan Freud memahami kritik sebagai pembebasan individu dari irrasionalitas menjadi rasionalitas dan ketaksadaran menjadi kesadaran. Dan teori kritis mazhab Frankfurt mengembangkan dan memadukan ketiga makna terma “kritik” sebagai bangunan pemikiran yang terus dinamis dan bergerak menghantam sistem-sistem pemikiran dan sosial yang menggerus kesadaran kritis manusia.

Inti dari teori kritis adalah kebencian terhadap sistem filosofis yang tertutup. Teori kritis sebagaimana namanya diekspresikan melalui

serangkaian kritik terhadap pemikir dan tradisi-tradisi filsafat lain dengan karakter dialektis sebagaimana metode yang ingin diterapkan kepada fenomena sosial. Teori kritis bukan sekedar kontemplasi pasif prinsip-prinsip objektif realitas, melainkan bersifat emansipatoris (membebaskan). Teori yang emansipatoris menurut mereka haruslah memenuhi tiga syarat:

  1. Bersikap kritis dan curiga pada zamannya, seperti yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka, Karl Marx terhadap kapitalisme.
  2. Berpikir secara historis, berpijak pada masyarakatnya dalm prosesnya yang historis.
  3. Tidak memisahkan teori dan praktek dan tidak melepaskan fakta-fakta dari nilai semata-mata untuk mendapatkan ahsil yang objektif.

Teori kritis selalu menolak untuk terjebak menjadi teori tradisional. Para pemikir Frankfurt berusaha membedakan teori kritis mereka yang emansipatoris dengan teori tradisional yang afirmatif dan pro status quo (anti perubahan). Teori tradisional dipahami sebagai perumusan prinsip-prinsip umum dan final dalam melukiskan dan menafsirkan kenyataan. Teori tradisional memisahkan fakta dan nilai dan berusaha menetapkan hukum-hukum objektif tentang realitas. Teori tradisional bersifat afirmatif dan informatif terhadap kenyataan yang ada. Sedangkan teori kritis tidak berurusan dengan hukum-hukum objektif, prinsip-prinsip umum, melainkan usaha penyadaran manusia dari irrasionalisme yang melekat pada objek pencerahan.

Seri Kajian Filsafat Mazhab Frankfurt (2) Karya Sabara Putra Borneo

Teruntuk Para Penggiat Filsafat di Yayasan LDSi Al-Muntazhar Makassar

D. Teori Kritis Mazhab frankfurt

1. Kritik Ideologi

Teori kritis sebagai kritik ideologi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang ideologi. Marx memahami ideologi sebagai sistem kepercayaan, presuposisi, atau sentimen yang terkait dengan persepsi sesat tentang realitas. Marx mengajukan teorinya sebagai sarana untuk membongkar kebobrokan ideologi kapitalisme dibalik klaim rasionalitas. Spirit kritik ideologi oleh Marx ini diwarisi oleh para pemikir mazhab Frankfurt yang klimaksnya pada pemikiran Jurgen Habermas. Tapi sekalipun terinspirasi dari Marx, bukan berarti Habermas tidak mengkritik Marx. Habermas mengatakan bahwa Marxisme telah gagal sejak Marx mendehumanisasi teorinya menjadi sebuah sains. Bahkan Marx akhirnya terjebak pada positivisme yang reduksionis. Bahkan menurut Louis Althusser dalam pemikiran Marx telah terjadi epistemological break antara pemikiran Marx muda yang humanistik dan Marx tua yang deterministik-saintifik. Bahkan Erich Fromm yang juga salah seorang eksponen mazhab Frankfurt mengemukakan tiga kesalahan Marx yang paling fatal. Yaitu, Marx mengesampingkan faktor moral dalm diri manusia, Marx salah menilai tentang kemungkinan-kemungkinan perwujudan sosialisme, dan penegasan Marx bahwa sosialisasi alar produksi tidak hanya perlu melainkan sudah cukup untuk perubahan masyarakat dari kapitalisme ke sosialisme.

Sebagai kesimpulan, ideologi sebagaimana teori-teori lainnya hanyalah tafsiran manusia terhadap realitas yang kemudian dijadikan tata prilaku yang dilegalisasikan oleh kekuasaan. Padahal sebuah tafsiran atas realitas bukanlah realitas itu sendiri. Tafsiran manusia cenderung membekukan sedang realitas terus bergerak seiring perkembangan zaman. Sebuah teori harus memiliki kekuatan nilai dan kebebasan untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideologi. Sebab sebuah teori harus tetap terbuka pada penafsiran-penafsiran baru supaya tidak menjadi statis. Dan kala sebuah teori menjadi ideologi, maka teori tersebut telah mengalami absolutisasi yang menandaskan akhir dari dinamisasi teori itu sendiri.

Proses pemapanan ideologi yang dibekukan dan dimapankan oleh kekuasaan merupakan sasaran kritik dari pemikir mazhab Frankfurt, terlepas dari ideologi apa pun itu. Ideologi mestinya menjadi proses dialektika di mana proses kritis harus tetap ebrlangsung. Itulah sebabnya, pemikir mazhab Frankfurt sangat menolak tawaran perubahan sosial yang diberikan oleh Marx. Tetapi dengan senantiasa mengkonstruksi fondasi sosial amsyarakat untuk tetap selalu kritis, karena kapan kritissime mati, berarti sifat emansipatoris dari pengetahuan pun ikut mati bersama matinya kritisisme yang diberangus oleh ideologi kekuasaan tersebut. Dengan menggunakan analisis psikoanalisis Freudian sebagai instrumen yang tepat digunakan oleh pemikir mazhab Frankfurt untuk bekerja mengungkap semua kepentingan dan irrasionalitas yang melatarbelakangi suatu ideologi yang berorientasi pada pemenuhan hasrat kuasa.

Analisa pemikir mazhab Frankfurt terhadap fenomena sejarah yang berisikan dominasi tidak melulu didasarkan pada hubungan produksi semata-mata. Melainkan dikembalikan pada dorongan psikologis manusia yakni “kehendak untuk berkuasa”. Olehnya itu, kritik mereka atas masyarakat tidak lagi terbatas pada kritik atas hak milik sebagaimana yang dibuat Marx. Melainkan melampaui itu sampai pada kritik atas pemikiran atau kesadaran yang ada dalam amsyarakat atas rasio itu sendiri.

2. Kritik Terhadap Positivisme

Positivisme merupakan aliran filsafat yang berkembang dengan sangat pervasif pada awal abad 20, yang ditelurkan oleh August Comte pada awal abad 19. Comte mengatakan bahwa di dunia modern ini ilmu pengetahuan, budaya, dan politik tidak bisa lagi didasarkan pada teologi atau metafisika (filsafat). Kehiudpan manusia haruslah berlandas pada ilmu-ilmu positif yang bermetode verifikasi-empiris dan berbahasa logis-sistematis. Positivisme kemudian menjadi model bagi ilmu-ilmu sosial yang memandang bahwa tujuan penelitian adalah untuk merekonstruksi hukum-hukum kausal yang bekerja dalam suatu tatanan masyarakat yang bisa diverifikasi melalui empirical test.

Paradigma positivisme yang dipakai oleh ilmu-ilmu sosial telah membutakan para ilmuwan sosial bahwa prilaku manusia tidak bisa sekadar dipandangs ebagai manifestasi suatu tata kausalitas. Prilaku manusia lebih menampilkan simbol yang berarti terdapat makna yang mendasarinya. Upaya emansipasi hanya berhasil apabila suatu penelitian sosial berupaya menangkap makna yang terkandung dalam prilaku manusia dan kemudian berupaya memahaminya secara kritis-emansipatoris.

Teori kritis memandang positivisme sebagai biang keladi atas kemandegan proses pencerahan, yaitu tatkala teori-teori itu tidak lagi emansipatoris, melainkan hanya fiksasi realitas dan mereduksinya pada apa yang terukur. Teori kritis memandang bahwa positivisme sebagai aliran yang melanggengkan status quo. Hal ini dikarenakan, positivisme hanya bertujuan memaparkan fakta-fakta secara objektif dan mencari hukum-hukum kausalistik yang terdapat dalam suatu masyarakat. Positivisme hanya mengabdi sebagai instrumen bagi kapitalisme modern lewat teknologi, manajemen modern, dan birokrasi yang kesemuanya merupakan manifestasi ilmu-ilmu positif. Hal tersebut merupakan sifat langsung dari positivisme yang hanya memfokuskan perhatian pada pertanyaan how dan bukan why.

Positivisme membimbing pelaku sejarah dan ilmuwan sosial pada total pasivity. Kriteria bebas nilai yang diajarkan membuat ilmuwan tidak mampu melihat suatu yang salah pada tatanan masyarakat. Ilmuwan hanya bertugas memaparkan, mendeskripsikan realitas sedetail-detailnya lewat fakta-fakta terukur. Sehingga proses sosio-psikologis manusia yang sifatnya melampaui fakta-fakta terukur menjadi tertutupi Realitas yang dideskripsikan menjadi realitas yang statis dengan huku-hukum yang objektif. Sedangkan realitas yang sesungguhnya adalah realiats yang penuh dinamika serta penindasan-penindasan yang terselubung.

Para pemikir mazhab Frankfurt menolak dikotomi fakta-nilai karena akan sangat berdampak baiks ecara epistemologis maupun sosiologis. Dikotomi fakta-nilai hanya membuat akal manusia menjadi sebatas rasio-instrumental. Akal yang sifatnya manipulatif, kalkulatif, dan dominasi terhadap semesta yang hanya berurusan dengan perangkat teknologis dan lupa akan tujuan hidup manusia itu sendiri. Menurut Habermas, ilmu pengetahuan dan kepentingan tidak bisa dipisahkan, kriteria bebas nilai yang dicanangkan oleh positivisme hanya akan membuat ilmuwan buta akan kepentingan yang sesungguhnya yang mendasari suatu penelitian ilmiah. Setiap ilmu penngetahuan pastilah bergandengan dengan kepentingan, hanya saja kepentingan yang dimaksud oleh pemikir teori kritis adalah kepentingan emansipatoris.

Akhirnya, jika Marxisme kemudian diobjektifikasi menjadi sebuah ideologi yang dimapankan guna pencapaian kekuasaan yang berujung pada despotisme yang dehumanis. Maka positivisme berkembang demikian pervasif dan menguasai seluruh wacana ilmu pengetahuan mansuia pun telah menjadi ideologi yang dogmatis dan menjadi legitimasi atas eksploitasi yang terus menerus dilakukan oleh kapitalisme.

3. Kritik Masyarakat Modern

Masyarakat modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan zaman aufklarung dengan konsep pengagungan rasionya. Berbasis pada pengagungan rasio inilah, pemikir mazhab Frankfurt, khususnya Horkhaimer mulai menganalisa keadaan masyarakat industrial dan mengkritisinya karena tidak sesuai dengan konsep rasionalitas pencerahan itu sendiri. Kalangan pemikir mazhab Frankfurt melihat bahwa sejarah penindasan masih terus berlangsung bahkan hingga masa modern sekarang ini.Mereka melihat bahwa dialektika pencerahan yang diawali dengan kebangkitan fajar budi dari belenggu mitos dan teologi telah menjadi penindasan baru. Sejarah pencerahan telah berbalik kembali menjadi mitos baru yang membelenggu harkat dan martabat kemanusiaan. Perkembangan rasionaliats modern menurut mereka tidak lagi mengabdi pada kepentingan praksis moral, melainkan menjadi suatu dominasi rasio instrumental.

Kritik teori kritis terhadap masyarakat modern menghunjam pada satu sasaran, yakni rasio-instrumental. Rasio instrumental menurut mereka adalah rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk dimanipulasi, ditundukkan, dan dikuras secara total. Rasio instrumental memandang realiats (alam maupun manusia) sebagai objek untuk diklasifikasi, dikonseptualisasi, ditata secara efisien untuk tujuan apapun yang dianggap penting oleh kekuasaan. Segala sesuatu direduksi pada “bagaimana” sehingga kebijakan publik pun menjadi sebatas persoalan teknis dan mengabaikan masalah nilai-nilai. Rasio Instrumental menurut Herbert Marcuse telah mereduksi manusia menjadi manusia satu dimensi, di mana semua aspek kehidupan manusia, seni, agama, ilmu pengetahuan, dan bahasa direduksi pada kepentingan kontrol teknis. Rasio instrumental tidak akan membawa manusia menjadi masyarakat rasional, melainkan hanya menyembunyikan irrasionalitas dengan kepentingan untuk menguasai.

Masyarakat rasional dalam pandangan teori kritis adalah masyarakat yang terbuka bagi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, dan kebahagiaan yang tak akan mungkin tercapai dari masyarakat modern dengan corak kapitalis yang mendewakan rasio instrumental sebagai instrumen pembendaan kesadaran. Kata Horkhaimer, “jika masyarakat animisme menjiwakan benda-benda, sedang amsyarakat industri dengan rasio instrumentalnya telah membendakan jiwa-jiwa”.

Meski modernisme dangn pengagungan rasio instrumentalnya telah sdemikian akut mendominasi kesadaran manusia, bukan berarti membuat pemikir mazhab Frankfurt putus asa dalam proyek pencerahan emansipatorisnya. Habermas misalnya, masih melihat adanya secercah harapan untuk keluar dari dominasi yang akut ini. Menurut Habermas, satu-satunya jalan adalah melepaskan paradigma kerja dan mulai memperhatikan paradigma komunikasi. Dalam paradigma komunikasi, situasi subjek-objek bisa dihindarkan. Komunikasi mengandalkan dua hal, yaitu:

  1. Manusia berhadapan satu sama lain sebagai dua belah pihak yang sejajar dan berdaulat.
  2. Adanya ruang kebebasan dalam menangkap maksud orang dalam suatu komunikasi sama sekali tidak dapat dipaksakan.

Teori kritis Habermas tidak lagi memfokuskan pada tindakan rasional tetapi pada tindakan komunikasi alias bahasa. Masyarakat rasional yang diidealkan bukan lagi masyarakat tanpa kelas di mana hubungan kerja tidak ada lagi represif. Melainkan masyarakat rasional di mana komunikasi berjalan sehat, dialogis, dan tidak distortif.

Daftar Pustaka

Adian, Donny Gahral. Menyoal Objektifisme Ilmu Pengetahuan. Bandung: Teraju. 2002.

_______, Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra. 2006.

Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia. 1983.

Fromm, Erich. The Sane Society. Diterjemahkan oleh Ahmad Nurullah dengan Judul Masyarakat yang Sehat.Jakarta: Yayasan Obor. 1995.

Jay, Martin. The Dialectical Imagination: A History of the Frankfurt School and the Institue of Social Research. Diterjemahkan oleh Nurhadi dengan Judul Sejarah Mazhab frankfurt. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006.

Lubis, Akhyar Yusuf. Dekonstruksi Epistemologi Modern. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu. 2006.

Lyotard, Jean Francois. The Postmodernism Condition: A Report on Knowledge. Diterjemahkan oleh kamaluddin dengan Judul Posmodernisme: Krisis dan Masa Depan Pengetahuan. Bandung: Teraju. 2004.

Santoso, Listiyono dkk. Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Averoes Press. 2008.

Sutrisni, FX Mudji dan F. Budi Hardiman. Para Filosof Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius. 2000.

Takwin, bagus. Akar-akar Ideologi. Yogyakarta: Jalasutra. 2003.

Thompson, John B. Studies in the Theory of the Ideology. Diterjemahkan oleh Mahmud Anwar dengan Judul Study Tentang Teori dan Kritik Ideologi. Yogyakarta: IRCiSoD. 2006.

Tjahjadi, Simon Petrus. Tuhan Para Filosof dan Ilmuwan. Yogyakarta: Kanisius. 2007



Kesalehan Yang Membebaskan

Karya Lallang Salam

Sebuah catatan persembahan untukmu yang telah menghianati pesan-pesan pembebasan dalam Islam dan tentunya salam hormat bagi yang masih konsisten mengaktualkan dalam realitas bahwa Islam adalah Agama perlawanan.

Saya memulai tulisan ini dengan mengutip Raif Khoury seorang kristen pengikut Marx yang berasal dari Libanon yang menggambar Rasulullah dan Agama Islam sebagai Seorang dan Agama pembebas. Katanya:

“Betapa sering kita mendengar suara azan dari menara di kota-kota Arab yang abadi ini: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Betapa sering kita membaca atau mendengar Bilal, seorang keturunan Abyssinian, mengumandangkan azan untuk pertama kalinya sehingga mennggema jazirah Arab, ketika Nabi mulai berdakwah dan menghadapi penganiyaan serta hinaan dari orang-orang yang terbelakang dan bodoh. Suara Bilal merupakan sebuah panggilan, seruan untuk memulai perjuangan dalam rangka mengakhiri sejarah buruk bangsa Arab dan menyongsong matahari yang terbit di pagi hari yang cerah. Namun, apakah kalian sudah merenungkan apa yang di maksud dan apa isi dari panggilan itu? Apakah setiap mendengarkan panggilan suci itu, kamu ingat bahwa Allahu Akbar bermakna (dalam Bahasa yang tegas): berilah sanksi kepada para lintah darat yang tamak itu! Tariklah pajak dari mereka yang menumpuk-numpuk kekayaan! Sitalah kekayaan para tukang monopoli yang mendapatkan kekayaan dengan cara mencuri!Sediakanlah makan untuk rakyat banyak! Bukalah pintu pendidikan lebar-lebar dan majukan kaum wanita! Hancurkan cecunguk-cecunguk yang membodohkan dan memecah belah ummat! Carilah ilmu sampai ke negeri cina. Berilah kebebasan. Bentuklah majelis syurah yang mandiri biarkan demokrasi yang sebenar-benarnya bersinar"

Islam sebagai Agama telah berjalan melampaui beberapa zaman masuk menelusuri hingga pori-pori peradaban manusia. Sepanjang sejarah pula Islam banyak di terima oleh manusia untuk menjadi pengikutnya dan begitu pun sebaliknya. Ketika kita membaca perjuangan Rasulullah menegakkan Islam dengan konsep Tauhid atau meng-Esakan Tuhan yang dibawa-nya pada masyarakat Arab pada saat itu bukan berarti tanpa keberadaan tantangan, reaksi dari pemuka quraish begitu kejam. Rasulullah mengalami penentangan yang begitu hebat, pengasingan, penghianatan serta embargo ekonomi hingga sesat serta penyihir pun terlabelkan terhadapnya. Namun, Rasulullah tak pernah bergeming sedikit pun untuk mundur dari menegakkan pesan-pesan Ilahi.

Mengapa mereka menentang Seorang manusia dan tidak mau menerima ajaran-nya yang suci dari Tuhan untuk kebaikan mereka (Manusia)?

Penentangan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa Rasulullah yang dilakukan oleh Arab Jahiliyah bukanlah tanpa alasan. Namun apakah alasan itu hanya karena Rasulullah memperkenalkan nama Allah? Bukankah mereka sebelumnya sudah mengenal kata Allah? Lalu apa yang menjadi alasan sehingga mereka melakukan penentangan terhadap Rasulullah? kenyataanya yang membuat mereka menolak Islam sebagai ajaran Tuhan adalah karena Implikasi dari kata Allah dengan pemaknaan baru yang sungguh jauh berbeda yang mereka pahami sebelumnya. Pengakuan akan keberadaan Tuhan dan Esa-Nya di mulai dengan kata “tidak”. Perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan yang terbingkai dalam kata “Lailaha Illalah” yang merupakan ungkapan manusia dalam meng-Esa-kan Tuhan yang berarti; tidak ada Tuhan selain Allah melahirkan konsekuensi bahwa kita semua sama dihadapan Tuhan tidak ada perbedaan antara sesama manusia.

Implikasi Tauhid bahwa tidak ada perbedaan antar sesama manusia di hadapan Tuhan itulah salah satu menjadi alasan mengapa suku quraish terkhusus orang-orang yang memiliki posisi dalam struktur sosial Arab seperti kaum bangsawan yang dalam kehidupan sehari-harinya sering melakukan perbudakan. Selain itu posisi perempuan yang dianggap pembawa sial dalam keluarga juga menjadi dekonstruksi keberadaan ajaran Tauhid yang dibawa Rasulullah yang sangat menjunjung tinggi kaum perempuan.

Tradisi quraish yakni pemujaan terhadap patung juga akan tergantikan dengan keberadaan ajaran yang di bawa oleh Rasulullah yang sebagaimana kita ketahui bahwa pembuatan patung-patung (berhala) pada saat itu juga merupakan sumber ekonomi oleh sebagian orang, terkhusus yang memiliki usaha atau dalam bahasa sekarang corporate yang memonopoli, sehingga dengan sendirinya sumber pendapatan mereka akan terganggu. Sesunguhnya penentangan terhadap Rasulullah karena banyak kepentingan kaum bangsawan yang tergusur.

Melihat posisi ajaran Islam dengan Tauhid-nya maka dapat dikatakan bahwa Islam adalah yang mengandung nilai pembebasan serta menghapuskkan diskriminasi dan membuka ruang-ruang pada manusia memiliki hak yang sama. Ajaran Islam sangat menentang prilaku penindasan, pemiskinan, pembodohan, pemerasan serta perampasan hak-hak orang lain oleh lintah darat yang memonopoli untuk mendapatkan kekayaan. Menurut Hassan hanafi Aqidah (Tauhid) berfungsi untuk memerangi kezaliman, kekerasan, penindasan. Selain itu Tauhid juga berfungsi memerangi kebodohan, kemunduran dan keterbelakangan ummat terutama kelompok ekonomi lemah dalam strata sosial masyarakat.

Ketika kita menelisik ke era kita sekarang ini sepertinya penentangan itu tidak pernah berakhir. Sejarah itu terus berulang mungkin benar kata Hegel bahwa bentuk serta konteks saja yang berbeda dalam sejarah akan tetapi motif tetap sama. Sejarah pemerasan, perbudakan, pembodohan, penindasan masih tetap terus berlanjut.

Sebenarnya jauh sebelum kedatangan Rasulullah, penindasan dan perbudakan telah ada pada fase manusia pertama yakni sejak Nabi Adam yang melahirkan keturunan Habil dan qabil. Menurut Ali Shariati Habil adalah kelompok yang mewakili yang tertindas, yang terampas hak-nya sedangkan Qabil adalah kelompok yang mewakili sistem kepemilikan pribadi, penindas yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Sejarah pertempuran antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang terus berlangsung pada setiap generasi.

Lalu Tuhan pun hampir ditiap zaman mengutus seorang nabi untuk menjadi pembebas. Menurut Ali Shariati, Para Nabi adalah pelanjut-pelanjut perjuangan Habil. Nabi Ibrahim berdiri menghujah Raja Namrud. Nabi Musa membela bani Israil yang lemah melawan Fir’aun yang perkasa. Nabi Isa datang menggembirakan kaum fuqara dan melecehkan Kaisar. Nabi Muhammad SAAW. Duduk disamping orang miskin dan budak belian, lalu membimbing mereka ke arah kebebasan. Sedangkan sebagai pelanjut Qabil Shariati menyebut empat manusia yang dalam Al-quran dilambangkan dengan Fir’aun, Hamman, Qarun, dan Bal’am. Fira’aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri. Hamman mewakili kelompok teknokrat, Ilmuawan yang menunjang para tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun cerminan kaum kapitalis pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus menghisap seluruh kekayaan masyarakat. Bal’am mewakili para rohaniwaan, tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan menina bobokkan rakyat.

Sepertinya Fir’aun, Hamman, Qarun, serta Bal’am selalu saja mengiri perjalanan sejarah manusia. Perilaku korupsi oleh penguasa tetap saja terjadi, Pelacuran intelektual semakin marak, Monopoli kekayaan begitu lahap menghisap masyarakat, serta para Ulama tetap saja pasif bahkan sebagai penopang kekuasaan yang tiran. Para Ulama hanya memahami agama sebagai seperangkat ritual belaka yang tidak memiliki persinggungan terhadap sosial, Ulama dengan jubah kesalehannya tidak lagi mengikuti jalan Rasulullah dalam melakukan pembebasaan terhadap kaum mustadh’afin bahkan sebagian Ulama mengatakan bahwa janganlah menentang penguasa cukup saja dengan memberikan nasehat jika mereka melakukan kesalahan dan ironinya Ummat banyak yang menjadi pengikutnya.

Berdustalah mereka yang selalu shalat akan tetapi disekitarnya begitu banyak orang-orang yang kelaparan (Muslim Abdurahman)

Makna-makna agama sudah banyak dipelintir oleh para ulama misalnya saja kesalehan seseorang hanya tertentukan seberapa banyak kita melakukan shalat, puasa, zakat serta Haji tanpa tersadari bahwa ada kesalehan yang tidak terpisah dengan semua itu yakni kesalehan sosial dalam bentuk pembelaan terhadap kaum lemah. Bukankah semua keberhasilan ritual dilihat sejauh mana kita melakukan pembelaan terhadap kaum lemah? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa kesalehan sejati adalah menyebarkan rahmat kesuluruh alam. Misi orang saleh adalah mengobati “luka kehidupan”dengan air kafur yang menyejukkan. Dia memasukkan kebahagian kepada semua orang susah. Tidakkah amal saleh di sisi Tuhan adalah menghibur orang yang menderita dan memberi makan orang lapar.

Untuk membuktikan bahwa kesalehan itu tidak hanya di ukur dari ritual saja maka saya mengutip sebuah kisah dari buku The Road To Allah karya Jalaluddin Rakhmat dimana ketika Tuhan bertanya kepada Nabi Musa melalui Nabi Daud “Ibadah apakah yang langsung kepadaKu? Nabi Musa Menjawab layaknya jawaban kebanyakan bahwa ibadah langsung kepadaMu ya Tuhan adalah shalat, puasa, serta zakat. Lalu Tuhan menjawab bukan itu wahai Musa akan tetapi ibadah langsung terhadapKu adalah ketika engkau memberi makan pada fakir miskin” Namun sekarang ini banyak kita saksikan orang-orang menjalankan kesalehan demi status sosialnya.

Buat apa saya beragama jikalau Agama tidak mampu menjadi alat untuk mengambil hak-hak saya yang terampas

Dewasa ini Agama mengalami begitu banyak pergeseran dari hakikatnya sebagai pembebas. Pemeluk islam saat ini kebanyakan disibukkan dengan pergulatan menyelesaian masalah personal. Agama hari ini hanya hadir untuk menenankan orang yang tertindas melalui ulama-ulamanya. Mungkin masih segar diingatan kita di tahun 2004 pada saat pemerintah mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM yang sangat menyengsarakan rakyat di negeri ini lalu tampillah salah satu ulama kita pada saat itu untuk menenangkan masyarakat “sabar ini semua cobaan dari Tuhan”. Jika wajah Agama demikian maka tidak salahlah bila Kalr Marx mengatakan bahwa Agama adalah candu.

Berdustalah mereka yang mengaku mencintai Tuhan jikalau masih melanggengkan ketidakadilan dan penindasan.

Melihat keberagamaan sekarang ini kecederunganya pasif terhadap segalah bentuk penindasan maka tibalah saatnya untuk berpikir apa yang mesti kita lakukan? Mungkin jawabnya sangat sederhana marilah kita menghidupkan kembali sebuah tradisi perlawanan Islam dimana kata Shariati Islam dibangun dalam dua pilar yakni Kearifan dan cinta. Dengan kearifan kita dapat memiliki pengertian tentang sesuatu. Kita tidak lagi mudah untuk di tipu, dalam artian mari menggelorakan semangat intelektualisme guna dapat memahami perseolan-persolaan kekinian masyarakat. Cinta yang terpahami dapat membawa kita pada sebuah sikap pengorbanan. Darah dan air mata tak lagi menjadi pertimbangan untuk kita tetap berjuang dalam meneggakkan keadilan serta menghapus penindasan jikalau cinta serta kerinduan akan bertemu dengan Tuhan semakin menggelora. Tapi berdustalah mereka yang mengaku pecinta jikalau masih melanggengkan ketidakadilan serta penindasan karena Tuhan sangat mencintai keadilan dan membenci penindasan. Bukankan pengakuan kecintaan kita terhadap seseorang adalah rela mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya itulah logika cinta.

Berkata Amirul Mukminin a.s.:

“Cinta Ilahi adalah Api,

Apapun yang dilewatinya akan terbakar

Cinta ilahi adalah cahaya

Di mana pun ia terbit ia akan memancar

Cinta Ilahi adalah langit

Apa pun yang muncul di bawahnya akan di naungi

Cinta Ilahi adalah angin

Ke mana berhembus ia akan menggerakkanya

Cinta Ilahi adalah air Tuhan yang menghidupkan sesuatu

Bumi Tuhan yang menumbuhkan segala sesuatu

Barangsiapa yang mencintai Allah , Allah akan memberikan kepadanya

Semua kerajaan dan kepemilikan”

Sebuah Harapan masih tetap terpatri dalam jiwa bahwa islam akan tetap bangkit melawan segala bentuk penindasan walau saat-saat ini kenyataan Islam sangat memilukan, tapi keyakinan itu tetap ada bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang lemah yang memiliki kesadaran yang merupakan pelanjut Habil dimana dengan kesadarannya nantinya akan membuktikan eksistensi Islam bahwa Islam adalah Agama yang memihak terhadap kaum lemah.

Sebagai penutup tulisan saya ini, saya ingin mengutip perkatan Imam Ali. a.s tentang siapa saja yang berbuat zalim itu moga bisa menjadi efifani untuk melangkah menegakkan Islam yang subtantif (Islam Yang memihak) dan terpenting kita bukan bagian dari apa yang disebutkannya. Beliau berkata demikian: Ada tiga sekutu kezaliman yang pertama adalah orang berbuat zalim, yang kedua orang yang membantu melakukan kezaliman, dan yang ketiga adalah yang melihat kezaliman lalu tidak berbuat.

Papirus Menjelang Matahari Tenggelam 30 September 2010

Sumber bacaan

Dr. Ali Shariati: Tugas Cendikawan Muslim, Rajawali 1984

Pemimpin Mustadh’afin, Muthahhari Paperbacks 2001

Ideologi Kaum Intelektual, Mizan 1993

Fatimah The Great Women, Tahira 2009

Hassan Hanafi: Dari Aqidah Ke Revolusi, Dian Rakyat 2010

Jalaluddin Rakhmat: The Road To Allah, cet. V . Mizan 2008

Sulaiman AL-Kumayi: Ekspresikan Cintamu, Hikmah 2005



Sabtu, 14 Agustus 2010

Refleksi jiwa Bertauhid (Sebuah Pengantar Kajian tauhid irfani)

Pengetahuan kita tentangsesuatu mengambil dua bentuk personal dan universal atau dengan kata lain empirikal dan metafisis, sertabersifat fenomenal dan eksistensial. Demikian pula mengenai ma'rifah tentang Allah juga mengambil dua bentuk, yaitu ma'rifah hushuliyah dan ma'rifah hudhuriyah. Yang pertama melalui bukti-buktikosmologis dan yang kedua menurut Ayatullah Taqi Misbah Yazdi (seorang ulamadan filosof Iran kontemporer) tidak diajarkan atau dipelajari sebagaimanapembelajaran konvensional melainkan melalui perjalanan ruhani.

Dalam kajianilmu Tauhid dalam kerangka filosofis kita mengenal pembagian Tauhid dalam tigakerangka konsepsi, yaitu Tauhid Zati, Tauhid Sifati, dan Tauhid Amali. Sehubungan dengan temasentral kita, yaitu Tauhid Irfani (dalam kerangka teoritis), maka dikonteks inisangat berkaitan dengan perjalanan manusia dari satu alam ke alam yang lain.Dimana diantaranya kita akan menjumpai marhalah dan martabat(station dan keudukan) perjalanan yang cukuptinggi. Olehnya itu dalam perjalanan ini kita butuh mursyid (pembimbing), karena kita tidak mengetahui hendak kemanaarah langkah kita berjalan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Mulla Shadra mengatakan bahwa ada empat perjalanan yang harus kitalakukan. Pertama ; Safar minal khalq ila Al-Haq (perjalanan dari makhluk menuju Allah), dari yang majemuk menuju yangtunggal. Bagaimana cara kita melakukan perjalanan ini?. Pada perjalanan inipengenalan kita tentang Allah dalam wilayah konsepsi melalui bukti-buktifilosofis yang kita renungkan secara seksama. Di Maqam perjalanan ini sangat identik dengan safar filosofis, ilmiah, dan teoritis, menyangkut pemahaman kita tentang Allah. Atau dengan kata lain keutuhan niatdan keikhlasan kita dalam mencapai pemahaman pada atribut-atribut Keilahianyang ada dalam konsep ilmu Tauhid kita. Dalam fase ini tentunya kita sebagaimakhluk dipisahkan dari Allah oleh berbagai martabat kemakhlukan kita, salahsatunya adalah nafs (jiwa) kita. Seseorangyang hendak menuju Allah terlebih dahulu melalui nafs baik secara teoritik maupun praksis. Kemudian ia akanmelalui kalbu, kalbu itupun ia harus lalui hingga menjadi ruh. Mengapa kitaharus melalui ruh ini? Sebab kita adalahmateri, dibandingkan dengan sisi spiritual materi adalah gelap. Maka jiwasifatnya gelap, dalam Alquran disebutkan ada nafs ammarah dan nafslawwamah.Karena sifatnya yang gelap, maka dibutuhkan penyucian atau tazkiyatun nafs, inilah hijab pertama.

Hijab kedua adalah kalbu,mengapa kalbu adalah hijab? Padahal kalbu memberikan cahaya bagi nafs dan merupakan tingkatan alamruhani. Memang kalbu member

ikan cahaya bagi kita, tapi kita terkadang terpukauoleh cahaya kalbu, sehingga kita enggan untuk melanjutkan perjalanan kedua,karena kita telah puas dengan apa yang kita dapatkan di perjalanan pertama. Misalnyakita telah melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) setiap harinya. Akhlak kita telahterhiasi dengan akhlak Rasul dan para Aimmah,akan tetapi setiap harinya kita merasa cukup dan puas dengan maqam tersebut. Inilah manusia yangterperangkap pada maqam LAHUWA (BUKANDIA), padahal ia tengah melakukan perjalanan dari makhluk menuju Allah. Olehkarena itu kita perlu mempersiapkan (melatih) nafs kita menembus cahaya kalbu kita dengan menemukan kesuciankita dari penghalang-penghalang dan godaan-godaan, agar kita dapat termotivasidalam keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Hal ini pun menurut Sayyid Haydar Amuli adalah tingkatantauhid yang paling rendah, yakni Tauhid Fi'li (Tauhid perbuatan). Perjalanankita masih disibukkan dengan nerlindung dari siksa Allah dan mengharap ampunanNya. Ia sudah mengesakanAllah pada tingkat perbuatan (fi'li). Tauhid semacam ini berada pada tingkatan syariatatau Tauhid orang awwam. Kelompok ini terdiri dari dua golongan, yaitu golongan orang-orang yang bertauhid karena mengikuti orang lain atau guru-guru mereka,dan orang yang berhasil memahami keyakinan mereka melalui proses rasionaldengan berupaya merenungkan pemahamannya hingga pada Allah sebagai sebabpertama yang Wajibul Wujud. A'udzu bi afwika min 'ikabiqa (aku berlindungdengan ampunanMu dari siksaMu)

Dalam pandangan Murtadha Muthahhari,ada enam jenjang maqam yang mesti dilalui oleh seorang salik untukmencapai al-Haqq. Keenam jenjang maqam tersebut secara umumdibagi ke dalam dua klasifikasi utama safar. Yang pertama adalah maqamnafs, yaitu upaya langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang salikuntuk membebaskan jiwanya dari kecenderungan-kecenderungan material.Setelah itu perjalanan selanjutnya adalah mencapai maqam qalb. Yaitu,alam ruhani pertama yang mesti dilalui manusia, di satu sisi alam qalbmerupakan maqam, namun di sisi lain alam qalb merupakan hijabbagi seorang salik. Jika alam nafs memberikan hijab berupa kenikmatanmateri, sedangkan alam qalb memberikan cahaya yang bisa menjadi anugerahtapi sekaligus bisa menjadi hijab jika seorang salik terpukau padanya. Selanjutnyaadalah mencapai maqam alam ruh. Setelah seorang salik mampumengalahkan keterpukauan terhadap cahaya-cahaya qalb (hal yangdidapat dalam maqam qalb), maka jiwa manusia akan melintas maqam menujumaqam ruh. Di maqam ruh inilah akhir dari safar pertama manusia.

Perjalanan kedua adalah Safar fi Al-Haq ma'a Al-Haq (Perjalanan dalam Allahbersama Allah). Perjalanan ini telah melewati perjalanan pertama dengan tigamarhalah (terminal) nafs, kalbu, dan ruh. Padaperjalanan ini ada tiga marhalahpula yangharus dilewati oleh seorang salik(pesulukatau pengembara spiritual). Pertama maqam sirr (fana' fi zati) atau kita kenal denganekstase. Kedua maqam khafiy (fana dalam sifat Allah). Dan ketiga maqam akhafa (fana dalam zat dan sifat Allah). Pada tingkatan ini seorang hambatidak lagi melihat hubungan sebab akibat antara dirinya dengan Allah, yangdilihatnya kini adalah sifat-sifat Allah. Ia tidak melihat lagi sifat-sifatselain Allah. Ia melihat pengemis kecil dipinggir lampu merah yang makan denganlahapnya sebagai ungkapan sifat kasih sayang Allah. Ia menyaksikan deritaorang-orang yang ingkar kepada risalah Allah sebagai manifestasi murkaNya.Mereka "merasakan" sifat-sifat Allah bukan lagi dengan mata lahiriyahnya,melainkan dengan pandangan batinnya yang telah menembus dimensi metafisis, iamemahami kesempurnaan sifat Allah bukan hanya dengan akalnya, tapi juga dengankalbunya. Tidak ada fa'il lain selain Allah danmereka menyerahkan segala urusan hanya kepadaNya. Sebagaimana yang dikatakandalam firmanNya "Allah ridha dengan mereka dan mereka ridha dengan Allah (QS, 5: 119).

Sampai disini merekamencapai maqam Tauhid Sifati, maqam keridhaan Allah fana dalam sifat Allah. Jika diperjalanan pertama kita selamat dari syirik besar, di maqam ini kita lepas dari syirik tersembunyi. Kini tidak ada lagiwujud hamba, yang ada hanya wujudNya. Fana.......Tidak ada lagi LA HUWA kecuali HUWA, kemana pun kamu berpaling disituada wajah Allah (QS, 2 : 115). Tauhid Zati, Tauhid pada tingkat hakikatkebenaran. Ana Al-Haq sebagaimana dikatakanoleh Mansur Al-Hallaj. Mereka menyaksikan Allah dengan cahayaNya, melihat Allahdengan Allah, dan mengetahui Allah dengan Allah bukan lewat perantara yang lainsebagaimana kaum awwam.

SalmanAl-Farisi, sahabat Rasulullah saww dan ahlulbaitnya berada di maqam ini, sebagaimana sabda Rasulullah saww, "Sesungguhnya surgalebih merindukan Salman ketimbang Salman merindukan surga." Maqam realisasispiritual dalam perjalanan kedua ini adalah kefanaan dalam zat dan sifat Allah.

Audzu biridhaka an sakhatik wa audzubika minka.

Wallahu a'lam bi shawab

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala AlihiSayyidina Muhammad. Wa ajjil farajahum

(Ditranskrip dari paket kajian senin malam LDSIAl-Muntazhar Makassar Bersama Sang guru)

Rabu, 11 Agustus 2010

Humanisme dalam Tinjauan Sains, Filsafat, Spiritualisme


By : Sabara Putra Borneo

Istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks.Humanisme, sebagai sebuah terma mulai dikenal dalam diskursus wacana filsafatsekitar awal abad ke 19. Menurut K. Bertens, istilah humanisme baru digunakanpertama kali dalam literatur di Jerman, sekitar tahun 1806 dan di Inggrissekitar tahun 1860. Istilah humanisme diawali dari Term humanis atau humanum(yang manusiawi) yang jauh lebih dulu dikenal, yaitu mulai sekitar masa akhirzaman skolastik di Italia pada abad ke 14 hingga tersebar ke hampir seluruhEropa di abad ke 16. Terma humanis (humanum) tersebut dimaksudkan untukmenggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan nalar manusiayang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Romawi dan Yunani. Gerakan humanisberkembang dan menjadi cikal bakal lahirnya renaisance di Eropa.

Dalam perkembangannya humanisme di Eropa menampilkan penentangan yangcukup gigih terhadap agama (dalam hal ini Kristen) dan mencapai puncaknya,ketika Augusto Comte mendeklarasikan "agama humanitarian" dan menggantikanagama yang dianggap tidak humanis. Pertentangan ini terus berlangsung, hinggadi pertengahan abad ke 20 para pemuka-pemuka Kristen mulai memberi ruangapresiasi bagi humanisme dan pada konsili Vatikan II (1962-1965) pihak Katolikmemberi respon positif terhadap humanisme. Namun lucunya, ketika kalangan agamamulai mengapresiasi humanisme, diskursus filsafat justru mempropagandakan antihumanisme, khususnya dengan wacana "kematian manusia"nya Michel Fouchault,"absurditas manusia"nya Albert Camus.

Humanisme sebagai sebuah term diskursus menuai berbagai pemaknaan,tergantung berbagai sudut pandang dan tinjauan yang digunakan. A. Lalande,menyebutkan beberapa pengertian humanisme, yang diantaranya ada yang salingbertentangan. Salah satu pengertian humanisme adalah gerakan humanis di Eropayang memandang manusia dalam perspektif "manusiawi' belaka yang bertentangandengan perspektif religius (agama). Di samping itu, A. Lalande juga menyebutkanpengertian humanisme sebagai pandangan yang menyoroti manusia menurutaspek-aspek yang lebih tinggi (seni, ilmu pengetahuan, moral, dan agama) yangbertentangan dengan aspek-aspek yang lebih rendah dari manusia. Ali Syari'atimenyebutkan defenisi humanisme sebagai himpunan prinsip-prinsip dasarkemanusiaan yang berorientasi pada keselamatan dan kesempurnaan manusia.Tampaknya dari berbagai defenisi mengenai humanisme, defenisi yang diajukanoleh Ali Syari'ati lebih mendekati arti humanisme dari sudut pandang etimologis(human atau homo = manusia dan isme = paham atau pandangan).

Sekalipun istilah humanisme merupakan terma yang hanya dikenal dalamdiskursus filsafat, namun humanisme sebagai pandangan mengenai konsep dasarkemanusiaan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, seperti sains danspiritualisme. Dalam tulisan ini, humanisme coba diurai secara singkat daritinjauan sains, filsafat, dan spiritualisme.

Secara ontologis, sains mendasarkan pandangannya pada diktum fisika Newton yang menyatakan"tiada fenomena yang tak dapat diukur dalam filsafat eksperimental". Diktum inimelahirkan pandangan positivisme yang menekankan metodeempirikal-eksperimentatif dalam memahami realitas. Metode ini meniscayakanlahirnya paradigma reduksionisme-atomistik yang menghasilkan pengerusan padamakna dan hakekat realitas. Dalam nalar saintifik pengetahuan semata bersifatnomotetis dan tidak terdapat pengetahuan yang bersifat ideografis (nilai dankesadaran). Walhasil, humanisme dalam tinjauan sains, memandang manusia taklebih dari fakta empirikal (nomotetis) dan bersifat mekanistik-deterministikserta mereduksi manusia dari hal-hal non empiris, seperti nilai dan kesadaran.Konstruksi manusia dalam pandangan saintifik ini mencapai titik ekstrimnyadalam pandangan Julien O de Lametrie yang menyamakan manusia dengan mesin (L'Homme machine).

Pandangan sains tersebut, menuai kritik yang cukup tajam dari parailmuwan dan filosof yang mencermati dilema-dilema yang muncul dalam faktakemanusiaan sebagai akibat pandangan humanisme yang sangat saintifik(positivistik). Konsep alienasi, deprivasi, "kehilangan jati diri", dan splitpersonality merupakan serangkaian terma yang ditujukan sebagai kritikterhadap implikasi pandangan kemanusiaan yang dihasilkan dari kemajuan sains.Erich Fromm menyebutkan perkembangan teknologi menghasilkan pergeseran mendasardari human thought kepada thinking of machine yang mengakibatkanmanusia tergeser dari pusat peradaban hingga ke "margin-margin" peradaban. Halsenada juga diungkapkan oleh Nicholas Bordayev yang menyebutkan pandanganilmiah dan kemajuan teknologi berakibat pada perbudakan manusia oleh mesin.

Filsafat mendasarkan dirinya pada akal sebagairealitas sublim pada diri manusia. Dengan sendirinya pandangan filosofismemandang manusia tidak hanya sebatas realitas material belaka yang statis dandeterminis, melainkan juga sebagai realitas ideografis yang memiliki persepsidan kesadaran yang bersifat dinamis. Sebagaimana dalam pandangan Jean PaulSartre yang mengklaim filsafat eksistensialismenya sebagai pandangan yanghumanis membagi eksistensi manusia secara bidimensional, yaitu l' etre ensoi (ada dalam diri) dan l' etre pour soi (ada untuk diri). Denganakalnya, manusia berperan sebagai "lakus dunia" yang dapat mempersepsi,mengubah, serta memberi nilai dan makna pada dunia dan hidupnya. Sekalipundemikian, mengenai persepsi, serta nilai dan makna yang dihasilkan akhirnyaberbeda bahkan bertolak belakang antara satu pemikir dengan pemikir lainnya.Jika kita menelusuri humanisme dari sudut pandang filsafat maka kita akanterbawa pada perdebatan panjang yang tiada henti mengenai nilai dan maknakehidupan manusia. Paling tidak kita akan sampai pada perdebatan kalanganfilosof eksistensialis (Nietszche, Kierkegard, Sartre, Jaspers, Marcel, danpemikir eksistensialis lainnya) serta pemikiran para filosof lainnya yang sangattidak memungkinkan untuk diungkapkan dalam pertemuan dan tulisan ini. Namunpaling tidak, humanisme dari sudut pandang filsafat berakar pada pandangan yangsama mengenai manusia sebagai "lokus semesta" yang berkesadaran, dinamis, dandengan kemampuan akalnya senantiasa mencari makna dan nilai dalam kehidupannya.

Jika sains memandang manusia dari sisi matternya, filsafatmemandang manusia dari sudut pandang mindnya, maka spiritualismememandang manusia dari sudut pandang spirit (ruh)nya. Secara ontologis,spiritualisme mendasarkan pandangannya bahwa manusia selain memiliki dimensieksoteris (tubuh), manusia juga memiliki sisi esoteris (ruh) yang bersifattransenden dan Ilahiyah. Dimensi esoteris inilah yang menjadi esensikemanusiaan manusia serta menjadi elan vital bagi gerak dinamis manusia dalamkehidupannya. Spiritualisme sangat menekankan aspek intuitif dalam prosespencapaian makna dan hakekat dari realitas, termasuk diri manusia. Intuisimerupakan potensi epstemologis yang dimiliki oleh manusia untuk mencerap secaralangsung dengan realitas yang tidak terbuka terhadap persepsi indrawi danmenangkap realitas tersebut secara esensial dan utuh. Jika akal dan indra hanyamampu mencerap pengalaman-pengalaman fenomenal manusia, intuisi mengantarkanmanusia untuk mencerap pengalaman-pengalaman eksistensialnya.

Spritualisme berpandangan bahwa Tuhan adalah modus eksistensimanusia yang kepadaNya seluruh manusia mesti menuju. Spiritualisme memandangbahwa realitas spiritual yang merupakan elan vital manusia adalah pancaran dariRuh Ilahiyah (Tuhan) yang bertajalli "dalam" diri manusia danterejawantahkan dalam atribut-atribut ketuhanan yang dimiliki manusia, sepertikesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Sekalipun dengan berbagaipenamaan yang berbeda (Ruh Allah, Ruh Kudus, Atman, Tao, Budha)., namunseluruh tradisi spiritual (agama) sepakat, bahwa spritualitas manusia bersifatuniversal dan tak terbatas dan mengantarkan manusia untuk merasakan danmemaknai secara langsung (hudhuri) kehidupannya. Selain itu, semuatradisi spiritual sepakat, bahwa jalan untuk mencapai keselamatan dankesempurnaan manusia sebagaimana yang dicita-citakan oleh humanisme, adalahdengan membangun keseimbangan dalam hidup antara aspek teoetika ataupenghambaan dengan Tuhan (ibadah), psikoetika atau penyucian jiwa darisifat-sifat tercela, dan diwujudkan dalam bentuk pengkhidmatan kepada sesamamanifestasi-manifestasinya (manusia dan alam) atau sosioetika. Karenamanusia memiliki atribut ketuhanan, maka manusia wajib untuk "berakhlaksebagaimana akhlak Tuhan", sebagaimana yang dikatakan Iqbal "menyerapSifat-Sifat Tuhan dan menjadikannya sebagai elan vital untuk mengubah dunia".

Secara umum, humanisme dalam pandangan sains dan filsafat secara ansich, masih terjebak pada adanya keterpisahan antara "aku" dan "kamu". Halini didasarkan pada pandangan sains yang mendasarkan manusia pada matter(body)nya dan filsafat pada mind, sehingga masih ada my bodyand your body, juga my mind and your mind yang berbeda dan terpisah,hal ini masih memungkinkan lahirnya individualisme. Sedangkan spiritualismeyang mendasarkan pandangannya pada spirit manusia yang tunggal dan universalsangat memungkinkan untuk mengantarkan manusia meninggalkan egoismenya danmenuju cita-cita humanisme universa, yaitu persamaan, persaudaraan, cintakasih, keadilan dan pengorbanan. Pandangan ini bukan berarti menafikan peransains dan filsafat dalam kehidupan manusia. Imam Husein as, menjadi "humanis",bukan karena pandangan empirik atau filosofisnya belaka, tapi intuisilah yangmengantarkan Imam Husein pada pengalaman eksistensial dan merasakan penderitaanmereka yang tertindas. Dan panggilan spirituallah yang "memanggil" Imam Huseinas, untuk berkorban.

"Darah tak akan pernah menghapus noda sejarah.

Yang kita tangisi bukanlah pembantaian,

tapi nurani kemanusiaan yang hilang.

Setiap hari adalah Asyura dan Setiap tempat adalah Karbala"

(Manifesto Perjuangan para Pencinta Ahlul Bait as)


Selasa, 10 Agustus 2010

Deferensiasi Sosial (Yayasan Al-Muntazhar)


A. Latar Belakang

Berbeda itu biasa. Pernahkah Anda sadari betul kata-kata ini ?Dunia terbentang dengan segala macam perbedaan. Tidak ada satu makhluk hidup yang sama persis dengan yang lain. Perbedaan memang anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang begitu indah. Oleh karena itu kita bisa menyatakan bahwa perbedaan itu indah.
Mampukah Anda menganalisa bentuk - bentuk struktur masyarakat berdasarkan adanya perbedaan dan lapisan yang ada. Makalah ini membahas tentang Diferensiasi Sosial.

B. PENGERTIAN DIFERENSIASI SOSIAL

Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertical seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah. Perbedaan itu hanya secara horisontal. Perbedaan seperti ini dalam sosiologi
dikenal dengan istilah Diferensiasi Sosial.
Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang biasanya sama. Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya. Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.
Diferensiasi sosial adalah pengelompokan masyarakat secara horizontal berdasarkan pada ciri-ciri tertentu.

Ciri-ciri yang Mendasari Diferensiasi Sosial.

Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ciri Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
b. Ciri Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c. Ciri Budaya
Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi ataukepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.

Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial

Pengelompokan masyarakat membentuk delapan kriteria diferensiasi sosial.

a. Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya.
Secara garis besar, manusia dibagi ke dalam ras-ras sebagai berikut :

1) Menurut A.L. Krober

Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin)
Mongoloid :
- Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur)
- Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filiphina, penduduk asli Taiwan)
- American Mongoloid (penduduk asli Amerika)

Kaukasoid :
- Nordic (Eropa Utara, sekitar L. Baltik)
- Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur)
- Mediteranian (sekitar L. Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)
- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka)

Negroid :
- African Negroid (Benua Afrika)
- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina)
- Melanesian (Irian, Melanesia)

Ras-ras khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok) :
- Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan)
- Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan)
- Polynesian (kepulauan Micronesia dan Polynesia)
- Ainu (di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang)

2) Menurut Ralph Linton

Mongoloid, dengan ciri-ciri kulit kuning sampai sawo matang, rambut lurus, bulu badan sedikit, mata sipit (terutama Asia Mongoloid). Ras Mongoloid dibagi menjadi dua, yaitu Mongoloid Asia dan Indian. Mongoloid Asia terdiri dari Sub Ras Tionghoa (terdiri dari Jepang, Taiwan, Vietnam) dan Sub Ras Melayu. Sub Ras Melayu terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Mongoloid Indian terdiri dari orang- orang Indian di Amerika.
Kaukasoid, memiliki ciri fisik hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sampai coklat kehitam-hitaman, dan kelopak mata lurus. Ras ini terdiri dari Sub Ras Nordic, Alpin, Mediteran, Armenoid dan India.
Negroid, dengan ciri fisik rambut keriting, kulit hitam, bibir tebal dan kelopak mata lurus. Ras ini dibagi menjadi Sub Ras Negrito, Nilitz, Negro Rimba, Negro Oseanis dan Hotentot-Boysesman. Aborigin.

Bagaimana dengan Indonesia? Sub ras apa saja yang mendiami negara kita ini? Indonesia didiami oleh bermacam-macam Sub Ras sebagai berikut:

- Negrito, yaitu suku bangsa Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
- Veddoid, yaitu suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatera Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.
- Neo Melanosoid, yaitu penduduk kepulauan Kei dan Aru.
- Melayu, yang terdiri dari dua :
- Melayu Tua (Proto Melayu), yaitu orang Batak, Toraja dan Dayak
- Melayu Muda (Deutro Melayu), yaitu orang Aceh, Minang, Bugis/ Makasar, Jawa, Sunda, dsb.

b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)

Apa yang dimaksud dengan suku bangsa atau etnis itu ? Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut :
- ciri fisik
- kesenian
- bahasa daerah
- adat istiadat
Suku bangsa yang ada di Indonesia antara lain :
- di Pulau Sumatera : Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Melayu, dsb.;
- di Pulau Jawa : Sunda, Jawa, Tengger, dsb.;
- di Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar, dsb.;
- di Pulau Sulawesi : Bugis, Makasar, Toraja, Minahasa, Toli-toli, Bolaang
- Mangondow, Gorontalo, dsb.;
- di Kep. Nusa Tenggara : Bali, Bima, Lombok, Flores, Timor, Rote, dsb.;
- di Kep. Maluku dan : Ternate, Tidore, Dani, Asmat, dsb.
- Irian

c. Diferensiasi Klen (Clan)

Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).

Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada:
- Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga)
- Marga Batak Karo : Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin;
- Marga Batak Toba : Nababan, Simatupang, Siregar;
- Marga Batak Mandailing : Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
- Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
- Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
- Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De- Rosari, Paeira.
Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang-kampuang. Nama-nama klen di Minangkabau antara lain : Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai, dsb. Masyarakat di Flores, yaitu suku Ngada juga menggunakan sistem Matrilineal.

d. Diferensiasi Agama

Menurut Durkheim agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Agama merupakan masalah yang essensial bagi kehidupan manusia karena menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral (umat). Umat pemeluk suatu agama bisa dikenali dari cara berpakaian, cara berperilaku, cara beribadah, dan sebagainya. Jadi, Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.

1. Komponen-komponen Agama

a. Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.
b. Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya.
c. Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang.
d. Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng.
e. Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.

2. Agama dan Masyarakat

Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu berkembang pula agama atau kepercayaan lain, seperti Khong Hu Chu, Aliran Kepercayaan, Kaharingan dan Kepercayaan-kepercayaan asli lainnya.

e. Diferensiasi Profesi (pekerjaan)

Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau mata pencahariannya. Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi guru memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb. Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya. Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya melaksanakan pekerjaannya.

f. Diferensiasi Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.

g. Diferensiasai Asal Daerah

Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
- masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa;
- masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini : - perilaku
- tutur kata
- cara berpakaian
- cara menghias rumah, dsb.

h. Diferensiasi Partai

Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai. Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran. Pada Pemilu tahun 1999 yang lalu terdapat 48 partai, pada Pemilu tahun 2004 mungkin jumlah partai sudah bertambah lebih banyak.

KESIMPULAN

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat majemuk atau diferensisasi sosial adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat ke dalam golongan – golongan atau kelompok - kelompok secara hoirizontal atau tidak bertingkat. Adapun wujudnya adalah penggolongan penduduk atas dasar ras, susku bangsa, agama dan lain – lain. Dalm pembedaan tersebut tidak menunjukkan tinggi rendahnya martabat atau derajat seseorang sebagaimana yang terdapat dalam stratifikasi sosial atau pelapisan sosial masyarakat.
Dengan kata lain, pembedaan ras, suku bangsa, agama dalam masyarakat Indonesia bukan merupakan bentuk pelapisan sosila, tetapi merupakan pembagian sosial yang mempunyai kedudukan atau derajat yang sama.