Selasa, 10 Agustus 2010

Tingkatan Orang Berpuasa (Telaah Puasa dalam Pemikiran imam al-Ghazali)


Puasa merupakan ibadah khusus yang diwajibkan pada bulan yang khusus, yang diserukan pada orang-orang yang “mengkhususkan” dirinya pada keimanan kepada Allah dan risalah RasulNya. Puasa adalah pergulatan manusia menjaga fitrahnya menggapai RidhaNya. Puasa sebuah ibadah dengan tingkatan-tingkatan pergulatan dan faedah tergantung tingkatan orang yang melaksanakannya. Imam al-Ghazali membagi tingkatan orang-orang yang berpuasa ke dalam tiga tingkatan.

Yang pertama adalah level awwam. Pada level awwam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak oleh kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Oleh karena itu pada level ini, puasa adalah latihan untuk mencegah perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat secara berlebihan. Puasa pada level ini adalah menekan hasrat keserakahan dan melatih rasa kebercukupan dan sikap kebersahajaan.

Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya. Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderunga
n ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan yang menghalangi perjalanan kemanusiaan. Oleh karena itu, puasa yang dilakukan pada level ini adalah selain menahan hawa nafsu yang berkaitan dengan makan, minu, dan seks, tapi lebih dari itu adalah mencegah seluruh indera dan anggota tubuh untuk cenderung pada hal-hal yang dilarang oleh Allah

Yang ketiga adalah tingkatan khawwasul khawas, Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA dan hanya tertuju padaNYA, tidak untuk selain DIA. Puasa pada tingkatan ini adalah puasa hati dari segala keinginan dan kecenderungan duniawi dan mengarahkan kecenderungan hati hanya pada Allah secara universal.

Nah. Masuk pada level manakah kita...???

Selamat Berpuasa.

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhamamd wa ala alihi Sayyidina Muhammad wa ajjil farajahum.
¬¬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar