Jumat, 23 Juli 2010


Oleh: Bahrul Amsal

Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan terhadap
Penindasan apapun

Sistem ekonomi kapitalisme yang memiliki mekanisme kerja berdasarkan tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak hubungan produksi yang mengarahkan pada keuntungan terhadap salah satu komponen dalam hal ini adalah kaum pemodal telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Mekanisme kerja seperti inilah yang kemudian mengarahkan kita pada arena pasar bebas dimana didalamnya terjadi pembantaian secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.
Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai melahirkan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme yang menjadi seperangkat bentuk yang menghegemoni lewat jalur-jalur penghisapan dan penindasan telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensinya sehingga memiliki dampak yang cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia. Hadirnya negara-negara kapitalis pasca perang dunia kedua pada sepanjang abad ke-20 telah menggerakkan modalnya berupa uang, aset, dan sumber-sumber dayanya dari lingkup negaranya untuk ditanamkan terhadap lokasi yang memiliki potensi besar untuk menanamkan investasinya. Dengan cara itu mereka mendapatkan laba yang besar dari berkurangnya biaya-biaya produksi dengan adanya pengangkutan barang-barang melalui udara, berkembangya infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi untuk melakukan kontrak-kontrak produksi sampai kebelahan dunia manapun. Corak baru hubungan produksi seperti demikianlah yang kemudian melahirkan sistem kapitalisme global sistem yang pada akhirnya berujung pada imperialisme pasar. Sistem kapitalisme global yang telah melahirkan penghapusan-penghapusan akan batas-batas lokal sebuah kawasan yang nantinya akan membuka peluang bagi pihak-pihak pemodal untuk membentuk perusahaan yang berskala transnasional agar bersatu dalam satu korporasi internasional untuk menguasai pasar sehingga pada nantinya koorporasi-koorporasi inilah yang akan memainkan arah pasar, tarif harga yang dipakai sampai bentuk dan corak dari suatu barang yang diperdagangkan. Berbicara mengenai “pasar” yang merupakan tempat perdagangan bebas bagi pihak kapitalisme adalah bagaimana agar mereka dapat mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun nampaknya sesuai dengan logika mereka yaitu logika akumulasi modal. Untuk memenangkan kompetisisi di pasar maka biaya produksi harus lebih kecil daripada saingannya atau memperkecil jumlah pesaing dengan cara peleburan. Dengan cara ini maka akan melahirkan beberapa pelaku pasar akan berkurang sehingga pada prosesnya akan berdampak pada pembentukan sistem monopoli pasar yang dikemudikan oleh segelintir perusahaan.
Sekarang apabila kita sangkutkan dengan lahirnya konsep neoliberalisme yang merupakan turunan dari peralihan kapitalisme global yang mengusung gagasan yang dikenal dengan konsep liberalisasi, privatisasi dan swastanisasi dan dengan dukungan lembaga-lembaga yang dibentuk oleh negara-negara adikuasa berupa IMF, Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan lainnya yang bertujuan untuk melanggengkan perdagangan internasional dari ketidakstabilan ekonomi maka secara ekonomi dan politik negara-negara yang telah membangun hubungan dengan lembaga-lembaga tersebut akan terkena efek dari ketergantungan mereka apabila telah terjadi guncangan ekonomi internasional.
Perlu kita ingat kembali bahwa ciri dan watak kerja pengembangan kapitalisme itu sendiri selain lahirnya hak-hak istemewa juga untuk mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dengan menggunakan asumsi berupa menciptakan kondisi ketergantungan terhadap mereka dari negara-negara yang telah dikontrol sepenuhnya. Mengusung hingga tercapainya konsolidasi korporasi dan tak kalah pentingnya mereka sampai melebarkan sayapnya kepada mempengaruhi perangkat hukum dan politik dari sebuah kawasan yang talah mereka kuasai. Dalam artian melewati ciri kerja seperti ini maka dibuatkanlah regulasi-regulasi ( Indonesia memiliki UU Migas No.22 tahun 2001 dan UU No.25 tentang penanaman modal asing ) yang dapat memuluskan jalan kapitalisme untuk masuk mengembangkan modalnya dalam satu daerah yang menjadi targetannya.
Indonesia yang merupakan salah satu negara yang memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap lembaga-lembaga internasional tersebut turut terkena implikasi akibat hubungan yang telah terbangun cukup lama dengan mereka . Kenapa sehingga sampai hari ini banyak terjadi penindasan dan penghisapan terhadap negara kita? itu semua akibat kontrak yang telah terbangun sebelumnya sehingga berakibat pada kondisi ekonomi nasional yang tak pernah stabil dan ujung-ujungnya adalah kesengsaraan rakyat. Apabila kita menyinggung peran negara dalam membangun ekonomi yang berkeadilan terhadap masyarakat hari ini nampaknya belum secara nyata akan terlihat hasilnya. Ini semua tidak terlepas dari liberalisasi yang merupakan konsekuensi logis dari ajaran neoliberalisme yang dilakukan dari negara-negara imperialisme untuk melepaskan peran dan tanggung jawab negara terhadap aset-asetnya. Apabila kita melihat dari segala sektor riil yang dimiliki negara kita hari ini maka hampir seluruhnya dikuasai oleh pihak asing sehingga negara hanyalah memiliki posisi sebagai penonton untuk menyaksikan pihak asing memainkan “adegannya di atas panggung sendiri”. Apabila peran negara tak lagi mampu mengontrol segala komoditi yang sebenarnya apabila mampu dikontrol dan diarahkan kepada kepentingan rakyat maka kondisi masyarakat kita tak akan nampak seperti kondisi seperti sekarang ini. Akibat dari dikuasainya negara kita hari ini oleh pihak asing maka kepentingan negara bukan lagi memiliki tujuan untuk memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya. Hal ini dikarenakan telah terjadi kondisi yang dimana negara kita telah menjadi budak belian dari kapitalisme global yang sejatinya lahir bentuk-bentuk fundamentalisme pasar ( baca; penghambaan ) negara kita terhadap mereka sehingga alur kesejahteraan bukan lagi berada pada rakyat kita melainkan telah berbelok untuk mensejahterakan pihak yang memiliki modal besar.
Pengkhianatan negara kita pada ujungnya menciptakan kompeksitas permasalahan dalam negeri yang tak pernah terselesaikan. Singkat kata tidak ada bentuk perhatian oleh negara kita kepada rakyat yang hari ini terjepit diantara kemiskinan yang berkepanjangan akibat pemiskinan struktural yang terjadi secara berlahan-lahan dari dulu hingga sekarang. Makanya jangan heran apabila kita melihat semakin banyaknya masyarakat kita yang berteriak akibat himpitan kehidupan yang semakin menyesakkan dada.
Melihat kondisi realitas sekarang akibat betapa kejinya permainan kapitalisme global yang menjadi maenstream dunia hingga detik ini bahkan sampai mempengaruhi kapan seseorang akan mati akibat nasibnya dikontrol penuh oleh mereka, maka perlu adanya upaya perlawanan dari pihak anti kapitalisme untuk melakukan perubahan secara mendasar agar negara kita terlepas dari kungkungan kapitalisme global.

Sejarah Indonesia adalah sejarah angkatan Muda
( Pramoedya Ananta Toer )

Sedikit banyak penulis telah mengungkapkan bagaimana kapitalisme itu memainkan perannya di dunia ini sehingga pada dasarnya dengan mengikuti tema sentral diatas yaitu gerakan kaum muda menetang kapitalisme global maka perlu bagi penulis untuk sedikit berbicara mengenai gerakan kaum muda dalam membangun gerakan untuk menentang kapitalisme secara nyata.
Sejarah kita membuktikan bahwa spirit resistensi kaum muda yang dibawa dalam menentang segala bentuk penjajahan dan penindasan dari sebuah tirani telah memberikan kita berbagai pelajaran dalam mengkonsepsikan seperti apa bentuk gaya perlawanan kita terhadap penjajahan yang terjadi dalam kondisi disaman sekarang ini. Kapitalisme global yang merupakan common enemi kita sekarang memiliki bentuk penjajahan bergaya baru yang tanpa kita sadari telah merongrong nasib kita kedepannya. Kapitalime yang memiliki keunggulan dalam bermethamorposis seharusnya mampu diimbangi dengan gerakan kaum muda sekarang sehingga kita tidakl lagi latah menyikapi bentukan baru dari perkembangan dialektika kapitalisme itu sendiri.
Perlu dipahami bahwa kapitalisme bukan saja berupa gerakan yang lahir dari sebuah sistem ekonomi yang melahirkan penjajahan dan penghisapan melalui pasar globalnya. melainkan adalah seperangkat ide atau sebuah gagasan yang memiliki bangunan teoritis tersendiri sehingga ia mampu eksis dan bermethamorposis sampai sekarang. Kapitalisme memiliki landasan epistemik yang melahirkan pandangan dunia sampai kapitalisme itu sendiri menjadi seperangkat nilai yang dijalankan oleh hamba-hambanya sebagai protokol dalam setiap perencanaan programatiknya. Tak heran apabila kapitalisme begitu kokoh untuk dapat diruntuhkan bahkan sampai menciptakan proses dehumanisasi serta alienasi masyarakat dari ruang lingkup sosialnya.
Dari sini dapat kita petakan bahwa kapitalisme memiliki dua bentuk penjajahan yang dilakukan secara sistemik. Peluncuran produk yang pada perkembangan didalamnya terjadi pertarungan merek dari barang-barang yang diperdagangkan adalah salah satu bentuk penjajahan untuk menguasai pasar. Bentuk penjajahan lainnya dari kapitalisme adalah meminjam istilah apa yang disebut oleh Antonio Gramsci dengan hegemoni ide atau gagasan. Dua bentuk cara penjajahan inilah kemudian yang saling berdampingan yang akhirnya menuntut kaum muda untuk terus menghabiskan energinya dalam membangun gerakkan kolektiv demi terlepas dari pengaruh momok kapitalisme.
Menurut penulis dalam membangun sebuah gerakan untuk menentang arus perkembangan kapitalisme dimulai dari pembacaan realitas yang hadir dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hegemoni kapitalisme itu sendiri. Realitas sekarang seharusnya mampu dibaca oleh kaum muda sehagai bahan reflektif dan kontruktif sebagai langkah awal untuk membangun sebuah gerakan demi penentangan terhadap apa yang sekarang menjadi background dari penjajahan sekarang. Dengan seperti ini akan melahirkan kesadaran kritis dari penyebab realitas yang terjadi dewasa ini. Pembacaan realitas ini haruslah dibarengi dengan upaya melawan secara sistemik dari upaya-upaya kapitalisme yang membuat masyarakat kita menjadi komunitas kolektif yang tercerabut dari hakikatnya sebagai manusia akibat terperdaya bahkan sampai terlena dari bujuk rayuan produk-produk yang ditawarkan oleh kaum-kaum pemodal yang bersujud dibawah kaki-kaki kapitalisme. Singkat kata kapitalisme hari ini bukan lagi memperdaganggkan sesuatu atas produknya melainkan citra yang terbangun lewat hegemoni mereka. Bila seperti ini maka efek yang hadir secara berlahan-lahan di tengah msyarakat kita adalah budaya konsumerisme. Makanya apabila gerak perlawanan kita selama ini terhadap kapitalisme adalah bentuk materialnya maka akan sangat sulit bagi kita membendungnya. Yang menjadi pertarungan kita hari ini adalah pertarungan akan makna ataukah pertarungan akan produk dari kapialisme itu sendiri?
Perlu juga adanya upaya perlawanan lewat hegemoni ide atau gagasan yang kemudian memberikan pemaknaan terhadap bentukan-bentukan baru terhadap kapitalisme agar apa yang terjadi nantinya bukan lagi budaya yang sifatnya konsmerisme melainkan sebuah gerakan yang bersifat sistematis dan terarah.
Tapi terlepas dari itu perlu adanya upaya perubahan paradigmatik secara meluas terhadap masyarakat kita untuk memberikan asumsi dasar bahwa kerangka bangunan ekonomi dari sistem kapitalisme hanya menimbulkan berbagai kompeksitas masalah terhadap nasib orang banyak
Kaum muda harusnya bersatu dalam membangun gerakan kedepan. Jangan lagi ada dikotomi gerakan dalam menyusun agenda-agenda untuk melawan kapitalisme global. Sebab dengan begitu maka keuatan yang hadir pun dapat lebih massif dari kekuatan-kekuatan sebelumnya
Kaum muda adalah spirit baru bangsa yang mampu menghadirkan perubahan yang siknifikan dalam kerangka kebangsaan yang kian hari terpuruk dalam tatanan Geopol dunia. Kaum dengan harapan berangkat dari pembacaan akan realitas yang tuntas akan mampu berpikir solutif akan keterjajahan bangsa ini dengan harapan tidak ada deviasi paradigma yang terjadi dari kaum mudah yang perlu disadari terkadang terjebak didalamnya.
Keteguhan mempertahankan prinsip adalah salah satu pondasi yang kokoh untuk sebuah gerakan muda melawan kapitalisme global. Idealisme akan perubahan mesti menjadi roh dalam diri kaum muda. Keyakinan yang mesti hadir dalam diri kaum muda bahwa sesuatu yang berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan pasti akan tumbang.[]

Surat untuk Sahabat

Tahukah ternyata perubahan itu letaknya dibelakang..disana ada kisah, keluh kesah, pembelengguan, pembebasan, cawan air mata dengan bingkai emosi yang meledak-ledak, tersembunyi dalam altar pikiran yang tajam nan progres..Hadirlah disana engkau yang bagiku senantiasa berkontradiksi, menjadi sahabat sekaligus saudara, teman sekaligus lawan,belakang sekaligus depan. Benar, keduaan kita senantiasa berawal dari satu yang sama ..sedianya engkau berkata dalam batinku..jangan berhenti..sudahkah engkau tengok dari cawan yang sama kita menimba gunung kita masing-masing hingga tak sadar waktu menjadikan kita beberbeda, kita tak sama, kita saling berlomba,,namun sedianya kita masih dalam satu ruang yang sama, altar yang sama, menara yang sama..dimana kita berdiri melihat, menerawang,mendiskusikan sebuah penantian akan kebebasan, idealisme dan keadilan.
Duhai engkau yang menjadi penempa semangatku dikala ruang baru kekenali, tahukah engkau dari watakmu aku belajar, karaktermu aku menilai, senyummu aku sayang dan dari marahmu aku memahami. Benarkah jika proses itu bukanlah mengenali, melainkan mengingat..mengingat dari yang Ada, Salahkan jika ini salah bagimu, karena kutahu engkau memiliki sejumlah perbedaan denganku, tapi jangan pernah engkau singkirkan dari kepalamu yang tak berhenti bekerja bahwa kita berakar dari buku-buku yang saya, kamar yang sama, piring yang sama bahkan sabun yang sama, tapi aneh bagiku kenapa kita senantiasa tak pernah mengingat kenapa itu terjadi?
Wahai kawanku memilih adalah keharusan, berjalan adalah kemestian, pilihanmu adalah penghargaanku, jalanmu adalah nilai bagaiku, kata-katamu adalah pikir bagiku sedang suaramu adalah memoriku. Walaupun jalan terlihat bercabang, waktu dirasa berbeda, ruang dipikir berlainan, kita adalah anak manusia yang senatiasa berkontradiksi dalam unsur tanah yang sama dikawah langit yang sama hanya saja kita memiliki salah satu ruang dalam kepala kita yang mungkin saja berbeda, tapi ketika engkau berfikir aku pun menggunakan alat yang sama denganmu, bukankah ini persamaan kita.
Persamaan pasti meniscayakan adanya perbedaan. Namun perbedaan itu hanyalah isi laksana anggur yang berada dalam cawan yang sama. Jika dalam harimu engjkau bekerja untuk kaum proletar, maka dalam sudut dunia yang lain akupun begitu, jika engkau emosi kepada bagundal penguasa maka akupun menyematkan dendam yang sama porsinya bagimu. Sahabatku sekalgus saudaraku!!, bahwa dibalik gedung yang mencakar langit itu tersimpan banyak memori yang kan kujadikan pegangan dari tangan kita yang sama. Laksana petir mari kita sematkan dalam-dalam setiap gagasan kita dalam ikhlas yang tulus, emosi yang sayang, marah yang cinta akan satu alegori yang langkahku dan langkamu hanyalah perbedaan aksidental, bahwa kita sama, kita satu, sedia kala menanti satu bahasa akan kehidupan yang entah dimana tapal akan mempertemukan kita.

Mahasiswa Vs Mahasiswa

Mahasiswa VS Mahasiswa
Fema FIS UNM

Jean Paul Sartre, si empunya eksistensialis pernah di paksa turun dari podium tempat ia menyampaikan orasinya pada penghujung aksi yang dilakukannya bersama gelombang mahasiswa pada saat prancis sedang mengalami fase peralihan pasca revolusi yang terjadi pada saat itu. Kekesalan mahasiswa pada saat itu memuncak lantaran keseringannya Sartre sering menjadi orang yang paling depan untuk menyuarakan aspirasi pada zamannya. Pada momen itu mahasiswa menunjukan kesan bahwa sudah saatnya mereka bicara, bukan lagi sebagai massa yang hanya ikut dalam barisan aksi. Jauh di negeri seberang keluar digtum dari seorang pria berkopiah “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kupindahkan gunung Himalaya”, dengan lantang kalimat ini pun menjadi semangat pada saat dimana Indonesia baru keluar dari penjajahan imperialism pada saat itu. Jauh hari sebelumnya sesosok pemuda dengan teman-temannya merencanakan satu peristiwa penting yang ditulis pada buku-buku sejarah kelak. Gerombolan ini merencanakan rencana yang sangat berani, menculik presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Sukarni nama pemuda itu. Dia dan gerombolannya berniat memaksa agar Soekarno serta wakilnya untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia agar tidak lagi dijajah oleh pemerintah belanda.
Masih banyak kisah serupa seperti di atas yang menggambarkan keberanian mentalitas mahasiswa serta daya cekatan yang menjadi salah satu dari identitas yang melekat pada mahasiswa. Pada tulisan kali ini penulis hendak memetakan kepada pembaca budiman bahwa, pada dinamika kampus selalu hadir manisfestasi identitas-identitas yang mewakili mahasiswa sebagai person dalam praktik dan teoritisnya. Perlu diperhatikan dalam fakta yang ada, urgensi pada pembahasan kali ini tidak hendak mengikuti nalar mahasiswa pada konteks teoritisnya saja tapi juga meneropong seluk beluk pertarungan identitas yang nampak di permukaan sebagai pergumulan kepentingan ditinjau dari cara pandang yang ada.
Mahasiswa dikenal dengan idealisme, semangat, daya cekatan, keberanian dan seperangkat nilai yang mendorong ia sebagai civil progress di tengah-tengah masyarakat tempat ia berada. Sejarah menggariskan satu benang merah dan sampai kepada zaman dimana kita hidup, bahwa mahasiswa bukanlah ruang kosong oleh pemaknaan melainkan di dalam katanya terkandung bara api yang menyayat. Kita pada hakikatnya telah dibesarkan oleh sejarah perjuangan para pendahulu kita. Mahasiswa sebagai identitas telah kita terima sebagai baju keseharian kita. Hanya saja baju itu bagi kita tak laik lagi untuk dikenakan karena kelusuhan dan warnanya yang tak lagi cemerlang.

Hedonism: Berhala Mahasiswa
Zaman bukan lagi berbicara tentang seberapa seringkah engkau dipanggil Puang, Andi, Karaeng serta sejenis embel-embel kelas ningrat, malah sudah tergantikan seberapa panjangkah gelar akademik yang diterakan pada nama. Bukan lagi baju bodo, sirrina pacce melainkan bagaimana engkau tampil dengan barang-barang yang engkau miliki. Produk-produk telah menggantikan manusia sebagai esensi identitas sebenarnya. Mulailah zaman menjadi “pameran akbar” para penyembah barang. Jikalau pada zaman dulu, para manusia mempercayai suatu benda yang dianggap keramat memiliki roh dan memposisikan benda tersebut sebagai sesuatu yang sakral, maka tak ada perubahan sama sekali dengan zaman kita. Barang telah menjadi pujaan serta sembahan yang kita sakralkan dalam keseharian kita. Fetisisme produk yang menganggap bahwa barang-barang yang kita miliki memiliki unsur magis, roh dan pesona telah melahap habis nalar yang kita miliki. Melalui apakah unsur magis, roh dan pesona itu bekerja? Demi sebuah life style, demi sebuah prestise dan harga diri, orang-orang ikhlas menghamburkan uangnya hanya untuk dapat eksis dan dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Aku bergaya maka aku ada.
Hedonism telah mengambil posisi tuhan dalam hati mahasiswa sekarang. Sebuah parade kehidupan kampus yang menonjol dan telah menjadi symbol hidup para pemuja berhala produk. Keterlenaan dengan barang menjadikan mahasiswa tampil dengan isu sentral life style. Ukuran engkau ada adalah seberapa banyakkah baju yang engkau miliki, merek apakah barang dan dimana barang itu bisa di dapatkan dan juga pembicaraan absurd lainnya kini menjadi ayat-ayat yang sering dijadikan zikir pada kolektivitas religi yang mereka lakukan. Sebuah identitas baru telah hadir untuk menggusur keberadaan identitas mahasiswa sejati dalam percaturan social kampus.
Sementara pada poros yang lain, terdapat elemen lain yang senantiasa menanti datangnya perubahan dengan cara membangun kolektivitas massa melalui pertemuan-pertemuan pengetahuan. Berdiri di tengah- tengah arus budaya hedonisme sembari memperteguh niat guna meretas sejarah yang lebih baik. Satu identitas dengan comitmen tinggi yang memegang teguh amanah sejarah para pendahulunya. Mereka inilah yang kerap kali diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit untuk selalu eksis. Idiom perjuangan dan ideologisasi telah menjadi makanan keseharian mereka, buku dan diskusi adalah tameng mereka dan idealism adalah penuntun mereka.
Kampus menjadi pentas besar dalam pertarungan sejati antara dua identitas ini, antara hedonisme dan idealism, antara produk dan pikiran. Mahasiswa versus mahasiswa akan selalu terbentang dan menyeret siapa saja di antara kita untuk menjadi para pengikut-pengikutnya.[]

Kiri; Dalam pengertian

“Dia tidak “kiri” lagi. Dia sudah menjadi orang yang pro status quo, kalau begitu dia tidak seperti dulu lagi, dulu dia masih “kiri”, masih sering turun ke jalan, berteriak dan mengadvokasi masyarakat tertindas. Sekarang dia sudah meninggalkan kekritisannya. Dia sudah sepeerti pejabat.”

Sudah terlampau sering kali kita mendengarkan celotehan seperti pada paragraph pembuka di atas. Pada paragraph di atas, penulis hendak menyoroti istilah “kiri”, istilah yang sering kali kita dengarkan pada keseharian kita di kampus. Hanya saja pada hakikatnya masih banyak yang tidak mengenal esensi dari istilah “kiri”. Kiri di zaman sekarang bukan lagi milik sekelompok orang, apalagi jika kita mengetahui hakikat kiri jika dilihat dari sejarah dan spirit yang dibawanya.
Kiri jika dimaknai dengan cara biasa maka akan melahirkan makna yang biasa pula. Kiri artinya lawan dari kanan, itu arti secara harfiahnya. Namun jika istilah ini kita letakkan pada dimensi pemikiran dan maindshet politik, maka dia akan keluar dari batasan makna biasa menjadi makna yang tak biasa. Hanya saja dari sisi mana kita memandangnya, apakah yang kita maksud kiri adalah makna harfiah sebagaimana yang dijelaskan diatas. Ataukah kiri diartikan sebagai posisi yang bersebelahan dengan kanan ataukah kiri hendak kita maknai dalam perspektif ide, gagasan serta corak berpikir tertemtu?.
Bila ditinjau Dalam sejarah perjalannya, ketika terjadi revolusi pemerintahan politik di perancis sekitar abad 16-17 terjadi pembagian dua kubu dalam pergulatan politis pada saat itu yang terjadi dalam tubuh dewan (parlement: Majelis keuangan) dimana tugas utamanya adalah mengawasi mekanisme keuangan kerajaan yang merupakan juga keuangan dari perancis itu sendiri, yang beranggotakan dari unsur-unsur masyarakat, diantara unsur yang mendominasi di kala itu adalah golongan yang mewakili pihak bangsawan, rohaniawan dan golongan dari unsur masyarakat . Dua kubu ini saking bertolak belakangnya, maka dalam suasana forum yang diakibatkan kondisi forum pada saat itu dalam parlemen perancis adalah model forum U maka secara tata letak terbagi dua tempat. Belakangan terminology kiri pada akhirnya mengikuti kecenderungan tata letak forum pada saat itu. Dikarenakan Majelis kanan adalah kubu yang sering mendukukung kebijakan-kebijakan pemerintah (Baca: kekuasaan Raja) maka kubu kanan diisyaratkan sebagai pro pemerintahan. Dan dalam kenyataanya kubu kanan ini sering menempati tempat sebelah kanan forum pada saat itu. Sedangkan yang mengisi tempat sebelah kiri adalah sekelompok cendikia liberal, demokrat dan republikan yang mengatasnamakan rakyat dimana seringkali tidak sepakat bahkan kontra dengan kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh kekuasaan kerajaan dikala itu. Kondisi ini adalah kondisi yang terjadi pada saat perancis mengalami masa transisi pemerintahan, dari pemerintahan yang bersifat monarki absolut menjadi konsep pemerintahan demokrasi. Masa transisi ini di awali dengan kondisi yang mendorongnya dimana Kemarahan terhadap absolutisme kerajaan, Kemarahan terhadap sistem seigneurialisme di kalangan kaum petani, para buruh, dan kaum borguiis sampai batas tertentu, Bangkitnya gagasan-gagasan Pencerahan dan Utang nasional yang tidak terkendali, yang disebabkan dan diperparah oleh sistem pajak yang tak seimbang menjadikan itu semua sebagai sebab elementer yang membawa perancis memasuki era pemerintahan baru yang menganut system demokrasi. Kejadian ini terjadi sekitar abad 16-17. Konon katanya, orang-orang atau golongan yang duduk disebelah kiri forum inilah yang menjadi pelopor gerakan yang bertumpu pada semangat emansipasi. Kelompok ini dikenal dengan nama kaum Jakobin.
Dari pemaparan singkat diatas terminology kiri di asosiasikan dengan makna peletakkan. Maksudnya arti kiri tak ubahnya dengan arti harfiahnya, sebagaimana posisi duduk para anggota parlemen di atas. Namun peninjauan akan gagasan dan spirit yang dibawa oleh “perwakilan rakyat” menjadikan pemaknaan kiri adalah berbeda. Dari sejarahnyalah ide-ide yang diperankan oleh golongan pro rakyat menempatkan perspektif dalam memahami kiri mengambil peran signifikan terhadap perubahan. Peninjauan terhadap gagasan yang dibawa oleh pihak pro rakyat sedikit banyak telah memberikan tafsiran baru terhadap penggolongan tipikal corak berpikir dalam analisisnya apakah gagasan yang dibawa adalah gagasan perubahan atau malah sebaliknya.
Apabila tipikal pemikiran yang bercorak merombak alam pemikiran konvensional maka terminology kiri kemudian menjadi istilah yang melekat pada tipikal pemikiran yang dimaksud. Dalam tinjauan ini, pemikiran yang dimaksud adalah pemikiran yang senantiasa melakukan dekontruksi atau pembacaan kembali terhadap sistuasi social yang dibentuk oleh sesuatu system. Seperti pada kejadian revolusi perancis, hadir segolongan orang atau kelompok yang secara tajam dan analitis membaca sistuasi sosio-politis yang terjadi di zamannya. Dan adalah fakta sejarah kerap kali hadir orang-orang demikian yang mempertanyakan secara kritis situasi zaman dimana ia hidup.
Dalam dimensi epistemologis, kiri diindentikkan dengan corak pikiran yang falsafati. Dalam bahasa sederhana pengetahauan yang ada dijadikan sebagai pisau pembedah untuk mempertanyakan realitas yang membentuk suatu maujud. Maksud dari tipikal pemikiran seperti ini adalah penusukan secara mendalam untuk mempertanyakan asal-usul kejadian yang membetuk konvensi pemikiran yang di anut secara koletif dalam suatu kelompok atau masyarakt tertentu. Jadi penempatan makna kiri terhadap wilayah epistemologis adalah hasil reintrepetasi terhadap kenyataan yang terbentuk oleh sesuatu. Dalam pengertian ilnilah filsafat bukanlah sekedar perkumpulan pertanyaan ultim melainkan sebagai media pikiran yang menghadirkan corak pemikiran yang analitis, kritis dan mendalam. Ciri-ciri dari warna pikiran seperti ini adalah selalu diawali dengan tipologi pertanyaan yang menempatkan pernyataan aksiomatik bukan sebagai pernyataan yang tunggal dan mutlak (apiori), melainkan diletakkan dalam jejaring pernyataan yang terbuka untuk di pertanyakan (a posteriori). “Kenapa” dan “seperti apa” adalah “pertanyaan kiri” yang merupakan akses keluar dari ketertutupan pemikiran yang selalu terpenjara oleh nuansa dogmatis entah oleh dogma agama, Negara ataupun tradisi.
Pada posisi nilai kegunaannya, filsafat sebagai “sumber mata air” pengetahuan, merupakan dasar dari pijakan sebuah pandangan hidup yang menyertakan spirit pengetahuan sebagai etos yang kerap kali meninjau kembali struktur pandangan lama. Dengan cara merombak habis asumsi-asumsi dasar dari sebuah bangunan pengetahuan yang dimapankan. Pengetahuan yang “fixed” ini kemudian di tarik jauh untuk memasuki sejumlah pernyataan ataupun pertanyaan sebagai anti tesis guna memperbaharui pengetahuan yang dimaksud. Pada tingkat selanjutnya, logika sebagai “alat” nalar dijadikan sebagai penopang dasar untuk mensistematiskan perombakan pengetahuan yang sudah “tercerai berai”. Kerap kali filsafat disalah artikan sebagai bangunan asumsi-asumsi yang terjulung tinggi tanpa memperhatikan realitas “materil” sehingga filsafat tidak memiliki peran praktis bagi kehidupan. Pada dasarnya fisafat merupakan lapisan dasar untuk menyiapkan bangunan teoritik bagi sebuah bangunan pengetahuan tertentu. Agar sebuah bangunan teori kokoh maka filsafatlah yang memiliki tugas untuk itu. Pada tahap ini filsafat bisa kita maknai sebagai pandangan dunia yang mempersepsikan segala sesuatu, pada tahap selanjutnyalah hasil intrepretasi ulang (daur ulang) akan dirumuskan secara sistemik untuk dijadikan sebagai landasan keyakinan bagai gerakan selanjutnya. Tugas demikian sering kita istilahkan sebagai ideology. Ideologilah yang nantinya merumuskan tugas lanjutan dari kerja-kerja filosofis dari filsafat. Disinilah filsafat dimaknai sebagai sumber inspirasi kritis sebagai salah satu syarat untuk mengawali filsafat, kesadaran kritis ini kemudian diteruskan oleh ideology sebagai kesadaran gerak untuk mengeksekusi kerja-kerja selanjutnya.
Berbeda halnya dalam dimensi gerakan social, pemaknaan kiri diberikan kepada segolongan kelompok yang mewakiliki pemikiran kritis untuk mengaktualkan dalam ranah gerakan social. Gerakan ini pada sejarahnyalah yang menyemaikan pemaknaan kiri menjadi terminology yang tak biasa. Jika pada penjelasan semula kiri dimaknai sebagai pemikiran dan gagasan pada wilayah epistemologis, maka pada pemaknaan kiri yang kedua ia diartikan sebagai sesuatu yang diaplikasikan pada dimensi gerakan. Pada dimensi gerakan, pemaknaan kiri yang pertama diartikan sebagai filsafat maka pada dimensi yang dimaksud terwakili lewat ideology. Ideologilah yang sepanjang sejarah senantiasa menarik perhatian bagi orang-orang tertentu sebagai panggilan untuk melakukan perubahan. Kiri yang dimaksud dalam pengertian ini adalah simbolisasi dari ketertindasan terhadap kaum papa dan terpinggirkan.[]bersambung

Sokrates dan Meno; Senang belum tentu Hebat

Suatu hari, Sokrates bertemu dengan Meno, sahabat lamanya, di kios ikan pasar Athena. Begitu senangnya, sehingga mereka lama berpelukan. Sokrates kemudian mengajak Meno untuk rehat di sebuah emperan rumah dekat pasar sambil sekaligus berteduh.
"Apa yang sedang kau lakukan saat ini, wahai Meno saudaraku?"
"Aku sedang menjajagi untuk membuka kios usaha di Megara, Sokrates. Makanya aku berkunjung ke Athena untuk melihat bagaimana mereka mengelola kiosnya dan barang-barang apa saja yang dapat ku ambil dari sini."
"Oh begitu. Bukankah engkau sudah punya ladang gandum yang begitu luas dari ayahmu? Apa itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu?"
"Tidak Sokrates. Itu belum cukup bagiku. Aku ingin lebih dari ayahku. Ingin seperti Kranos, saudagar terkaya di Megara. Dia hidup sangat senang dengan semua kemewahan yang ia punya."
"Hidup sangat senang? Bisa kau berikan keterangan yang lebih jelas lagi wahai Meno?"
"Kau memang tidak tahu apa artinya hidup mewah Sokrates. Kranos itu punya segala-galanya. Budak yang ia punya lebih dari 40 orang. Perempuan pun suka padanya. Tidak kurang dari belasan perempuan hilir mudik datang ke rumah Kranos tiap harinya. Merayu untuk menjadi istrinya. Rumah itu amat megah. Berdiri kokoh dengan tiang granit dan lantai batu pualam. Tidak cukup sampai di situ, ia, Kranos, juga memiliki 4 kereta dan 10 ekor kuda. Itu hebat Sokrates. Itu baru namanya hidup."
"Terus, apa hubungannya antara hidup sangat senang dan hebat? Apakah kalau kita hidup dengan hebat maka akan hidup dengan sangat senang?"
"Itu betul Sokrates. Kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Makanya aku datang jauh-jauh ke Athena agar bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan yang lebih daripada Kranos. Aku akan menjadi lebih hebat dari Kranos tentunya."
Di tengah percakapan ini, seorang anak kecil bersama ibunya lewat di depan mereka. Anak itu sangat senang sekali karena ibunya membelikan ia permen gula. Ia jalan berjingkat-jingkat kecil dengan satu tangan menggenggam permen gula dan tangan lainnya memegang tangan si ibu.
"Kau lihat anak kecil itu wahai Meno?"
"Ya Sokrates. Memangnya ada apa?"
"Tadi anak kecil itu begitu senangnya. Tidakkah itu juga hebat Meno?"
"Hebat apanya Sokrates? Menurutku, itu wajar saja. Setiap anak yang diberi permen gula tentu akan merasa sangat senang."
"Jadi, kau menganggap kalau hebat itu tidak identik dengan rasa senang?"
"Maksudmu apa Sokrates?"
"Tadi kau mengatakan kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Bukankah itu sama dengan mengatakan bahwa rasa senang itu identik dengan hebat? Artinya, kalau kita hidup dengan hebat, itu akan membuat kita hidup senang. Bukankah begitu wahai Meno sahabatku?"
Meno bingung dengan pertanyaan dan kata-kata Sokrates. Ia mulai kehilangan kata-kata.
"Iya, mungkin, Sokrates."
"Kenapa mungkin? Kalau rasa senang itu identik dengan hebat, maka anak kecil yang tadi mendapat permen gula itu pun bisa kita bilang hebat Meno. Hanya dengan sebuah permen gula yang kecil, ia bisa merasa sangat senang."
Meno akhirnya tak mampu berkata-kata. Ia merasa terpojok dengan ucapan Sokrates. Hanya dengan contoh kecil saja, Sokrates telah membuat lamunannya yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.
"Aku tidak melarangmu menjadi hebat atau melebihi kehebatannya Kranos, wahai Meno. Aku ingin kamu menentukan tujuan hidupmu menjadi hebat bukan semata-mata karena melihat orang lain."
Setelah itu, Sokrates menepuk pundak Meno, lalu mengajaknya pergi bertandang ke rumahnya untuk sekadar bersantap ala kadarnya. Meno mencari temannya terlebih dahulu
dan mereka bertiga menuju rumah Sokrates.

Bukan Untuk Menggurui


Politik adalah usaha untuk menciptakan tatanan sosial yang baik (berkeadilan, sejahtera, adanya kebebasan, persamaan, dan lai-lainnya yang baik-baik). Dan usaha itu bisa efektif diwujudkan melalui pranata-pranata sosial atau lembaga-lembaga negara. Sayangnya hampir semua lembaga-lembaga negara saat ini tdk steril lagi dari perilaku korupsi.

Terjadi di Departemen pendidikan, Departemen Agama, Dirjen Pajak, kepolisian, pengadilan, kejaksaan, legislatif (DPR-RI-DPRD II), eksekutif (Pemda Prov/Kota/kab), kecamatan, lurah, desa, sampai RT dan lingkungan. Lalu bagaimana mungkin akan tercipta tatanan sosial yang baik itu, jika lembaga-lembaga negaranya sampai di tingkatan terkecil tidak steril dari praktek korupsi ?

Bangsa ini betul-betul sangat parah, tokoh Muhammadiyah Syafi'i Maa'rif pernah berkata mari kita sempurnakan kehancuran Indonesia...atau kata Kwik Kian Gie, Indonesia sedang mengalami masa penurunan,,,tugas kita adalah mempercepat laju penurunan itu sampai kejurang paling dasar….agar muncul generasi-generasi baru yg bersih (masa pencerahan) yg jauh lebih bisa memakmurkan Indonesia...

“Kaum intelegensia yang berdiam diri di tengah keadaan yang mendesak, sesungguhnya telah meruntuhkan kemanusiaannya (Soe Hok Gie)”………Mari berbuat sekecil apa pun usaha itu…

“Mari Menjaga Diri Masing-Masing, Tuhan Maha Melihat”

Pappasang Institute Makassar
Minggu, 18 April 2010

Korupsi dan Budaya Siri’ Pacce

Oleh : Arman Syarif
(Penanggungjawab Wacana Politik, Hukum dan HAM Pappasang Institute Makassar)

Setelah membaca Harian Fajar edisi 11, 14 dan 21 Desember 2009 tentang penghargaan korupsi, betapa malunya penulis bersama dengan rekan-rekan guru sebagai warga Sulsel. Bahwa menurut temuan Bappenas dan ICW, dari 86 kasus korupsi dengan jumlah tersangka 217 orang, sebanyak 26 kasus atau 30,2 persen di antaranya terjadi di Sulsel, sehingga Sulawesi Selatan dikategorikan sebagai provinsi terkorup se-Nusantara. Padahal baru saja sebagian besar masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Sulsel pada khususnya secara massif menyatakan perang melawan korupsi melalui peringatan hari antikorupsi se-dunia pada tanggal 9 Desember 2009 lalu.
Penghargaan ini tentu merupakan pukulan besar bagi rakyat Sulsel. Penghargaan yang begitu memalukan ini sudah semestinya menggugah nurani para penegak hukum untuk lebih serius menindaki para pelaku korupsi. Atau setidaknya penghargaan ini sudah mampu membangkitkan kesadaran kritis masyarakat Sulsel untuk senantiasa melakukan kontrol atas kinerja lembaga-lembaga publik di daerah ini. Betapa ‘bijak’ dan ‘baiknya’ kita jika terus merelakan uang yang disetor ke negara lewat pajak ternyata tidak digunakan untuk membangun kemaslahatan bersama tetapi harus dinikmati oleh segelintir orang dengan cara yang melawan hukum.
Mengutip pandangan Ikhwan Fahroji dkk (2005) bahwa salah satu faktor eksternal penyebab terjadinya korupsi ialah lemahnya pengawasan oleh masyarakat atas institusi publik. Sementara Ian McWalters, mengemukakan bahwa masyarakat seharusnya tidak hanya menerima korupsi itu salah secara sosial dan merugikan sektor ekonomi, tetapi mereka juga harus menyadari akan adanya konsekuensi bersalah secara individual bahwa mereka sebenarnya terlibat didalamnya. Dengan demikian akan lahir sebuah kesadaran bahwa korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) yang memiliki dampak yang luar biasa pula, baik terhadap kemanusiaan, kemaslahatan dan kemajuan sebuah bangsa.

Budaya Siri na Pacce
Apalagi masyarakat Sulsel masih dikenal begitu kental budaya siri dan paccenya. Selain sudah menjadi tuntunan agama dan norma hukum, semestinya dengan budaya siri’ dan pacce itu sudah mampu menuntun dinamika pergaulan hidup Bugis-Makassar dalam seluruh segmen kehidupan untuk selalu menampilkan sisi dan kualitas kemanusiaan yang terbaik tanpa terkecuali di lingkup pemerintahan.
Dalam buku yang berjudul Siri’ ; Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis – Makassar (1995), Laica Marzuki menyatakan bahwa secara harfiahnya (‘leksikal’)-dalam bahasa Bugis-Makassar siri’ berarti rasa malu. Lebih lanjut Laica Marzuki menjelaskan, siri’ sebagai suatu sistem nilai sosiokultural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.
Sementara budayawan Ishak Ngeljaratan sering mendefinisikan pacce atau pesse sebagai kepekaan diri (sense), rasa solidaritas, rasa perikemanusiaan yang menuntut seseorang untuk berempati atau memiliki kepedulian sosial. Dari budaya pacce atau pesse-lah melahirkan nilai dan konsep sipakatau (saling memanusiakan) , sipakala’bere’ (saling menghargai) dan sipakainga’ (saling mengingatkan).
Kini, dengan santernya pemberitaan media massa tentang penghargaan korupsi atas provinsi Sulsel maupun maraknya perilaku korupsi di berbagai daerah, seolah-olah telah menghancurkan seluruh bangunan tata nilai dan kearifan budaya lokal tersebut. Menjungkirbalikkan keluhuran makna budaya siri’ dan pacce. Martabat kedaerahan kita (Sulsel) seolah-olah telah direndahkan, dihinakan, dan dipermalukan hanya karena ulah tangan segelintir orang yang juga adalah simbol kedaerahan, padahal ‘mereka’ telah diberikan amanah dan kepercayaan oleh rakyat untuk mengurusi hajat hidup orang banyak.
Khusus di daerah penulis sendiri (Jeneponto), terkadang ada rasa malu yang muncul. Setiap saat media massa di daerah ini selalu memberitakan tentang korupsi yang terjadi di lingkup institusi pemerintahan. Misalnya tentang temuan BPK-RI beberapa bulan lalu akan adanya indikasi penyelewangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Jeneponto untuk tahun anggaran 2008 sebesar Rp. 99 Milliar (Fajar, 03/11/09). Atau tentang kasus korupsi pembebasan lahan pembangunan Waduk Kareloe kecamatan Kelara yang merugikan negara sebesar Rp. 5 Milliar, yang sampai saat ini para terpidana belum dieksekusi sekalipun telah ada keputusan hukum yang tetap dari Mahkamah Agung.

Bias Makna Siri’ na Pacce
Semestinya kita berbangga sebagai generasi Bugis-Makassar bahwa para leluhur kita meninggalkan sebuah ajaran atau budaya yang begitu luhur. Sekalipun demikian pada konteks ke kinian, dalam prakteknya keluhuran nilai budaya siri’ dan pacce tersebut banyak mengalami degradasi, pergeseran atau bias makna. Dalam amatan penulis, setidaknya ini terjadi karena beberapa faktor eksternal.
Pertama, mengalami degradasi dan pergeseran makna disebabkan oleh arus modernisasi dan globalisasi. Seseorang dengan mudahnya menjadi sangat individualistik, misalnya menjadi orang kaya yang kehilangan kepedulian (pesse) di tengah masyarakat yang masih banyak miskin. Seorang pejabat negara dengan tanpa rasa malu (siri’) melakukan praktek korupsi di tengah kehidupan rakyatnya yang masih dililiti kesusahan.
Kedua, seringkali seseorang yang memiliki jabatan tertentu dalam sebuah instansi (termasuk pejabat pemerintahan) yang miskin akhlak atau kejujuran menyalahartikan konsep siri’ dan pacce/pesse. Karena tidak mau dikucilkan dan direndahkan ‘martabatnya’ dalam lingkungan keluarga dan kelompoknya, tak sedikit para pemegang kuasa berpikir untuk menyalahgunakan jabatan yang dimilikinya. Misalnya dengan melakukan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
Sekalipun demikian, penulis tetap berkeyakinan bahwa konsepsi budaya siri’ dan pacce/pesse adalah bagian dari budaya Bugis-Makassar yang begitu luhur yang senantiasa harus dirawat dan dihidupkan. Terutama di tengah gempuran arus globalisasi yang banyak membawa nilai destruktif bagi tatanan hidup orang timur. Dalam hal ini mencakup budaya, etika, moral, dan norma.
Yang paling penting adalah kita bisa merefleksikan ulang makna siri’ dan pacce/pesse sebagai bagian dari budaya lokal yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran universal yang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat geografis maupun ikatan primordial kedaerahan. Sebuah budaya (jika tidak ditafsirkan secara kaku dan sempit) bisa mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan kemaslahatan hidup, baik bagi kehidupan pribadi seseorang maupun bagi kehidupan sosial kemasyarakatan (temasuk dalam konteks kenegaraan).
Sebuah budaya yang mampu menuntun manusia agar senantiasa berbuat baik dan benar pada diri dan realitas sekitarnya. Misalnya, bisa menuntun diri seorang pejabat pemerintahan daerah untuk senantiasa berbuat yang terbaik (pacce) terhadap rakyat dan daerahnya. Malu (siri’-siri’ki) ketika daerah yang dipimpinnya tertinggal dari daerah lain. Malu ketika daerah yang dipimpinnya dipojokkan oleh daerah lain sebagai daerah yang tinggi tingkat kemiskinan dan penganggurannya. Malu ketika dikenal oleh daerah lain sebagai daerah yang paling rendah pelayanan publiknya. Malu ketika disebut oleh daerah lain sebagai daerah yang tinggi tingkat korupsinya. Semoga saja demikian. Wallahu a’lamu bisshawab.

Spiritualitas Puasa: Tak Sekedar Laku Tapa (Materi Kajian Jelang Ramadhan LDSI al-Muntazhar Makassar, Selasa 20/07/2010)


Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.I

A. Mukaddimah

Betapa Indah Ramadhan jika kau mengetahuinya
Tapi, untuk memahaminya bukanlah dengan mata dan nalarmu
Tapi,dengan ketajaman dan kehalusan hatimu yang merindu.

Ramadhan bak taman indah yang memendam perbendaharaan keagungan, kemuliaan, dan kesucian yang tiada bandingan. Secara kosmologi metafisis, Ramadhan adalah cakrawala bagi tercurahkan dan tercerahkannya karunia semesta. Sehingga wajarlah, jika semua aktivitas kita di bulan ini bernilai ibadah yang fadhilahnya berlipat ganda. Jika kita berpikir secara analitis-logis, maka kita akan menyatakan; “apa bedanya Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain?”. Jika ia jatuh di pertengahan tahun maka ia akan terasa panas dan jika ia jatuh tepat di akhir atau di awal tahun, maka kita akan melalui Ramadhan yang dingin dan hujan. Bukankah Ramadhan hanyalah bulan yang terdiri dari 29 atau 30 hari, seperti bulan-bulan Hijriyah yang lain?. Kemuliaan Ramadhan, tak akan mungkin bisa didedah oleh nalar, diurai oleh rasio, dideskripsikan oleh imaji, dan dimengerti sepenuhnya oleh persepsi. Karena Ramadhan adalah bulan cinta dan kerinduan pada keagungan dan kemuliaan, yang hanya bisa dipahami oleh hati manusia yang diliputi cinta dan kerinduan pada Sang Maha Agung dan Maha Mulia.

Puasa adalah salah satu hal penting yang menjadi penanda kemuliaan Ramadhan. Puasa adalah riyadhah spiritual yang bersifat sangat pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Sebuah laku spiritual yang mendidik manusia untuk memantik kesadaran reflektif metafisis untuk diejawantahkan pada kehidupan fisis. Sebuah ritus individual, yang akan mengantarkan pelakunya menyublim dari “kebekuan” material yang ephimeral menuju keluasan spiritual yang eternal. Tapi, puasa bukanlah laku tapa, yang menuntut pelakunya untuk “pergi” dari dunia dan kemudian berasyik-ma’syuk dengan halimun semesta. Puasa tak sekedar laku tapa, yang memestikan pelakunya meninggalkan bising dunia. Tapi puasa adalah kelana jiwa untuk memecah rahasia kesunyian ultim di tengah hingar-bingar kebisingan dunia. Karena apa artinya menyelami keheningan dalam senyap?, sejatinya manusia adalah melabrak keriuhan dan ramai lalu berbisik lirih pada kesunyian primordial yang ada dalam dirinya.

Puasa mengajarkan kita
Mengikis tebalnya daki kuasa harta
Dan mendengarkan bisik lirih
Yang tak akan kita dapati
Jika mata kita masih silau oleh fatamorgana

B. Puasa dan Tradisi Spiritualitas/Mistisisme

Tak ada satu pun tradisi mistik atau spiritualitas yang tidak menyertakan puasa sebagai ritus utamanya

Jika kita mempelajari tradisi mistisisme atau spiritualitas di keyakinan mana pun, maka kita pasti menjumpai puasa sebagai salah satu ritus terpenting. Jika kita ingin mendapatkan ilmu-ilmu supranatural, baik yang “hitam” maupun yang “putih”, maka hampir dipastikan puasa menjadi tirakat yang terpenting. Semua tradisi mistik dan spiritual mengenal puasa sebagai media yang paling efektif untuk mengantarkan manusia melepaskan diri dari belitan kepadatan materi menuju pengelanaan alam mistik atau spiritual.

Alam materi atau alam kama sering dikontradiksikan dengan alam spiritual dan alam mistik atau alam batin/alam rupa. Alam spiritual atau alam mistik adalah dimensi yang halus dari alam ini, sedangkan alam materi merupakan jenjang alam terendah yang berdimensi kasar. Oleh karena itu, untuk menembus alam spiritual atau alam mistik, manusia harus melakukan pelampauan terhadap alam materi. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan, menekan, mengurangi, dan bahkan membunuh hasrat dan kecenderungan-kecenderunga
n ragawi untuk selanjutnya berhasrat pada kecenderungan supranatural atau adiduniawi.

Tradisi spiritual atau mistisisme sangat menekankan pada latihan atau riyadhah-riyadhah yang sangat ketat dalam ajarannya. Latihan atau riyadah itu bertujuan untuk menajamkan sisi batiniah manusia, dilakukan dengan memperhatikan banyak pantangan-pantangan yang sangat keras. Pantangan-pantangan itu berlaku baik secara temporer maupun permanen, pantangan tersebut berkisar pada upaya menahan atau menekan hasrat-hasrat biologis atau kecenderungan ragawi manusia lainnya. Seperti makan, minum, seks, bahkan tidur dan bicara pun dilarang untuk dilakukan. Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam tradisi spiritual maupun mistisisme, puasa menjadi media penting untuk melatih kecenderungan jiwa manusia dalam hal menekan hasrat-hasrat instingtif material guna mengantarkan jiwa manusia menembus petala alam spiritual atau alam mistik. Dengan puasa, manusia menjadi terlatih untuk mengendalikan hasrat ragawi yang liar, sehingga mampu membebaskan jiwanya untuk “terbang” dan merasakan kedalaman dan keluasan dimensi alam batinnya yang amat halus, sehingga pelakunya mampu menyerap kekuatan alam batin yang amat dahsyat.

Islam sebagai agama yang juga sangat menekankan spiritualitas sebagai inti ajarannya berdasarkan metafisika (Tauhid) sebagai pandangan dunianya. Tentu saja menjadikan puasa sebagai salah satu pilar penting yang mengantarkan manusia pada ketinggian derajat kemanusiaan (takwa). Namun, puasa dalam tradisi spiritualitas Islam berbeda dengan yang lain. Puasa tidak ditujukan untuk memperoleh ilmu kedigdayaan mistikal atau puasa tidak ditujukan pada hal apapun selain Allah sebagai tujuannya. Puasa sebagai ibadah yang bersifat sangat pribadi antara seorang manusia dengan Tuhannya, melatih kejujuran dan keikhlasan seorang hamba untuk berbakti pada Sang Khalik. Dan Puasa dalam tradisi Islam adalah bentuk implementasi kecintaan orang-orang beriman kepada Kekasih Sejatinya. Sehingga wajarlah dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Puasa untukKU dan AKU sendiri yang akan menilainya”.

Puasa
Bisik lirih di keheningan semesta
Bersama zikir yang dihantar ketulusan cinta
Menyelami rahim samudera: alpha-omega
(Barack al-Raniri)

C. Puasa: Sebuah Pergulatan Akbar Manusia dengan Dirinya

Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan dengan dirinya sendiri. (Thuong Huo Dhuong)

Alkisah sepulang dari Badar, perang akbar pertama antara umat Islam dan kaum kuffar, di mana pasukan muslim yang jumlah tiga kali lebih kecil berhasil peroleh kemenangan yang gilang-gemilang. Tiba-tiba di tengah sorak-sorai dan yel-yel kemenangan, Rasulullah saww bersabda yang memecah euforia massa, “sesungguhnya kita baru saja dari jihad kecil dan bersiaplah untu jihad yang lebih besar”. Para sahabat pun heran dan bertanya; “Ya Rasulullah, perang apa lagi yang lebih besar dari perang Badar ini?”, Lelaki agung itu menjawab; “Jihad akbar (perang besar) adalah jihad melawan hawa nafsumu”.

Puasa merupakan riyadhah yang lebih ultim dari sekedar laku tapa, karena puasa memantik nalar rasional sekaligus menyuluh rasa cinta yang meluap-luap dari seorang insan. Kesadaran rasional terpantik untuk melawan bengkalai diri yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan. Itulah hawa nafsu yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi (Kecenderungan syaitaniyah) yang dehumanis. Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik yang mampu mengontrol diri untuk hantarkan jiwa berjalan pada jalannya.

Pada level awwam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya. Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan. Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA dan hanya tertuju padaNYA, tidak untuk selain DIA.

Puasa adalah pertarungan primordial sekaligus kelana diri manusia pada kediriannya. Dan dalam kelana itu manusia harus berhadapan dengan “makhluk-makhluk” penggoda yang akan menghalangi jalannya. Saya teringat pada sebuah kisah dalam Kitab Serat Dewa Ruci. Dikisahkan dalam kitab tersebut Bima berhasrat untuk bertemu dan menyari hikmah dari Dewa Ruci. Berjalanlah Bima ke arah gunung menembus hutan hingga akhirnya ia tiba di pinggir lautan. Dalam perjalanannya Bima dihadang oleh raksasi, naga yang menyemburkan api, dan siluman kera. Ketiganya adalah perlambang keserakahan, nafsu amarah, kelicikan dan egoisme. Setelah berhasil mengalahkan ketiganya Bima pun peroleh petunjuk bahwa Dewa Ruci adalah di dasar samudera. Menyelamlah Bima ke dasar Samudera tuk berjumpa dengan junjungannya, tapi alangkah terperangahnya Bima, ketika yang dijumpainya sebagai Dewa Ruci adalah sosok dirinya sendiri yang begitu sangat kecil.

Dalam kitab Bagavad Ghita, dikisahkan tentang Kresan yang bersabda pada Arjuna di medan kurusetra, “Wahai Arjuna sesungguhnya yang kau perangi bukanlah diri-diri yang tampak, tapi yang dibalik diri-diri yang tampak itu. Sebagai ksatria yang baik, kau diutus untuk melakukan perkelahian yang baik”. Perkelahian yang dimaksud oleh Sang Kresna itu adalah perkelahian internal antara diri kita dengan diri-diri yang tak tampak itu, yang letaknya ada “dalam” diri kita. Puasa sebagai jihad akbar, merupakan peperangan besar yang sangat dahsyat antara diri kita dengan “diri” kita sendiri.

Hidup ini adalah lingkaran derita (Samsara)
Derita disebabkan oleh hasrat
Dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan
“Meniadakan” hasrat
“Meniadakan” Hasrat dilakukan dengan melakukan delapan jalan Darma
(Sidharta Gautama)

D. Puasa: Laku Tapa Yang tak Biasa di Tengah Kehidupan Yang Biasa
Puasa tak sekedar laku tapa untuk gapai digdaya, tapi puasa adalah penyuluh cinta, peneguh jiwa, dan pengobar asa untuk ubah dunia.

Puasa tak sekedar laku tapa yang mensyaratkan untuk tinggalkan hingar-bingar dunia lalu menyepi pada keheningan rimba, mengisolasi diri seolah-olah manusia hidup sendiri. Begitu banyak para petapa yang menjalani latihan tapa-brata selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun menyepi dan tak bersentuhan dengan dunia. Uzlah dan kontemplasi dalam hening nyepi dan tirakat dirasakan sebagai sebuah “persetubuhan” personal sang petapa dengan Tuhannya. Lalu selanjutnya apa? Tak ada apa-apa, selain hening semedhi dan tapa-brata, hanya desah nafas yang teratur berpadu dengan desah semesta yang tak henti mengalun. Tak ada jejak, tak tertoreh semangat juang, selain nestapa pengasingan dalam kesendirian bercinta dengan Tuhan tapi menafikan pengkhidmatan pada makhluk ciptaan Tuhan.
Puasa adalah laku tapa yang tak biasa, yang tak melarang manusia untuk menjalani kehidupan biasa. Puasa menuntun manusia untuk mendengar suara kebanaran di tengah hingar-bingar dunia yang kesetanan. Puasa lebih dari laku tapa, tapi riyadhah untuk tajamkan rasa. Kerahasiaan ibadah memantik keikhlasan dan kejujuran, lapar dahaga menyuluh empati dan simpati pada mereka yang berkekurangan. Sejatinya puasa melatih kesederhanaan dan menyuluh perlawanan, pada rezim dan korporasi yang telah melaparkan jutaan manusia. Puasa bukanlah diam atau ekstase dalam aroma cinta dengan Sang Khalik. Tapi puasa adalah penyatuan kedirian insan dalam hakekat persaudaraan Ilahiyah dan menyerap elan vital Rabbaniyah untuk selamatkan dunia. Itulah sebabnya, orang yang telah sempurna puasanya, berhak untuk mendapatkan titel fitah bertogakan takwa.

Penyatuan dengan Tuhan adalah “melebur” dan “menyerap” Sifat-sifatNYA, lalu menjadikannya sebagai elan vital bagi kekuatan untuk mengubah dunia. (Muhammad Iqbal Lahore)

Selamat Menyambut Bulan Mulia
Marhaban Ya Ramadhan

Islam Intelektual

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.I

Penerimaan manusia terhadap otoritas Alquran dan sunnah rasul sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan akan memberikan sinergitas bagi kerja-kerja akal serta memberikan kontribusi bagi proses pengayaan dan pembentukan pola berpikir. Alquran merupakan kitab suci yang memiliki keragaman tema pembahasan yang menyangkut persoalan-persoalan yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Alquran mengandung muatan semangat intelektual dan metodologi yang komprehensif dalam menganalisis realitas dan problematika kehidupan manusia.

Islam (yang saya yakini) adalah konstruksi keyakinan yang dibangun berdasarkan pendekatan intelektualitas berbasis pandangan yang rasional-filosofis. Oleh karena itu, superioritas akal mestilah dihargai, namun di sisi lain otoritas wahyu sebagai firman suci Ilahi sangat dihormati. ”Berpikir bebas” merupakan perwujudan dari pola pikir Qurani. Karena, tanpa pendekatan intelektual, Islam hanya akan menjadi sekumpulan doktrin yang bersifat kaku dan statis. Padahal, sejatinya Islam adalah agama yang sangat dinamis dan bersinergi dengan nalar sehat manusia.

Penerimaan otoritas Alquran dan sabda nabi, akan membangkitkan akal dalam proses pengayaan dan pembangunan pola pikir, paradigma, dan epistemologi yang alami. Dengan kata lain, untaian doktrin yang termaktub dalam Alquran dan hadis sangat berkesesuaian dengan alur nalar manusia yang rasional. Hal ini diyakini karena khasanah tema-tema pembahasan dalam Alquran sangat beragam dan luas, memiliki alur logika, semangat dan metodologi yang komprehensif. Karena pijakan inilah, sebagai umat Islam, kita senantiasa harus bersikap kritis dan evaluatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada.

Ilmuisasi Islam mesti dipahami sebagai upaya untuk ”membingkai” universalitas Islam dalam sebuah skema konseptual, tata nilai, dan sikap hidup. Sebagai sebuah ”upaya”, maka proses ini mesti pula dipahami sebagai sebuah proses untuk memahami Islam dan mengkontekskannya dengan kondisi zaman yang berkembang. Oleh karena itu, pilihan terhadap pendekatan intelektual dalam memahami Islam menjadi sebuah perangkat epistemologis dan metodologis menjadi sebuah keniscayaan logis.

Secara normatif, pilihan epistemik yang menjadikan pendekatan dan tema intelektualitas sebagai basis epistemik dalam mengilmui Islam didasarkan pada firman Allah swt dalam Alquran surat surat al-Isra ayat 36, yang berbunyi:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya. (QS; 17: 36).

Kerangka paradigma epistemik ini menawarkan sebuah bentuk konsepsi dan keyakinan tentang Islam yang unik, menarik, dan holistik. Yaitu Islam yang dibangun di atas basis-basis teoritik yang ditelaah dalam kerangka rasional filosofis. Pilihan pada konstruk epistemologi rasional dalam memahami Islam, telah melahirkan keyakinan yang kuat akan superioritas Islam sebagai sebuah ajaran yang cakupannya melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Penerimaan terhadap Islam sebagai ajaran yang holistik, selain membawa implikasi intelektual, juga menuntut ketaatan yang maksimal pada seluruh ajaran Islam. Dan di saat yang sama melahirkan kesadaran untuk selalu bersikap kritis pada berbagai paham yang berkembang.

Ketundukan pada aspek normatifitas Islam, didasarkan pada pendekatan intelektualitas dalam memahami Islam. Dengan kata lain, bersikap normatif merupakan konsekuensi logis dari pandangan intelektual. Atau, ”sikap normatif merupakan keniscayaan intelektual dan pandangan intelektual merupakan landasan dari pilihan hidup normatif.” Secara epistemik keilmuan Islam berkarakteristik intelektual serta secara praksis implementasi ajaran Islam sangat menekankan aspek normatifitas Islam sebagai sikap hidup. Yaitu, pendekatan intelektual dalam memahami Islam, serta secara praksis diwujudkan dengan implementasi fiqh dan penekanan pada doktrin moralitas (akhlak) Islam yang sangat ketat pada seluruh aspek kehidupan.

Karakter intelektual-normatif tampak pada kualifikasi insan ulil albab sebagai cita manusia ideal. karakter insan ulil albab adalah muslim yang mua’abbid dan mujahid (normatif) yang tekun beribadah kepada Allah dan memiliki semangat juang (jihad) serta berkualifikasi mujtahid dan mujaddid (intelektual).

Wallahu a’lam bi shawab
Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi Sayyidina Muhammad. Wa ajjil farajahum.

Cucu Nabi: Narasi yang Terpenggal (Sebuah Perspektif)


Oleh: Sabara Nuruddin

Keduanya begitu akrab di telinga kita, karena keduanya cucu baginda, tapi kenapa narasi sejarah seolah menampilkan keduanya sebagai tokoh anak-anak yang tak pernah dewasa?

Masih lekat dalam ingatan kala dulu guru ngaji dan guru agama bercerita tentang dua cucu nabi yg lucu dan amat disayangi nabi. Begitu sayang dan cintanya nabi kepada dua cucunya itu, hingga suatu saat nabi saw sujud kala memimpin shalat jamaah di mesjid, kedua cucu tersebut masuk dan naik ke punggung nabi, dan hal itu mmbuat nabi memperlama sujudnya sampai kedua cucunya itu turun dari punggungnya. Juga ketika nabi saw menimang-nimang cucunya dan mencium dengan penuh kasih sayang, suatu prilaku yang amat aneh untuk ukuran seorang laki-laki di zaman itu, hingga seorang Badui kala melihat hal itu berkata; “Ya Muhamamd apakah itu anakmu?”. Rasulullah saw menjawab: “Ini adalah cucuku”, dan si Badui itu pun berkata; “aku terhadap anakku saja tak pernah aku menciumnya”. Sebuah kisah tentang limpahan kasih Nabi saw ada cucu yang dicintainya.

Siapakah kedua cucu Nabi saw itu? Yah, dialah Hasan bin Ali dan adiknya Husein bin Ali, cucu Nabi saw dari sang putri Fatimah.Namun, kemudian guru agama dan guru-guru ngajiku tak pernah lagi bertutur tentang bagaimana keadaan cucu nabi saw itu kala dewasa hingga menemui ajalnya. Kedua cucu yang sangat dikasihi itu seolah lenyap dalam narasi sejarah. Seolah keduanya bukanlah orang penting yang harus direkam jejak hidupnya dari momen penting hingga persoalan yang biasa-biasa saja. Mereka menikah dengan siapa? Berapa anaknya? Meninggal di umur berapa? Karena apa? Nyaris, narasi sejarah arus utama amat jarang (untuk tidak mengatakan “tidak”) menuturkannya kepada kita. Jadilah kita mengenal cucu baginda saw, seolah-olah hanya narasi anak kecil yang tak pernah dewasa. Cucu yang sangat dibanggakan baginda saw, yang disebut sebagai pemuda ahli surga, yang suci dan disucikan sebagaimana dijamin dalam surat 33 ayat 33, pun lenyap dari perhatian.

Siapakah dia? Bagaimana perjuangannya? Di mana jejak langkahnya? Kapan dan di mana dia meregang nyawa?. Apa ajarannya? Bagaimana pemikirannya? Pun di mana kita bisa melacaknya. Narasi tentang cucu Nabi yang mulia yang sangat disayang begitu rupa oleh sang baginda terpenggal, seolah mereka tak pernah dewasa. Namun, sejarah takkan bisa dibohongi, tetap ada ruang tuk menuturkan jejak langkah sang cucu nabi, meski hanya berada di baris sejarah peripheri, karena sejarah arus utama telah dikuasai oleh sang tirani. Namun pena sejarah takkan pernah tumpul, dan kan selalu ada tinta untuk menoreh cerita tentang bakti cucu nabi yang mulia.

Sayidina Hasan, kakak Husein, Pagi-pagi, ia disuguhi racun oleh istrinya yang lantas mengaku bahwa itu atas suruhan sang khalifah. Hasan memaafkan istrinya, dan besok pagi sesudah kejahatannya dimaafkan, sang istri kembali menyuguhkan racun, Hasan meminumnya hingga ia menemui ajalnya. Ada apa dengan Hasan hingga istrinya harus meracunnya berulang kali? Hingga tak satu dua kali ia muntahkan isi perutnya? Siapakah yang begitu nista memerintahkan istrinya untuk meracun seorang sumai yang begitu mulia? Siapakah sang bedebah, yang meski Hasan telah mengalah, ia masih juga resah dan berkonspirasi membunuh cucu sang uswah?

Bagaimana dengan Husein? Tragika pilu menyayat hati di suatu padang nan tandus, kala keluarga nabi tercekat haus sementara didepan menghadang tentara sang khalifah yang rakus. Orang yang sangat mencintai Nabi saw dan Nabi sangat mencintainya, menemui ajal di tangan umat kakeknya di tengah sahara. Husein dan 72 orang keluarga dan sahabatnya berhadap-hadapan dengan ribuan tentara yang beringas nan buas atas perintah khalifah yang culas. Inilah akhir dari perjuangan Husein, namun awal dari salah satu penggalan sejarah. Dialah Husein yang kematiannya nan tragis menorehkan kemenangan manis dan memantik semngat juang yang takkan pernah terkikis di hati pencintanya yang mukhlis.

Dan itulah cucu baginda, kala pena kekuasaan hendak menyingkirkannya dari lembar sejarah. Tapi tangan-tangan kaum mustadh’afin yang mukminin justru menggenggam pena intan dengan tinta emas tuk tuliskan dengan cermat bagaimana kedua cucu nabi yang mulia melalui hidup untuk berkhidmat.

Assalamualaikuma ya sayyidus syabab ahlul jannati ajmain
Assalamualaika ya Hasan, labbaika Ya husein.

Mengenang Wiladah Imam Husein bin Ali as 3 Sya’ban tahun 4 Hijriyah – 1431 Hijriyah.

Manusia Theomorphis (Insan Kamil: Perspektif Ali Syari'ati)

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.

Menurut Ali Syari’ati, manusia sempurna atau manusia ideal adalah khalifah Tuhan yang menerima amanah Tuhan berupa kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas yang mewujud dalam diri manusia sebagai makhluk dua dimensi. Dengan adanya pertarungan dua unsur dalam diri manusia (Ruh Allah dan lumpur busuk) memungkinkan manusia untuk berproses menjadi manusia ideal (insan kamil). Karena dengan adanya potensi kesadaran, kehendak bebas, dan kreatifitas yang dimiliki manusia, memungkinkan bagi manusia untuk melakukan pertarungan “di dalam dirinya sendiri”, dan berakhir dengan kemampuan manusia untuk memenangkan dimensi Ruh Allah atas unsur lumpur busuk, dengan berakhlak sebagaimana akhlak Allah.

Mengutip istilah Muhammad Iqbal, Manusia ideal adalah manusia theomorphis, yaitu manusia yang dalam pribadinya, ruh Allah telah memenangkan pertarungan atas belahan dirinya yang berkaitan dengan lumpur busuk, sebagai representasi Iblis. Manusia ideal, adalah manusia yang telah terbebas dari kebimbangan dan kontradiksi dari “dua infinita”. Menurut Syari’ati manusia ideal, memiliki tiga ciri utama, yaitu kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dengan kata lain manusia ideal adalah manusia yang mampu memadukan secara integral pengetahuan, akhlak, dan seni dalam dirinya. Ia adalah khalifah Allah yang komitmen terhadap tiga anugerah Allah kepadanya, yaitu kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Manusia ideal adalah khalifah Allah yang telah menempuh jalan penghambaan yang sukar sembari memikul beban amanah, hingga ia sampai ke ujung batas dan menjadi khalifah dan “pemegang amanahNya”.

Manusia menjadi ideal bukan karena menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan seraya mengesampingkan urusan kemanusiaan, dan bukan pula manusia yang menafikan Tuhan dalam gerak kehidupannya. Manusia menjadi sempurna, justru karena terlihat dalam perjuangan kesempurnaan umat manusia secara menyeluruh. Menurut Syari’ati, manusia menjadi ideal adalah dengan menemukan dan memperjuangkan umat manusia, dan dengannya ia akan “menemukan” Tuhan. Dengan kata lain manusia ideal adalah manusia yang tidak meninggalkan alam dan sesama manusia, sembari di saat yang sama ia terus melakukan “hubungan mesra” dengan Tuhan sebagai kekasihnya.

Syari’ati dengan sangat puitis mendeskripsikan mausia ideal tersebut sebagai manusia yang akalnya senantiasa berpikir filosofis, tapi hal ini tidak lantas membuatnya terlena atas nasib umat manusia. Keterlibatan politik tidak membuatnya demagog dan riya. Ilmu tidak membuat keyakinan dan cita-citanya menjadi luntur. Sedangkan keyakinannya tidak menumpulkan akalnya dan menghalangi deduksi logisnya. Kesalehan tidak membuatnya menjadi pertapa yang tak berdaya (asketik). Aktivitas sosial tidak membuat tangannya ternoda oleh immortalitas. Manusia ideal adalah manusia jihad dan ijtihad, manusia syair dan pedang, manusia kesepian dan komitmen. Emosi dan genius, kekuasaan dan cinta kasih, keyakinan dan pengetahuan. Dia adalah manusia yang menyatukan semua dimensi kemanusiaan sejati. Penggambaran Ali Syari’ati tersebut tentang sosok mansuia ideal nyaris mustahil ditemukan dalam realitas kemanusiaan saat ini yang penuh dengan kepalsuan. Tapi, jika kita kembali pada tujuan sejati penciptaan manusia maka kita akan meyakini secara pasti, disetiap masa pasti ada satu manusia yang dengan kesungguhannya berhasil meraih derajat mulia tersebut.

Empat Penjara Manusia dan Cara Manusia “Mengada” (Filsafat Manusia: Perspektif Ali Syari'ati)

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.

Menurut Ali Syari’ati ada empat penjara yang menghalangi manusia ke arah gerak dinamis menuju tahap kesempurnaan. Keempat penjara tersebut, adalah ; alam, sejarah, masyarakat, dan ego. Hukum alam yang dipahami secara determinisme-mekanistik dapat menjadi penghambat bagi manusia dalam tahapan evolusinya. Karena ketidakmampuan manusia “menundukkan” alam mengakibatkan kehidupan manusia menjadi tidak efektif dan efisien. Sejarah yang merupakan peristiwa masa lalu dapat menjebak manusia pada hukum-hukum determinisnya. Hasil-hasil dari peristiwa sejarah masa lampau yang dirasakan oleh manusia hari ini bisa membuat manusia dapat terjebak pada determinisme historis yang mengakibatkan manusia bersikap pasif dan kehilangan misi futuristiknya. Hukum dan kultur yang ada dalam lingkungan masyarakat pun bisa menghambat kreasi dan inovasi manusia dalam beraktualisasi diri untuk “menemukan” kesejatian dirinya. Sedangkan ego, sebagaimana dalam tinjaun kaum psikoanalisis atau kaum hedonis akan membuat manusia senantias memperturutkan hasrat instingtifnya dan melupakan realitas ruhani yang merupakan realitas sublim bagi manusia.

Empat penjara manusia, sebagaimana yang dibahasakan oleh Ali Syari’ati tersebut bukanlah hal yang determinan bagi manusia. Manusia masih memiliki kesempatan untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman empat penjara tersebut selama ia mampu mengabdikan gerakannya dalam evolusi menuju “peninggian” ruhaninya. Dengan melakukan hal tersebut, manusia bisa mengubah dirinya dari makhluk biasa (being) menjadi makhluk sempurna (becoming).

Syari’ati menjelaskan bahwa becoming adalah bergerak, maju, mencari kesempurnaan, merindukan keabadian, tidak pernah terhambat dan terhenti, serta terus menerus bergerak menuju ke arah kesempurnaan. Evolusi ini adalah evolusi tanpa henti dari manusia yang serba terbatas ke arah realitas yang tanpa batas, bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, atau ke arah kesempurnan yang ideal.

Untuk melakukan gerakan becoming dan melepaskan diri dari empat kekuatan yang “memenjarakannya”. Manusia dibekali oleh Tuhan dengan tiga potensi dasar, yaitu ; kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam raya ini yang memiliki kesadaran. Kesadaran tersebut adalah pengalaman tentang kualitas esensi dirinya, dunia, dan hubungan antara dirinya dengan dunianya. Kesadaran diri adalah ciri pertama manusia, yang memungkinnya untuk meninggalkan insting hewaniyahnya. Dengan potensi kesadaran yang dimilikinya manusia akan mampu mempersepsi realitas diri dan realitas disekitarnya. Dengan kesadarannya jugalah manusia dapat “menundukkan” realitas disekitarnya.

Potensi kedua yang dimiliki oleh manusia adalah kehendak bebas untuk memilih. Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam ini yang memiliki kebebasan untuk memilih bagi dirinya sendiri dan apa yang dia pilih dapat bertentangan dengan kecendrungan instingtifnya, dengan alam, dengan masyarakat, dan bahkan dengan dorongan-dorongan fisiologis dan psikologisnya. Kebebasan memilih inilah yang dapat menolong manusia untuk dapat mencapai taraf tertinggi dalam proses “kemenjadiannya”. Kebebasan manusia yang dimaksud oleh Syari’ati, bukanlah kebebasan tanpa batas dan tanpa tanggung jawab, sebagaimana yang dikatakan oleh filosof eksistensialisme ateistik. Melainkan kebebasan manusia untuk memilih mengikuti fitrah primordialnya, yaitu Ruh Allah dengan meninggalkan kecendrungan-kecendrungan instingtifnya yang merupakan manifestasi dari unsur lumpur busuk (Iblis) yang membentuk jasad manusia.

Potensi ketiga yang dimiliki manusia adalah kemampuan daya cipta atau kreatifitas. Dengan kemampuan kreatifnya, manusia dapat membuat barang-barang dalam berbagai bentuk, dari yang paling kecil dan sederhana hingga yang paling kolosal dan kompleks. Kemampuan kreatif manusia terimplementasi dalam eksistensi kekuatan kreatifnya di alam semesta sebagai makhluk yang khas. Manusia tidak hanya semata-mata terampil sebagai pembuat alat, tapi manusia juga adalah artis yang kreatif. Dari kemampuan kreatif manusia yang tinggi inilah manusia tidak hanya berhenti sebagai kreator yang menciptakan alat yang bersifat material semata. Berbagai seni kreatif adalah hasil dari kebutuhan-kebutuhan intelektual dan spiritual yang tinggi dan dalam pada diri manusia. Dengan kemampuan kreatifnya, manusia dapat mengeksplorasi alam sehingga manusia mampu membangun peradaban, memajukan kebudayaan, meningkatkan kemakmuran bagi diri dan masyarakatnya, serta memuaskan kebutuhan-kebutuhan intelektual dan spiritualnya. Dengan kemampuan kreatifnya manusia dapat dengan sempurna mengemban amanah Tuhan sebagai khalifahNya.

Ketiga potensi dasar yang dimiliki oleh manusia tersebut adalah atribut ketuhanan yang hadir dalam diri manusia, dan kemudian manusia mengembangkan ketiga atribut mulia tersebut untuk memenuhi tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Dengan ketiga potensi yang dimiliki tersebut, manusia “diundang” (atau “ditantang”) oleh Tuhan untuk bertindak sebagaimana tindakan Tuhan (berakhlak sebagaimana akhlak Allah).

Ketiga atribut ketuhanan tersebut mesti dikembangkan oleh manusia untuk melepaskan diri dari kungkungan empat penjara yang telah memenjarakan eksistemsinya. Adapun cara “mengada” manusia yang dimaksud oleh Ali Syari’ati dalam upaya membebaskan diri dari empat penjara tersebut, adalah :
- Untuk membebaskan diri dari penjara alam, maka manusia harus berusaha “menundukkan” alam dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian diharapkan manusia akan dapat membawa alam semesta beserta semua sifat dan hukum dasarnya untuk berada dalam pengawasan manusia.
- Untuk membebaskan manusia dari penjara sejarah, yaitu dengan mempelajari tahapan-tahapan historis dan hukum-hukum deterministik yang terjadi dalam perjalanan sejarah umat manusia. Hukum-hukum deterministik dan tahapan-tahapan historis ini kemudian dikembangkan untuk membangun kemajuan sejarah masa depan sesuai dengan cita ideal yang diharapkan.
- Untuk membebaskan diri dari kungkungan masyarakat, manusia bisa mengatasinya dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial, hukum-hukum dan karakteristik yang ada di masyarakat.
- Melepaskan diri dari penjara ego adalah hal yang paling sulit bagi manusia, karena antara “penjara” dan “tawanan” tidak terpisahkan. Jika membebaskan diri dari tiga penjara yang lain cukup hanya dengan mengembangkan pengetahuan dan kesadaran, maka untuk membebaskan diri dari penjara ego hanya ada satu cara, yaitu haruslah dengan cinta.

Cinta yang dimaksud oleh Syari’ati, bukanlah cinta dalam artian sufistik, Platonik, mistik, dan abstrak. Sebab bentuk-bentuk cinta seperti itu adalah bentuk-bentuk penjara itu sendiri bagi manusia. Cinta yang dimaksud oleh Syari’ati sebagai pembebas dari penjara ego adalah cinta dalam artian substantif yang harus melahirkan kekuatan bagi setiap pencinta untuk mengorbankan apa-apa yang dimilikinya. Dalam perkataan lain, cinta yang dimaksud adalah cinta yang mampu menimbulkan kekuatan untuk memberontak melawan sifat dasar manusia
(kecendrungan instingtif dan egoisme) dan mengorbankan kehidupannya untuk sebuah cita-cita ideal (“kebersatuan” dengan Ruh Ilahiyah). Inilah arti yang sebenarnya dari pengorbanan sebagai tahapan “menjadi” yang tertinggi dan sempurna bagi manusia. Ketika manusia berhasil membebaskan dirinya dari empat penjara ini, maka manusia akan menjadi makhluk yang telah terbebaskan dan tercerahkan.

Mengutip pendapat Alexist Carrel, Syari’ati mengatakan, ketika kalbu manusia telah terisi oleh kekuatan cinta murni, cinta itu pastilah tulus, suci, dan sejati. Kehidupan dan wujud cinta merupakan suatu simbol dari mukjizat Allah yang berhasil digapai oleh manusia. Sebagaimana tidak akan mampu memahamiNya orang-orang yang tak memiliki pengetahuan, begitu juga orang tidak akan mengenalNya jika mereka tak memiliki cinta. Dari ungkapan tersebut tergambar pernyataan Syari’ati yang menegaskan betapa cinta merupakan kekuatan tertinggi yang dimiliki oleh manusia untuk “mengembangkan” dirinya menuju kesempurnaan dan kemuliaannya.

Filosofi Penciptaan Manusia: Telaah Pemikiran Ali Syari'ati

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil

Ali Syari’ati (salah seorang pemikir dan propagandis revolusi Islam Iran) memulai pembahasannya tentang manusia dimulai dari filsafat penciptaan Adam. Dalam pandangan Syari’ati, Adam adalah simbol representatif dari manusia secara keseluruhan. Dalam menafsirkan penciptaan Adam, Syari’ati membahas kejadian Adam yang diciptakan dari Ruh Allah dan lumpur busuk. Kedua term tersebut dimaknai secara simbolik, Lumpur busuk bermakna kerendahan, stagnasi, dan pasivitas mutlak. Sedangkan Ruh Allah adalah simbol dari gerakan tanpa henti menuju kesempurnaan dan kemuliaan yang tidak terbatas.

Manusia adalah sintesa dari kedua hal tersebut, dan kedua hal tersebut (lumpur busuk dan Ruh Allah)) senantiasa tarik menarik dan akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih salah satunya. Pada masa awal penciptaannya manusia berada pada titik netral, dan seiring dengan perjalanan hidupnya manusia melakukan gerak evolusi, baik evolusi progresif menuju Ruh Allah maupun evolusi regresif menuju lumpur busuk. Jika manusia melakukan evolusi progresif maka manusia akan tiba pada kemuliaan dan kesempurnaannya yang hakiki (“bersatu denganNya”). Sedangkan jika yang terjadi adalah evolusi regresif maka manusia jatuh derajatnya dan hanya setara dengan lumpur busuk, yang dalam bahasa Alquran disebut lebih jelek dari binatang ternak.

Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam pengetahuan tentang “nama-nama” segala sesuatu. Jadi dalam penciptaan manusia, Tuhan adalah pencipta sekaligus sebagai guru pertama bagi manusia. Dan selanjutnya, manusia kemudian tampil sebagai pemberi nama bagi dunianya. Karena “perlakuan” Tuhan yang begitu istimewa kepada manusia, malaikat pun protes kepada tuhan, karena Tuhan telah mengistimewakan manusia. Menanggapi protes malaikat tersebut, Tuhan pun kemudian meminta Adam untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para malaikat, lalu Tuhan menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Syari’ati menyatakan, sujudnya malaikat kepada Adam adalah perlambang dari humanisme. Derajat manusia diangkat sedemikian rupa setingkat lebih tinggi dari para malaikat suci. Ketinggian derajat manusia atas malaikat bukanlah karena rasialisme, melainkan karena manusia memiliki pengetahuan.

Satu hal yang menarik dalam falsafah penciptaan manusia menurut Syari’ati, yaitu hanya manusia sajalah yang diberikan amanah oleh Tuhan untuk mengemban tugas sebagai khalifahNya. Oleh karena manusia memiliki kemampuan dan keyakinan untuk mengemban tugas berat tersebut. Maka terbuktilah bahwa manusia dianugerahi oleh Tuhan keberanian, keutamaan, kearifan dan kebijakan di alam semesta. Manusia bukan hanya sekedar sebagai khalifahNya, melainkan juga pengemban amanahNya, dan penjaga karuniaNya yang paling berharga. Beliau mengutip pernyataan Jalal al-Din al-Rumi, bahwa amanat dan karunia Tuhan itu adalah kehendak bebas.

Syari’ati membagi manusia ke dalam dua kategori, yaitu insan dan basyar. Basyar adalah keberadaan manusia dalam tahap makhluk yang biasa (being), yang tak memiliki kemampuan berubah sebagaimana makhluk Tuhan yang lain. Basyar dalam istilah Alquran memiliki kesamaan arti dengan istilah l’etre en soi atau being in self (ada dalam diri) dalam filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Bering in self adalah modus keberadaan manusia yang statis, pasif, netral (tidak afirmatif dan tidak juga negatif), dan tanpa tujuan. L’etre en soi sebagaimana basyar adalah keberadaan manusia sebagai “seonggok” benda yang tak memiliki kesadaran dan kehendak bebas. Sedangkan insan adalah manusia dalam artian “menjadi” (becoming). Atau dengan kata lain insan adalah keberadaan manusia yang telah diberikan daya oleh kekuatan Ruh Ilahi, sehingga mampu bergerak dinamis. Konsep insan dalam pemikiran Syari’ati identik dengan konsep l’etre pour soi atau being for self (ada untuk diri). L’etre pour soi adalah modus keberadaan manusia yang berbeda dengan l’etre en soi. L’etre pour soi adalah modus keberadaan manusia yang memiliki kesadaran akan diri dan realitas disekitarnya dan kehendak bebas dalam menentukan pilihannya, sehingga manusia dapat melakukan gerak aktif dan dinamis sebagai makhluk yang “menjadi”. Pembagian Syari’ati terhadap dua kategori keberadaan manusia ini sangat mungkin diinspirasi oleh pemikiran eksistensialisme Jean paul Sartre.

"Tauhid yang Humanis" (Senarai Singkat Teologi Pembebasan Ali Syari'ati)

Oleh: Sabara nuruddin, S. HI, M. Fil

Untuk menjadikan Islam sebagai ideologi yang mampu dipraksiskan dalam kehidupan dan memberi implikasi yang positif bagi manusia. Ali Syari’ati menyajikan secara detail tahapan-tahapan ideologi. Pada tahap pertama, Ali Syari’ati berangkat dari satu pertanyaan mendasar mengenai kedudukan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan dan alam semesta. Untuk menjelaskan hal tersebut, terlebih dahulu Syari’ati meletakkan pandangan dunia Tauhid sebagai pandangan dunia yang mendasar. Menurut Syari’ati, pandangan dunia Tauhid mengindikasikan secara langsung bahwa kehidupan adalah suatu bentuk yang tunggal. Hal ini tentu saja berbeda secara fundamental dengan pandangan dunia yang membagi realitas dunia ke dalam dua kategori yang dikotomistik-binerian; materi-non materi, jasmani-ruhani, khalq-makhluk, alam fisik-alam gaib, serta individu-masyarakat. Dengan kata lain pandangan dunia Tauhid adalah pandangan dunia yang melihat kenyataan sebagai realitas yang holistik, universal, integral dan monistik.

Semua makhluk dan objek di alam semesta yang merupakan refleksi atas kebesaran Tuhan. Pandangan dunia Tauhid merupakan pandangan dunia yang integral. Pandangan dunia Tauhid memberikan “kelonggaran” bagi manusia untuk mengembangkan kebebasannya, sehiingga manusia bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya. Pandangan dunia Tauhid juga memandang bahwa manusia sebagai insan yang memiliki kemerdekaan dan martabat yang sangat tinggi.

Berbeda dengan pandangan kaum eksistensialisme ateistik, seperti Jean Paul Sartre yang menyatakan dengan tegas bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Sartre, menafikan Tuhan dalam kaitannya dengan kebebasan manusia dalam eksistensinya. Meenurut Sartre, ada tidaknya Tuhan tidak akan mengubah penghayatan manusia tentang dirinya sebagai eksistensi. Penafian Tuhan dalam gerak “mengada” manusia juga dilontarkan oleh filosof materialis Jerman, Ludwig Van Feurbach, yang menyatakan bahwa Tuhan tak lebih hanyalah proyeksi akal pikiran manusia semata. Realitas tuhan yang sejati tak lain hanyalah diri manusia itu sendiri yang dilemparkan oleh manusia menjadi satu sosok di luar dirinya dan berkuasa atas dirinya. Kedua filosof tersebut menganggap manusia benar-benar menjadi sentrum eksistensi dari alam semesta ini. Pendapat kedua tokoh tersebut, termasuk juga para pemikir materialisme ateistik yang lain, dapat digambarkan secara puitis, sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Zuhri, “Ketahuilah, bahwa bermilyar tahun alam semesta tidak sadar akan dirinya, dan ketika ia sadar akan dirinya, manusialah wujudnya.”

Dalam pandangan dunia Tauhid, Tuhan adalah tujuan yang kepadaNyalah seluruh eksistensi dan makhluk bergerak secara simultan, dan Dia jualah yang menentukan tujuan dari alam semesta ini. Penyembahan terhadap kekuatan Absolut (Allah Yang Esa) yang merupakan seruan terbesar dari ajaran Ibrahim as, terdiri atas seruan kepada semua manusia untuk menyembah Penguasa tunggal di jagad raya ini. Penyembahan tersebut dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian manusia kepada satu tujuan penciptaan dan untuk mempercayai satu kekuatan yang paling efektif dari seluruh eksistensi dan sebagai tempat berlindung dan bergantung manusia sepanjang hayat dan sejarah.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang sufi besar, Farid al-Din al-Athar, “bila kau ingin sempurna, carilah kesemestaan, pilihlah kesemestaan, dan jadilah kesemestaan.” Dalam pandangan dunia Tauhid, hakekat kesejatian manusia adalah potensi Ruh Allah yang telah ditupkan dalam diri manusia. Ruh Allah tersebut adalah “kesemestaan” sebagaimaana yang dimaksud oleh al-Athar. Ruh Allah adalah realitas paling sublim dan ultim dalam diri manusia yang menjadi modus bagi eksistensi manusia dalam kehidupannya.

Tauhid sebagai modus eksistensi manusia, digambarkan oleh Syari’ati dalam pembahasannya yang sangat romantik, reflektif, dan revolusioner tentang ibadah haji. Beliau mengatakan, ibadah haji menggambarkan “kepulangan” manusia kepada Allah yang Mutlak dan Tidak Terbatas, serta tidak ada yang menyerupaiNya. Perjalanan “pulang” kembali kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan, kebaikan, kebenaran, keindahan, pengetahuan, kekuatan, nilai-nilai, dan fakta-fakta.

Tauhid sebagai modus eksistensi bermakna, bahwa Allah adalah tempat asal dan tempat kembali manusia. dariNyalah seluruh atribut Ilahiyah yang dimiliki oleh manusia berasal. Berbeda dengan filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre, yang menganggap Tuhan sebagai sosok yang menghalangi kebebasan manusia. Ali Syari’ati memandang, bahwa Tuhan adalah sosok pembebas bagi manusia, dengan melakukan upaya pendekatan diri kepadaNya, maka manusia akan terbebas dari nilai-nilai lumpur busuk yang kotor dan melambangkan keadaan manusia yang dehumanis menuju Ruh Allah yang suci sebagai sumber seluruh nilai-nilai humanisme yang universal.

Dan Laki-laki itu Bernama Ali


Ali, sebuah nama yang singkat, hanya tiga huruf (‘ain, lam, dan ya). “‘Ain” simbolitas ketercerahan dan pandangan yang terbuka, “lam” perlambang kesadaran yang tegak kokoh menjulang ke langit, dan “ya” penanda bakti yang melingkupi bumi. Ali, nama yang singkat dengan jutaan keramat dan tuah azimat. Laki-laki itu bernama Ali, na saba Ali sitongeng-tongenna asenna uruane (karena Ali adalah sebenar-benarnya nama lelaki). Ali kedirian maskulinitas yang feminim, bak singa garang di kala siang dengan tebasan pedang lebih utama dari amal seluruh mukmin, dan kala malam datang airmata munajah pun bercucuran laksana bayi yang suci dan diliputi cinta. Dialah Ali yang imannya adalah puncak kesadaran sejati, amalnya adalah buah cinta suci, dan ilmunya adalah percik cahaya Ilahi.

Dan Laki-laki itu bernama Ali sang pejuang sejati, cermin Jalaliyat Ilahi yang bertajalli dan terwujud dalam heroisme Ali. Teriakannya membuat jantung musuh berdebar-debar, terjangannya membuat musuh gentar, pukulannya membuat musuh terkapar, karena jasanya cahaya risalah pun bisa berkobar. Ali sang maskulin sejati menebaskan pedang bagai penari tapi mendekap kaum dhuafa dengan tulus hati. Ali sang lelaki, ksatria langit yang membumi. Ali kinasih Nabi yang hatinya diliputi cinta suci, yang dadanya disesaki ilmu Rabbani, dan jiwanya diselimuti Cahaya Ilahi. Ali sang diri dengan kelembagaan ilmu rabbani yang begitu rupa bak titik dibawah ba.

Ali Sitongeng-tongenna Lelaki.
Barakka lailaha Illallah, Muahmmadarrasulullah, Ali Waliyullah.
Salam Bagimu di hari lahirmu Ya Ali.
Kota Daeng 13 Rajab 1431 Hijriyah.

Ali: Sitongeng-Tongenna Urane

Oleh: Sabara Putra Borneo

Judul tersebut disadur dari ajaran tarekat kampung di tanah Bugis, kalimat itu mengingatkan aku pada suatu ketika beberapa tahun yang lalu. Seseorang yang mendalami ajaran mistik kampung Bugis bertanya kepadaku: “siapa nama aslinya laki-laki? Dan siapa nama aslinya perempuan”?. Aku pun terdiam sejenak, belum sempat aku menjawabnya, dia pun menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan. “Ketahuilah anak muda, nama aslinya laki-laki adalah Ali, dan nama aslinya perempuan adalah Fatimah”. Dia pun melanjtkan, “na saba yaro Ali sitongeng-tongenna urane, siba Fatimah sitongeng-tongenna makkunrai” (Karena Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki dan Fatimah adalah sebenar-benarnya perempuan).

Hmm... di lain kesempatan kumendapatkan, lagi-lagi nama Ali dijadikan azimat untuk berbagai karamah. “Pake-pakena Baginda Ali (pake-pakenya baginda Ali)”, “Pajja’guru’na Baginda Ali (Pukulannya Baginda Ali)”, “Pa’gerra’na baginda Ali (geretakannya baginda Ali)”, “Ali Makkarawa, Fatimah ikarawa (Ali menyentuh, Fatimah disentuh”, “Barakka’na Baginda Ali (Berkahnya Baginda Ali)”, dan lain-lain. Hampir semua menjadikan namanya sebagai washilah, terkhusus untuk ilmu kelaki-lakian, karena dalam mindset mereka Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki. Entahlah dari mana akar atau geneologi keyakinan ini. Tapi yang kudapati keyakinan tentang karamah Ali begitu merasuk hingga ke relung-relung dan menjadi doktrin yang begitu kukuh.

Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki, karena dia sang maskulin sejati, sekali tebasannya di perang Khandaq kala menebas jawara Quraisy Amr bin Wudd dihargai oleh Allah dan RasulNya lebih berat timbangannya dibanding amal seluruh kaum mukminin.Ali sang manusia biasa yang kefasihannya begitu luar biasa hingga hanya sastra Alquran saja yang menandinginya. Di hari kelahirannya, 13 Rajab bilangan 30 tahun Gajah (10 tahun sebelum kenabian), kala ibunya yang mulia Fathimah binti Asad bertawaf di Baitullah, pintu Ka’bah serta-merta terbuka dan menjadikan lantainya sebagai tempat bayi Haydar memulai hari dengan mengepalkan tangan tanda dimulainya perjuangan mendampingi dan melanjutkan risalah kenabian. Dinding-dinding Ka’bah menjadi saksi kala dunia menyambut kehadiran sang bayi Ali.Dialah Ali yang zuhudnya tiada tara, dialah Ali yang heroismenya tak terkira, dialah Ali yang kefasihannya tak terkata, dialah Ali yang moralnya begitu mulia, dialah Ali yang kecerdasannya luar biasa, dialah Ali dengan keimanan yang sempurna, dialah Ali yang amalnya membumi dan kesadarannya melangit. Dialah Ali. Dialah Ali. Dialah Ali. Laki-laki sejati.

Ribuan kitab dan manaqib takkan pernah cukup melukiskan kegaungannya, jutaan bait syair takkan pernah habis melantunkan pujian untuknya, dan gemerlap cahaya takkan pernah sanggup menandingi cahayanya. Ingatlah ketika ia berkata; “Aku mengimani Alquran karena Muhammad yang membawanya, dan aku mengimani Muhammad karena aku beriman kepada Allah”. Imannya adalah kesadaran sejati, amalnya adalah buah dari cinta suci, ilmunya adalah percik Cahaya Ilahi, dialah Ali sang kinasih Nabi.
Hmm... Kembali kuteringat pada rangkai kata dalam bait-bait azimat yang kudapat dari pelosok-pelosok kampung di tanah Bugis yang penuh berkat. Ali Sitongeng-tongenna Urane (Ali sebenar-benarnya Lelaki).

Salam Bagimu Wahai Sang Washi.

Konsep Ketuhanan dalam Ideologi HMI-MPO

Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan sebelumnya dan merupakan penggalan dari tesis magister saya di bidang Pemikiran Islam pada kampus UIN Alauddin Makassar, yang berjudul, “Interpretasi Ideologi Islam dalam Pandangan HMI-MPO: Study Filosofis Khittah Perjuangan”. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa konstruk ideologi HMI-MPO terrekam dalam sebuah dokumen teologis yang disebut khittah perjuangan yang terdiri atas tafsir asas, tujuan, usaha, dan independensi. Dan dalam melakukan pemetaan konsep ideologi HMI-MPO, penulis membagi pada dua kategori yaitu konsep teoritis dan konsep praktis. Konsep teoritis berupa pandangan tentang ketuhanan, kesemestaan, kemanusiaan, serta sejarah dan kemasa-depanan (eskatologi).

Konsepsi ketuhanan menjadi bagian paling inti dari konstruk ideologi Islam yang digagas oleh HMI-MPO dalam khittah perjuangan. Pandangan ketuhanan dalam khittah perjuangan dirumuskan pada muatan keyakinan muslim sebagai bagian awal dari tafsir asas HMI-MPO. Keyakinan muslim menjelaskan tentang bagaimana upaya kader HMI-MPO memahami Tuhannya dengan sejumlah pendekatan, mulai dari pndekatan rasional, kontekstual, doktrinal, hingga sufistik.

HMI-MPO berkeyakinan, bahwa konsepsi tentang Tuhan yang benarlah, yang dapat mengntarkan manusia untuk memilih sistem terbaik dalam kehidupannya. Khittah perjuangan memulai pembahasan tentang Tauhid dengan membahas dua model keyakinan manusia. Yaitu sistem keyakinan yang dibangun dengan pendekatan empiris ilmiah dan keyakinan yang dibangun dengan pendekatan literal teks. ”Tauhid merupakan pandangan yang berbeda dengan dua sistem keyakinan yang telah disebutkan sebelumnya.

Mengenai konsepsi Tauhid, dalam khittah perjuangan dikatakan:

“… Dalam konsepsi Tauhid, selain pencarian akal manusia sendiri sebagai alat mendekati kebenaran mutlak, juga melalui wahyu, di mana Tuhan menyatakan dan menjelaskan tentang diriNya sendiri kepada manusia … Tauhid merupakan inti ajaran yang disampaikan pada seluruh manusia di setiap zaman. Ini berarti ajaran Tauhid merupakan ajaran universal.”

Dengan demikian, konsep ketuhanan dalam khittah perjuangan didasarkan pada perpaduan antara pendekatan rasional dan literal. Untuk sampai pada pengetahuan sejati tentangNya akal saja tidak cukup, oleh karena itu, dibutuhkan informasi langsung dariNya melalui firmanNya dalam kitab suci maupun melalui penyingkapn batin (mukasyafah) dengan melakukan pendekatan diri kepadaNya hingga kita mendapatkan pengetahuan langsung tentangNya yang langsung dariNya. Dengan kata lain mengenai paradigma ketuhanan, khittah perjuangan HMI-MPO mengangkat derajat akal manusia, tapi bukan tanpa pembatasan.

Dalam khittah perjuangan, dibedakan secara tegas antara konsep Tauhid dengan konsep monoteisme. Meskipun keduanya membentuk keyakinan yang sama terhadap Tuhan Yang Esa. Hal ini dikarenakan khittah perjuangan memandang bahwa dalam konsep monoteisme, Tuhan ”didefenisikan” oleh kemampuan otoritatif manusia. Sedangkan dalam Tauhid Tuhanlah yang memperkenalkan diriNya kepada manusia, sehingga manusia memahami kehadiranNya. Tentu saja, peran-peran akal manusia tetap tidak dinafikan, hanya saja berbeda dengan monoteisme yang berpijak pada akal an sich, sedangkan Tauhid mendasarkan pandangan pada sinergitas antara wahyu, kalbu, dan akal.

Bagi HMI-MPO, sebagaimana tercermin dalam khittah perjuangan. Persoalan utama keimanan tidaklah terletak pada fiqh maupun teologi, tetapi bagaimana agar keyakinan (keimanan) itu menjadi suatu sistem nilai yang diyakini, yakni mengalami proses internalisasi. Dan pada akhirnya akan melahirkan kesadaran yang benar dan juga harus diperjuangkan, yakni ”eksoterisasikan”. Karena itu, pemahaman HMI-MPO tentang Realitas Absolut, Allah swt tidak dibangun berdasarkan pada persepsi-persepsi antroposentrisme dan diskusus logika lainnya, akan tetapi juga melalui model iluminasi batin atau gnostik.

Tauhid adalah konsepsi ketuhanan yang tertuang dalam khittah perjuangan HMI-MPO dan menjadi dasar bagi ideologi Islam ala HMI-MPO. Tauhid merupakan sistem keyakinan yang mengajarkan bahwa, ”Allah swt adalah Zat yang Maha Esa, sebab dari segala sebab dalam rantai kausalitas (Prime Cause).” Secara filosofis, Tauhid dalam khittah perjuangan merupakan argumen yang menjelaskan tentang Allah sebagai sumber dari segala sumber yang ada dan akhir dari segala akhir. Allah adalah ”causa prima” dengan segenap ”ke-Mahaunggul-an-Nya, Ia memiliki sifat berkuasa penuh atas ciptaanNya.

Khittah perjuangan menjelaskan bahwa Tauhid merupakan inti dari misi seluruh nabi yang diutus oleh Allah. Dan konsekuensi dari Tauhid meniscayakan ketundukan mutlak pada Allah tanpa pengecualian. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam khittah perjuangan:

“Tauhid merupakan misi utama yang diemban oleh seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. Mereka menyampaikan risalah Tauhid sesuai dengan tingkatan pemikiran dan peradaban masyarakatnya. Syari’at Tuhan silih berganti disempurnakan setiap nabi dan rasul diutus. Tauhid dan syari’at yang disempurnakan disampaikan oleh nabi Muhammad saw yang diikrarkan dalam bentuk syahadat (persaksian) akan keberadaan Allah yang Esa dan eksitensi Muhammad saw sebagai utusannya. Pernyataan syahadat ini diyakini seudah diucapkan oleh manusia sebelum ia dilahirkan. Persaksian syahadat menoscayakan manusia meniadakan sesembahan selainNya. Syahadat juga berarti ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah sebagai tempat bergantung segala sesuatu.. Pengakuan yang tidak dibarengi dengan ketundukan kepadaNya adalah kecacatan Tauhid.”

Persoalan penting lainnya berkaitan mengenai konsep ketuhanan ialah, konsep tentang keadilan. Menurut Syafinuddin al-Mandari, Khittah perjuangan ingin keluar dari perdebatan panjang umat Islam mengenai takdir, yang dalam sejarah umat Islam direpresentasikan oleh kelompok Jabariyah –determinisme- dan Qadariyah –free will-. Hal ini diinspirasi oleh anggapan bahwa perpecahan internal umat Islam dalam sejarah jauh lebih banyak disebabkan oleh tafsir terhadap kebebasan dan keterpaksaan manusia yang merambah ke wilayah politik.

Secara singkat mengenai konsep takdir dalam khittah perjuangan dikatakn bahwa, ”manusia akan menanggung konsekuensi atas semua perbuatannya, konsekuensi tersebut akan didapatkan baik di dunia maupun di akherat.” ”Manusia diyakini memiliki ikhtiyar dalam memilih perbuatan yang akan dilakukannya. Dengan kata lain, manusia memiliki kehendak bebas dan kemerdekaan dalam rangka menentukan nasib dan masa depannya.” tapi di sisi lain manusia tunduk pada determinasi hukum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang bersifat konstan.

Dalam khittah perjuangan dikatakan bahwa Tauhid merupakan pandangan dunia yang menjadi basis fundamen bagi keseluruhan pengetahuan dan cara pandang manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam bagian terakhir materi keyakinan muslim dalam khittah perjuangan:

“Sistem keyakinan merupakan konsepsi menjiwai cara pandang tentang pengetahuan (ma’rifah), cara pandang tentang manusia, cara pandang tentang kemasyarakatan, cara pandang tentang alam semesta, dan cara pandang tentang akhir kehidupan manusia … Yaitu sistem keyakinan Tauhid.”

Dengan menggunakan berbagai bentuk pendekatan dalam memahami dan meyakini Tuhan, diharapkan akan terbangun keyakinan kader tentang Tuhan yang sangat kuat dan tidak terpatahkan oleh logika apapun. Sebab keyakinan yang kokoh pada akidah Islam merupakan landasan normatif-filosofis sehingga dapat menjadi inspirasi bagi kader-kader HMI-MPO dalam setiap tindakannya. Selain itu, konsepsi ketuhanan HMI-MPO yang tertuang dalam pembahasan ”keyakinan muslim”, bukanlah merupakan bentuk ”kompromi ideologis”. Konsepsi ketuhanan tersebut merupakan sebuah bentuk pemahaman terhadap akidah Islam yang dapat memberikan akses atau peluang bagi pembentukan sebuah epistemologi dan sistem sosial Islam pada kurun waktu kini dan mendatang.

Untuk teman-teman seperjuangan di korps Hijau Hitam dan para senior yang telah mengizinkanku tuk "numpang lewat" dan menimba ilmu dan memompa semangat.

Salam Yakusa.