Dalam kajianilmu Tauhid dalam kerangka filosofis kita mengenal pembagian Tauhid dalam tigakerangka konsepsi, yaitu Tauhid Zati, Tauhid Sifati, dan Tauhid Amali. Sehubungan dengan temasentral kita, yaitu Tauhid Irfani (dalam kerangka teoritis), maka dikonteks inisangat berkaitan dengan perjalanan manusia dari satu alam ke alam yang lain.Dimana diantaranya kita akan menjumpai marhalah dan martabat(station dan keudukan) perjalanan yang cukuptinggi. Olehnya itu dalam perjalanan ini kita butuh mursyid (pembimbing), karena kita tidak mengetahui hendak kemanaarah langkah kita berjalan.
Berkenaan dengan hal tersebut, Mulla Shadra mengatakan bahwa ada empat perjalanan yang harus kitalakukan. Pertama ; Safar minal khalq ila Al-Haq (perjalanan dari makhluk menuju Allah), dari yang majemuk menuju yangtunggal. Bagaimana cara kita melakukan perjalanan ini?. Pada perjalanan inipengenalan kita tentang Allah dalam wilayah konsepsi melalui bukti-buktifilosofis yang kita renungkan secara seksama. Di Maqam perjalanan ini sangat identik dengan safar filosofis, ilmiah, dan teoritis, menyangkut pemahaman kita tentang Allah. Atau dengan kata lain keutuhan niatdan keikhlasan kita dalam mencapai pemahaman pada atribut-atribut Keilahianyang ada dalam konsep ilmu Tauhid kita. Dalam fase ini tentunya kita sebagaimakhluk dipisahkan dari Allah oleh berbagai martabat kemakhlukan kita, salahsatunya adalah nafs (jiwa) kita. Seseorangyang hendak menuju Allah terlebih dahulu melalui nafs baik secara teoritik maupun praksis. Kemudian ia akanmelalui kalbu, kalbu itupun ia harus lalui hingga menjadi ruh. Mengapa kitaharus melalui ruh ini? Sebab kita adalahmateri, dibandingkan dengan sisi spiritual materi adalah gelap. Maka jiwasifatnya gelap, dalam Alquran disebutkan ada nafs ammarah dan nafslawwamah.Karena sifatnya yang gelap, maka dibutuhkan penyucian atau tazkiyatun nafs, inilah hijab pertama.
Hijab kedua adalah kalbu,mengapa kalbu adalah hijab? Padahal kalbu memberikan cahaya bagi nafs dan merupakan tingkatan alamruhani. Memang kalbu member
ikan cahaya bagi kita, tapi kita terkadang terpukauoleh cahaya kalbu, sehingga kita enggan untuk melanjutkan perjalanan kedua,karena kita telah puas dengan apa yang kita dapatkan di perjalanan pertama. Misalnyakita telah melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) setiap harinya. Akhlak kita telahterhiasi dengan akhlak Rasul dan para Aimmah,akan tetapi setiap harinya kita merasa cukup dan puas dengan maqam tersebut. Inilah manusia yangterperangkap pada maqam LAHUWA (BUKANDIA), padahal ia tengah melakukan perjalanan dari makhluk menuju Allah. Olehkarena itu kita perlu mempersiapkan (melatih) nafs kita menembus cahaya kalbu kita dengan menemukan kesuciankita dari penghalang-penghalang dan godaan-godaan, agar kita dapat termotivasidalam keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Hal ini pun menurut Sayyid Haydar Amuli adalah tingkatantauhid yang paling rendah, yakni Tauhid Fi'li (Tauhid perbuatan). Perjalanankita masih disibukkan dengan nerlindung dari siksa Allah dan mengharap ampunanNya. Ia sudah mengesakanAllah pada tingkat perbuatan (fi'li). Tauhid semacam ini berada pada tingkatan syariatatau Tauhid orang awwam. Kelompok ini terdiri dari dua golongan, yaitu golongan orang-orang yang bertauhid karena mengikuti orang lain atau guru-guru mereka,dan orang yang berhasil memahami keyakinan mereka melalui proses rasionaldengan berupaya merenungkan pemahamannya hingga pada Allah sebagai sebabpertama yang Wajibul Wujud. A'udzu bi afwika min 'ikabiqa (aku berlindungdengan ampunanMu dari siksaMu)
Dalam pandangan Murtadha Muthahhari,ada enam jenjang maqam yang mesti dilalui oleh seorang salik untukmencapai al-Haqq. Keenam jenjang maqam tersebut secara umumdibagi ke dalam dua klasifikasi utama safar. Yang pertama adalah maqamnafs, yaitu upaya langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang salikuntuk membebaskan jiwanya dari kecenderungan-kecenderungan material.Setelah itu perjalanan selanjutnya adalah mencapai maqam qalb. Yaitu,alam ruhani pertama yang mesti dilalui manusia, di satu sisi alam qalbmerupakan maqam, namun di sisi lain alam qalb merupakan hijabbagi seorang salik. Jika alam nafs memberikan hijab berupa kenikmatanmateri, sedangkan alam qalb memberikan cahaya yang bisa menjadi anugerahtapi sekaligus bisa menjadi hijab jika seorang salik terpukau padanya. Selanjutnyaadalah mencapai maqam alam ruh. Setelah seorang salik mampumengalahkan keterpukauan terhadap cahaya-cahaya qalb (hal yangdidapat dalam maqam qalb), maka jiwa manusia akan melintas maqam menujumaqam ruh. Di maqam ruh inilah akhir dari safar pertama manusia.
Perjalanan kedua adalah Safar fi Al-Haq ma'a Al-Haq (Perjalanan dalam Allahbersama Allah). Perjalanan ini telah melewati perjalanan pertama dengan tigamarhalah (terminal) nafs, kalbu, dan ruh. Padaperjalanan ini ada tiga marhalahpula yangharus dilewati oleh seorang salik(pesulukatau pengembara spiritual). Pertama maqam sirr (fana' fi zati) atau kita kenal denganekstase. Kedua maqam khafiy (fana dalam sifat Allah). Dan ketiga maqam akhafa (fana dalam zat dan sifat Allah). Pada tingkatan ini seorang hambatidak lagi melihat hubungan sebab akibat antara dirinya dengan Allah, yangdilihatnya kini adalah sifat-sifat Allah. Ia tidak melihat lagi sifat-sifatselain Allah. Ia melihat pengemis kecil dipinggir lampu merah yang makan denganlahapnya sebagai ungkapan sifat kasih sayang Allah. Ia menyaksikan deritaorang-orang yang ingkar kepada risalah Allah sebagai manifestasi murkaNya.Mereka "merasakan" sifat-sifat Allah bukan lagi dengan mata lahiriyahnya,melainkan dengan pandangan batinnya yang telah menembus dimensi metafisis, iamemahami kesempurnaan sifat Allah bukan hanya dengan akalnya, tapi juga dengankalbunya. Tidak ada fa'il lain selain Allah danmereka menyerahkan segala urusan hanya kepadaNya. Sebagaimana yang dikatakandalam firmanNya "Allah ridha dengan mereka dan mereka ridha dengan Allah (QS, 5: 119).
Sampai disini merekamencapai maqam Tauhid Sifati, maqam keridhaan Allah fana dalam sifat Allah. Jika diperjalanan pertama kita selamat dari syirik besar, di maqam ini kita lepas dari syirik tersembunyi. Kini tidak ada lagiwujud hamba, yang ada hanya wujudNya. Fana.......Tidak ada lagi LA HUWA kecuali HUWA, kemana pun kamu berpaling disituada wajah Allah (QS, 2 : 115). Tauhid Zati, Tauhid pada tingkat hakikatkebenaran. Ana Al-Haq sebagaimana dikatakanoleh Mansur Al-Hallaj. Mereka menyaksikan Allah dengan cahayaNya, melihat Allahdengan Allah, dan mengetahui Allah dengan Allah bukan lewat perantara yang lainsebagaimana kaum awwam.
SalmanAl-Farisi, sahabat Rasulullah saww dan ahlulbaitnya berada di maqam ini, sebagaimana sabda Rasulullah saww, "Sesungguhnya surgalebih merindukan Salman ketimbang Salman merindukan surga." Maqam realisasispiritual dalam perjalanan kedua ini adalah kefanaan dalam zat dan sifat Allah.
Audzu biridhaka an sakhatik wa audzubika minka.
Wallahu a'lam bi shawab
Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala AlihiSayyidina Muhammad. Wa ajjil farajahum
(Ditranskrip dari paket kajian senin malam LDSIAl-Muntazhar Makassar Bersama Sang guru)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar