Sabtu, 14 Agustus 2010

Refleksi jiwa Bertauhid (Sebuah Pengantar Kajian tauhid irfani)

Pengetahuan kita tentangsesuatu mengambil dua bentuk personal dan universal atau dengan kata lain empirikal dan metafisis, sertabersifat fenomenal dan eksistensial. Demikian pula mengenai ma'rifah tentang Allah juga mengambil dua bentuk, yaitu ma'rifah hushuliyah dan ma'rifah hudhuriyah. Yang pertama melalui bukti-buktikosmologis dan yang kedua menurut Ayatullah Taqi Misbah Yazdi (seorang ulamadan filosof Iran kontemporer) tidak diajarkan atau dipelajari sebagaimanapembelajaran konvensional melainkan melalui perjalanan ruhani.

Dalam kajianilmu Tauhid dalam kerangka filosofis kita mengenal pembagian Tauhid dalam tigakerangka konsepsi, yaitu Tauhid Zati, Tauhid Sifati, dan Tauhid Amali. Sehubungan dengan temasentral kita, yaitu Tauhid Irfani (dalam kerangka teoritis), maka dikonteks inisangat berkaitan dengan perjalanan manusia dari satu alam ke alam yang lain.Dimana diantaranya kita akan menjumpai marhalah dan martabat(station dan keudukan) perjalanan yang cukuptinggi. Olehnya itu dalam perjalanan ini kita butuh mursyid (pembimbing), karena kita tidak mengetahui hendak kemanaarah langkah kita berjalan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Mulla Shadra mengatakan bahwa ada empat perjalanan yang harus kitalakukan. Pertama ; Safar minal khalq ila Al-Haq (perjalanan dari makhluk menuju Allah), dari yang majemuk menuju yangtunggal. Bagaimana cara kita melakukan perjalanan ini?. Pada perjalanan inipengenalan kita tentang Allah dalam wilayah konsepsi melalui bukti-buktifilosofis yang kita renungkan secara seksama. Di Maqam perjalanan ini sangat identik dengan safar filosofis, ilmiah, dan teoritis, menyangkut pemahaman kita tentang Allah. Atau dengan kata lain keutuhan niatdan keikhlasan kita dalam mencapai pemahaman pada atribut-atribut Keilahianyang ada dalam konsep ilmu Tauhid kita. Dalam fase ini tentunya kita sebagaimakhluk dipisahkan dari Allah oleh berbagai martabat kemakhlukan kita, salahsatunya adalah nafs (jiwa) kita. Seseorangyang hendak menuju Allah terlebih dahulu melalui nafs baik secara teoritik maupun praksis. Kemudian ia akanmelalui kalbu, kalbu itupun ia harus lalui hingga menjadi ruh. Mengapa kitaharus melalui ruh ini? Sebab kita adalahmateri, dibandingkan dengan sisi spiritual materi adalah gelap. Maka jiwasifatnya gelap, dalam Alquran disebutkan ada nafs ammarah dan nafslawwamah.Karena sifatnya yang gelap, maka dibutuhkan penyucian atau tazkiyatun nafs, inilah hijab pertama.

Hijab kedua adalah kalbu,mengapa kalbu adalah hijab? Padahal kalbu memberikan cahaya bagi nafs dan merupakan tingkatan alamruhani. Memang kalbu member

ikan cahaya bagi kita, tapi kita terkadang terpukauoleh cahaya kalbu, sehingga kita enggan untuk melanjutkan perjalanan kedua,karena kita telah puas dengan apa yang kita dapatkan di perjalanan pertama. Misalnyakita telah melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) setiap harinya. Akhlak kita telahterhiasi dengan akhlak Rasul dan para Aimmah,akan tetapi setiap harinya kita merasa cukup dan puas dengan maqam tersebut. Inilah manusia yangterperangkap pada maqam LAHUWA (BUKANDIA), padahal ia tengah melakukan perjalanan dari makhluk menuju Allah. Olehkarena itu kita perlu mempersiapkan (melatih) nafs kita menembus cahaya kalbu kita dengan menemukan kesuciankita dari penghalang-penghalang dan godaan-godaan, agar kita dapat termotivasidalam keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Hal ini pun menurut Sayyid Haydar Amuli adalah tingkatantauhid yang paling rendah, yakni Tauhid Fi'li (Tauhid perbuatan). Perjalanankita masih disibukkan dengan nerlindung dari siksa Allah dan mengharap ampunanNya. Ia sudah mengesakanAllah pada tingkat perbuatan (fi'li). Tauhid semacam ini berada pada tingkatan syariatatau Tauhid orang awwam. Kelompok ini terdiri dari dua golongan, yaitu golongan orang-orang yang bertauhid karena mengikuti orang lain atau guru-guru mereka,dan orang yang berhasil memahami keyakinan mereka melalui proses rasionaldengan berupaya merenungkan pemahamannya hingga pada Allah sebagai sebabpertama yang Wajibul Wujud. A'udzu bi afwika min 'ikabiqa (aku berlindungdengan ampunanMu dari siksaMu)

Dalam pandangan Murtadha Muthahhari,ada enam jenjang maqam yang mesti dilalui oleh seorang salik untukmencapai al-Haqq. Keenam jenjang maqam tersebut secara umumdibagi ke dalam dua klasifikasi utama safar. Yang pertama adalah maqamnafs, yaitu upaya langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang salikuntuk membebaskan jiwanya dari kecenderungan-kecenderungan material.Setelah itu perjalanan selanjutnya adalah mencapai maqam qalb. Yaitu,alam ruhani pertama yang mesti dilalui manusia, di satu sisi alam qalbmerupakan maqam, namun di sisi lain alam qalb merupakan hijabbagi seorang salik. Jika alam nafs memberikan hijab berupa kenikmatanmateri, sedangkan alam qalb memberikan cahaya yang bisa menjadi anugerahtapi sekaligus bisa menjadi hijab jika seorang salik terpukau padanya. Selanjutnyaadalah mencapai maqam alam ruh. Setelah seorang salik mampumengalahkan keterpukauan terhadap cahaya-cahaya qalb (hal yangdidapat dalam maqam qalb), maka jiwa manusia akan melintas maqam menujumaqam ruh. Di maqam ruh inilah akhir dari safar pertama manusia.

Perjalanan kedua adalah Safar fi Al-Haq ma'a Al-Haq (Perjalanan dalam Allahbersama Allah). Perjalanan ini telah melewati perjalanan pertama dengan tigamarhalah (terminal) nafs, kalbu, dan ruh. Padaperjalanan ini ada tiga marhalahpula yangharus dilewati oleh seorang salik(pesulukatau pengembara spiritual). Pertama maqam sirr (fana' fi zati) atau kita kenal denganekstase. Kedua maqam khafiy (fana dalam sifat Allah). Dan ketiga maqam akhafa (fana dalam zat dan sifat Allah). Pada tingkatan ini seorang hambatidak lagi melihat hubungan sebab akibat antara dirinya dengan Allah, yangdilihatnya kini adalah sifat-sifat Allah. Ia tidak melihat lagi sifat-sifatselain Allah. Ia melihat pengemis kecil dipinggir lampu merah yang makan denganlahapnya sebagai ungkapan sifat kasih sayang Allah. Ia menyaksikan deritaorang-orang yang ingkar kepada risalah Allah sebagai manifestasi murkaNya.Mereka "merasakan" sifat-sifat Allah bukan lagi dengan mata lahiriyahnya,melainkan dengan pandangan batinnya yang telah menembus dimensi metafisis, iamemahami kesempurnaan sifat Allah bukan hanya dengan akalnya, tapi juga dengankalbunya. Tidak ada fa'il lain selain Allah danmereka menyerahkan segala urusan hanya kepadaNya. Sebagaimana yang dikatakandalam firmanNya "Allah ridha dengan mereka dan mereka ridha dengan Allah (QS, 5: 119).

Sampai disini merekamencapai maqam Tauhid Sifati, maqam keridhaan Allah fana dalam sifat Allah. Jika diperjalanan pertama kita selamat dari syirik besar, di maqam ini kita lepas dari syirik tersembunyi. Kini tidak ada lagiwujud hamba, yang ada hanya wujudNya. Fana.......Tidak ada lagi LA HUWA kecuali HUWA, kemana pun kamu berpaling disituada wajah Allah (QS, 2 : 115). Tauhid Zati, Tauhid pada tingkat hakikatkebenaran. Ana Al-Haq sebagaimana dikatakanoleh Mansur Al-Hallaj. Mereka menyaksikan Allah dengan cahayaNya, melihat Allahdengan Allah, dan mengetahui Allah dengan Allah bukan lewat perantara yang lainsebagaimana kaum awwam.

SalmanAl-Farisi, sahabat Rasulullah saww dan ahlulbaitnya berada di maqam ini, sebagaimana sabda Rasulullah saww, "Sesungguhnya surgalebih merindukan Salman ketimbang Salman merindukan surga." Maqam realisasispiritual dalam perjalanan kedua ini adalah kefanaan dalam zat dan sifat Allah.

Audzu biridhaka an sakhatik wa audzubika minka.

Wallahu a'lam bi shawab

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala AlihiSayyidina Muhammad. Wa ajjil farajahum

(Ditranskrip dari paket kajian senin malam LDSIAl-Muntazhar Makassar Bersama Sang guru)

Rabu, 11 Agustus 2010

Humanisme dalam Tinjauan Sains, Filsafat, Spiritualisme


By : Sabara Putra Borneo

Istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks.Humanisme, sebagai sebuah terma mulai dikenal dalam diskursus wacana filsafatsekitar awal abad ke 19. Menurut K. Bertens, istilah humanisme baru digunakanpertama kali dalam literatur di Jerman, sekitar tahun 1806 dan di Inggrissekitar tahun 1860. Istilah humanisme diawali dari Term humanis atau humanum(yang manusiawi) yang jauh lebih dulu dikenal, yaitu mulai sekitar masa akhirzaman skolastik di Italia pada abad ke 14 hingga tersebar ke hampir seluruhEropa di abad ke 16. Terma humanis (humanum) tersebut dimaksudkan untukmenggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan nalar manusiayang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Romawi dan Yunani. Gerakan humanisberkembang dan menjadi cikal bakal lahirnya renaisance di Eropa.

Dalam perkembangannya humanisme di Eropa menampilkan penentangan yangcukup gigih terhadap agama (dalam hal ini Kristen) dan mencapai puncaknya,ketika Augusto Comte mendeklarasikan "agama humanitarian" dan menggantikanagama yang dianggap tidak humanis. Pertentangan ini terus berlangsung, hinggadi pertengahan abad ke 20 para pemuka-pemuka Kristen mulai memberi ruangapresiasi bagi humanisme dan pada konsili Vatikan II (1962-1965) pihak Katolikmemberi respon positif terhadap humanisme. Namun lucunya, ketika kalangan agamamulai mengapresiasi humanisme, diskursus filsafat justru mempropagandakan antihumanisme, khususnya dengan wacana "kematian manusia"nya Michel Fouchault,"absurditas manusia"nya Albert Camus.

Humanisme sebagai sebuah term diskursus menuai berbagai pemaknaan,tergantung berbagai sudut pandang dan tinjauan yang digunakan. A. Lalande,menyebutkan beberapa pengertian humanisme, yang diantaranya ada yang salingbertentangan. Salah satu pengertian humanisme adalah gerakan humanis di Eropayang memandang manusia dalam perspektif "manusiawi' belaka yang bertentangandengan perspektif religius (agama). Di samping itu, A. Lalande juga menyebutkanpengertian humanisme sebagai pandangan yang menyoroti manusia menurutaspek-aspek yang lebih tinggi (seni, ilmu pengetahuan, moral, dan agama) yangbertentangan dengan aspek-aspek yang lebih rendah dari manusia. Ali Syari'atimenyebutkan defenisi humanisme sebagai himpunan prinsip-prinsip dasarkemanusiaan yang berorientasi pada keselamatan dan kesempurnaan manusia.Tampaknya dari berbagai defenisi mengenai humanisme, defenisi yang diajukanoleh Ali Syari'ati lebih mendekati arti humanisme dari sudut pandang etimologis(human atau homo = manusia dan isme = paham atau pandangan).

Sekalipun istilah humanisme merupakan terma yang hanya dikenal dalamdiskursus filsafat, namun humanisme sebagai pandangan mengenai konsep dasarkemanusiaan dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, seperti sains danspiritualisme. Dalam tulisan ini, humanisme coba diurai secara singkat daritinjauan sains, filsafat, dan spiritualisme.

Secara ontologis, sains mendasarkan pandangannya pada diktum fisika Newton yang menyatakan"tiada fenomena yang tak dapat diukur dalam filsafat eksperimental". Diktum inimelahirkan pandangan positivisme yang menekankan metodeempirikal-eksperimentatif dalam memahami realitas. Metode ini meniscayakanlahirnya paradigma reduksionisme-atomistik yang menghasilkan pengerusan padamakna dan hakekat realitas. Dalam nalar saintifik pengetahuan semata bersifatnomotetis dan tidak terdapat pengetahuan yang bersifat ideografis (nilai dankesadaran). Walhasil, humanisme dalam tinjauan sains, memandang manusia taklebih dari fakta empirikal (nomotetis) dan bersifat mekanistik-deterministikserta mereduksi manusia dari hal-hal non empiris, seperti nilai dan kesadaran.Konstruksi manusia dalam pandangan saintifik ini mencapai titik ekstrimnyadalam pandangan Julien O de Lametrie yang menyamakan manusia dengan mesin (L'Homme machine).

Pandangan sains tersebut, menuai kritik yang cukup tajam dari parailmuwan dan filosof yang mencermati dilema-dilema yang muncul dalam faktakemanusiaan sebagai akibat pandangan humanisme yang sangat saintifik(positivistik). Konsep alienasi, deprivasi, "kehilangan jati diri", dan splitpersonality merupakan serangkaian terma yang ditujukan sebagai kritikterhadap implikasi pandangan kemanusiaan yang dihasilkan dari kemajuan sains.Erich Fromm menyebutkan perkembangan teknologi menghasilkan pergeseran mendasardari human thought kepada thinking of machine yang mengakibatkanmanusia tergeser dari pusat peradaban hingga ke "margin-margin" peradaban. Halsenada juga diungkapkan oleh Nicholas Bordayev yang menyebutkan pandanganilmiah dan kemajuan teknologi berakibat pada perbudakan manusia oleh mesin.

Filsafat mendasarkan dirinya pada akal sebagairealitas sublim pada diri manusia. Dengan sendirinya pandangan filosofismemandang manusia tidak hanya sebatas realitas material belaka yang statis dandeterminis, melainkan juga sebagai realitas ideografis yang memiliki persepsidan kesadaran yang bersifat dinamis. Sebagaimana dalam pandangan Jean PaulSartre yang mengklaim filsafat eksistensialismenya sebagai pandangan yanghumanis membagi eksistensi manusia secara bidimensional, yaitu l' etre ensoi (ada dalam diri) dan l' etre pour soi (ada untuk diri). Denganakalnya, manusia berperan sebagai "lakus dunia" yang dapat mempersepsi,mengubah, serta memberi nilai dan makna pada dunia dan hidupnya. Sekalipundemikian, mengenai persepsi, serta nilai dan makna yang dihasilkan akhirnyaberbeda bahkan bertolak belakang antara satu pemikir dengan pemikir lainnya.Jika kita menelusuri humanisme dari sudut pandang filsafat maka kita akanterbawa pada perdebatan panjang yang tiada henti mengenai nilai dan maknakehidupan manusia. Paling tidak kita akan sampai pada perdebatan kalanganfilosof eksistensialis (Nietszche, Kierkegard, Sartre, Jaspers, Marcel, danpemikir eksistensialis lainnya) serta pemikiran para filosof lainnya yang sangattidak memungkinkan untuk diungkapkan dalam pertemuan dan tulisan ini. Namunpaling tidak, humanisme dari sudut pandang filsafat berakar pada pandangan yangsama mengenai manusia sebagai "lokus semesta" yang berkesadaran, dinamis, dandengan kemampuan akalnya senantiasa mencari makna dan nilai dalam kehidupannya.

Jika sains memandang manusia dari sisi matternya, filsafatmemandang manusia dari sudut pandang mindnya, maka spiritualismememandang manusia dari sudut pandang spirit (ruh)nya. Secara ontologis,spiritualisme mendasarkan pandangannya bahwa manusia selain memiliki dimensieksoteris (tubuh), manusia juga memiliki sisi esoteris (ruh) yang bersifattransenden dan Ilahiyah. Dimensi esoteris inilah yang menjadi esensikemanusiaan manusia serta menjadi elan vital bagi gerak dinamis manusia dalamkehidupannya. Spiritualisme sangat menekankan aspek intuitif dalam prosespencapaian makna dan hakekat dari realitas, termasuk diri manusia. Intuisimerupakan potensi epstemologis yang dimiliki oleh manusia untuk mencerap secaralangsung dengan realitas yang tidak terbuka terhadap persepsi indrawi danmenangkap realitas tersebut secara esensial dan utuh. Jika akal dan indra hanyamampu mencerap pengalaman-pengalaman fenomenal manusia, intuisi mengantarkanmanusia untuk mencerap pengalaman-pengalaman eksistensialnya.

Spritualisme berpandangan bahwa Tuhan adalah modus eksistensimanusia yang kepadaNya seluruh manusia mesti menuju. Spiritualisme memandangbahwa realitas spiritual yang merupakan elan vital manusia adalah pancaran dariRuh Ilahiyah (Tuhan) yang bertajalli "dalam" diri manusia danterejawantahkan dalam atribut-atribut ketuhanan yang dimiliki manusia, sepertikesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Sekalipun dengan berbagaipenamaan yang berbeda (Ruh Allah, Ruh Kudus, Atman, Tao, Budha)., namunseluruh tradisi spiritual (agama) sepakat, bahwa spritualitas manusia bersifatuniversal dan tak terbatas dan mengantarkan manusia untuk merasakan danmemaknai secara langsung (hudhuri) kehidupannya. Selain itu, semuatradisi spiritual sepakat, bahwa jalan untuk mencapai keselamatan dankesempurnaan manusia sebagaimana yang dicita-citakan oleh humanisme, adalahdengan membangun keseimbangan dalam hidup antara aspek teoetika ataupenghambaan dengan Tuhan (ibadah), psikoetika atau penyucian jiwa darisifat-sifat tercela, dan diwujudkan dalam bentuk pengkhidmatan kepada sesamamanifestasi-manifestasinya (manusia dan alam) atau sosioetika. Karenamanusia memiliki atribut ketuhanan, maka manusia wajib untuk "berakhlaksebagaimana akhlak Tuhan", sebagaimana yang dikatakan Iqbal "menyerapSifat-Sifat Tuhan dan menjadikannya sebagai elan vital untuk mengubah dunia".

Secara umum, humanisme dalam pandangan sains dan filsafat secara ansich, masih terjebak pada adanya keterpisahan antara "aku" dan "kamu". Halini didasarkan pada pandangan sains yang mendasarkan manusia pada matter(body)nya dan filsafat pada mind, sehingga masih ada my bodyand your body, juga my mind and your mind yang berbeda dan terpisah,hal ini masih memungkinkan lahirnya individualisme. Sedangkan spiritualismeyang mendasarkan pandangannya pada spirit manusia yang tunggal dan universalsangat memungkinkan untuk mengantarkan manusia meninggalkan egoismenya danmenuju cita-cita humanisme universa, yaitu persamaan, persaudaraan, cintakasih, keadilan dan pengorbanan. Pandangan ini bukan berarti menafikan peransains dan filsafat dalam kehidupan manusia. Imam Husein as, menjadi "humanis",bukan karena pandangan empirik atau filosofisnya belaka, tapi intuisilah yangmengantarkan Imam Husein pada pengalaman eksistensial dan merasakan penderitaanmereka yang tertindas. Dan panggilan spirituallah yang "memanggil" Imam Huseinas, untuk berkorban.

"Darah tak akan pernah menghapus noda sejarah.

Yang kita tangisi bukanlah pembantaian,

tapi nurani kemanusiaan yang hilang.

Setiap hari adalah Asyura dan Setiap tempat adalah Karbala"

(Manifesto Perjuangan para Pencinta Ahlul Bait as)


Selasa, 10 Agustus 2010

Deferensiasi Sosial (Yayasan Al-Muntazhar)


A. Latar Belakang

Berbeda itu biasa. Pernahkah Anda sadari betul kata-kata ini ?Dunia terbentang dengan segala macam perbedaan. Tidak ada satu makhluk hidup yang sama persis dengan yang lain. Perbedaan memang anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang begitu indah. Oleh karena itu kita bisa menyatakan bahwa perbedaan itu indah.
Mampukah Anda menganalisa bentuk - bentuk struktur masyarakat berdasarkan adanya perbedaan dan lapisan yang ada. Makalah ini membahas tentang Diferensiasi Sosial.

B. PENGERTIAN DIFERENSIASI SOSIAL

Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertical seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah. Perbedaan itu hanya secara horisontal. Perbedaan seperti ini dalam sosiologi
dikenal dengan istilah Diferensiasi Sosial.
Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang biasanya sama. Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya. Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.
Diferensiasi sosial adalah pengelompokan masyarakat secara horizontal berdasarkan pada ciri-ciri tertentu.

Ciri-ciri yang Mendasari Diferensiasi Sosial.

Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ciri Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
b. Ciri Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c. Ciri Budaya
Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi ataukepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.

Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial

Pengelompokan masyarakat membentuk delapan kriteria diferensiasi sosial.

a. Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya.
Secara garis besar, manusia dibagi ke dalam ras-ras sebagai berikut :

1) Menurut A.L. Krober

Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin)
Mongoloid :
- Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur)
- Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filiphina, penduduk asli Taiwan)
- American Mongoloid (penduduk asli Amerika)

Kaukasoid :
- Nordic (Eropa Utara, sekitar L. Baltik)
- Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur)
- Mediteranian (sekitar L. Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)
- Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Langka)

Negroid :
- African Negroid (Benua Afrika)
- Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina)
- Melanesian (Irian, Melanesia)

Ras-ras khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok) :
- Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan)
- Veddoid (pedalaman Sri Langka, Sulawesi Selatan)
- Polynesian (kepulauan Micronesia dan Polynesia)
- Ainu (di pulau Hokkaido dan Karafuto Jepang)

2) Menurut Ralph Linton

Mongoloid, dengan ciri-ciri kulit kuning sampai sawo matang, rambut lurus, bulu badan sedikit, mata sipit (terutama Asia Mongoloid). Ras Mongoloid dibagi menjadi dua, yaitu Mongoloid Asia dan Indian. Mongoloid Asia terdiri dari Sub Ras Tionghoa (terdiri dari Jepang, Taiwan, Vietnam) dan Sub Ras Melayu. Sub Ras Melayu terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Mongoloid Indian terdiri dari orang- orang Indian di Amerika.
Kaukasoid, memiliki ciri fisik hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sampai coklat kehitam-hitaman, dan kelopak mata lurus. Ras ini terdiri dari Sub Ras Nordic, Alpin, Mediteran, Armenoid dan India.
Negroid, dengan ciri fisik rambut keriting, kulit hitam, bibir tebal dan kelopak mata lurus. Ras ini dibagi menjadi Sub Ras Negrito, Nilitz, Negro Rimba, Negro Oseanis dan Hotentot-Boysesman. Aborigin.

Bagaimana dengan Indonesia? Sub ras apa saja yang mendiami negara kita ini? Indonesia didiami oleh bermacam-macam Sub Ras sebagai berikut:

- Negrito, yaitu suku bangsa Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
- Veddoid, yaitu suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatera Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.
- Neo Melanosoid, yaitu penduduk kepulauan Kei dan Aru.
- Melayu, yang terdiri dari dua :
- Melayu Tua (Proto Melayu), yaitu orang Batak, Toraja dan Dayak
- Melayu Muda (Deutro Melayu), yaitu orang Aceh, Minang, Bugis/ Makasar, Jawa, Sunda, dsb.

b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)

Apa yang dimaksud dengan suku bangsa atau etnis itu ? Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut :
- ciri fisik
- kesenian
- bahasa daerah
- adat istiadat
Suku bangsa yang ada di Indonesia antara lain :
- di Pulau Sumatera : Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Melayu, dsb.;
- di Pulau Jawa : Sunda, Jawa, Tengger, dsb.;
- di Pulau Kalimantan : Dayak, Banjar, dsb.;
- di Pulau Sulawesi : Bugis, Makasar, Toraja, Minahasa, Toli-toli, Bolaang
- Mangondow, Gorontalo, dsb.;
- di Kep. Nusa Tenggara : Bali, Bima, Lombok, Flores, Timor, Rote, dsb.;
- di Kep. Maluku dan : Ternate, Tidore, Dani, Asmat, dsb.
- Irian

c. Diferensiasi Klen (Clan)

Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).

Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada:
- Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga)
- Marga Batak Karo : Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin;
- Marga Batak Toba : Nababan, Simatupang, Siregar;
- Marga Batak Mandailing : Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
- Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) antara lain : Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
- Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) antara lain : Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
- Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De- Rosari, Paeira.
Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang-kampuang. Nama-nama klen di Minangkabau antara lain : Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai, dsb. Masyarakat di Flores, yaitu suku Ngada juga menggunakan sistem Matrilineal.

d. Diferensiasi Agama

Menurut Durkheim agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Agama merupakan masalah yang essensial bagi kehidupan manusia karena menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral (umat). Umat pemeluk suatu agama bisa dikenali dari cara berpakaian, cara berperilaku, cara beribadah, dan sebagainya. Jadi, Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.

1. Komponen-komponen Agama

a. Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.
b. Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya.
c. Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang.
d. Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng.
e. Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.

2. Agama dan Masyarakat

Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu berkembang pula agama atau kepercayaan lain, seperti Khong Hu Chu, Aliran Kepercayaan, Kaharingan dan Kepercayaan-kepercayaan asli lainnya.

e. Diferensiasi Profesi (pekerjaan)

Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau mata pencahariannya. Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi guru memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb. Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya. Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya melaksanakan pekerjaannya.

f. Diferensiasi Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.

g. Diferensiasai Asal Daerah

Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
- masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa;
- masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini : - perilaku
- tutur kata
- cara berpakaian
- cara menghias rumah, dsb.

h. Diferensiasi Partai

Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai. Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran. Pada Pemilu tahun 1999 yang lalu terdapat 48 partai, pada Pemilu tahun 2004 mungkin jumlah partai sudah bertambah lebih banyak.

KESIMPULAN

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat majemuk atau diferensisasi sosial adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat ke dalam golongan – golongan atau kelompok - kelompok secara hoirizontal atau tidak bertingkat. Adapun wujudnya adalah penggolongan penduduk atas dasar ras, susku bangsa, agama dan lain – lain. Dalm pembedaan tersebut tidak menunjukkan tinggi rendahnya martabat atau derajat seseorang sebagaimana yang terdapat dalam stratifikasi sosial atau pelapisan sosial masyarakat.
Dengan kata lain, pembedaan ras, suku bangsa, agama dalam masyarakat Indonesia bukan merupakan bentuk pelapisan sosila, tetapi merupakan pembagian sosial yang mempunyai kedudukan atau derajat yang sama.

Tingkatan Orang Berpuasa (Telaah Puasa dalam Pemikiran imam al-Ghazali)


Puasa merupakan ibadah khusus yang diwajibkan pada bulan yang khusus, yang diserukan pada orang-orang yang “mengkhususkan” dirinya pada keimanan kepada Allah dan risalah RasulNya. Puasa adalah pergulatan manusia menjaga fitrahnya menggapai RidhaNya. Puasa sebuah ibadah dengan tingkatan-tingkatan pergulatan dan faedah tergantung tingkatan orang yang melaksanakannya. Imam al-Ghazali membagi tingkatan orang-orang yang berpuasa ke dalam tiga tingkatan.

Yang pertama adalah level awwam. Pada level awwam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak oleh kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Oleh karena itu pada level ini, puasa adalah latihan untuk mencegah perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat secara berlebihan. Puasa pada level ini adalah menekan hasrat keserakahan dan melatih rasa kebercukupan dan sikap kebersahajaan.

Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya. Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderunga
n ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan yang menghalangi perjalanan kemanusiaan. Oleh karena itu, puasa yang dilakukan pada level ini adalah selain menahan hawa nafsu yang berkaitan dengan makan, minu, dan seks, tapi lebih dari itu adalah mencegah seluruh indera dan anggota tubuh untuk cenderung pada hal-hal yang dilarang oleh Allah

Yang ketiga adalah tingkatan khawwasul khawas, Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA dan hanya tertuju padaNYA, tidak untuk selain DIA. Puasa pada tingkatan ini adalah puasa hati dari segala keinginan dan kecenderungan duniawi dan mengarahkan kecenderungan hati hanya pada Allah secara universal.

Nah. Masuk pada level manakah kita...???

Selamat Berpuasa.

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhamamd wa ala alihi Sayyidina Muhammad wa ajjil farajahum.
¬¬