Jumat, 23 Juli 2010

Wujud, Ketak-Wujud-an, dan Wijdan

Oleh: Sabara Nuruddin A, S. HI, M. Fil.

Wujud merupakan term yang tak terdefenisikan, karena semua defenisi dalam bentuk apa pun terlebih dahulu berpijak pada pemahaman akan wujud. Wujud adalah sesuatu yang melandasi semuanya, apa pun, kapan pun, dan di mana pun. Wujud adalah wujud yang tak terbatasi oleh ruang, waktu, atau ke-apa-an. Wujud adalah semuanya, wujud adalah sesuatu dan mencakup semua ke-sesuatu-an. Dengan demikian konsep wujud adalah konsep yang paling pure, paling murni, paling sederhana. Wujud adalah ketunggalan yang melingkupi ketakterhinggaan. Negasi atas wujud adalah ketak-wujud-an atau ketak-sesuatu-an atau ketiadaan yang sejatinya tiada, tapi hadir sebagai sebuah pemahaman karena kebiasaan akal kita yang selalu menegasikan setiap hal, termasuk wujud itu sendiri hingga hadir konsep tentang nirwujud (tiada) sebagai lawan dari wujud (ada). Namun hadirnya pahaman tentang ketiadaan ini juga menjadi penting nantinya dalam menghadirkan konsep-konsep yang merupakan sebuah negasi atas suatu maujud, karena pahaman tentang ketiadaan ini merupakan pangkal pula dari pahaman atas semua pahaman negasi lainnya. Misal, karena pahaman tentang ketiadaan ini kita bisa memahami tentang gelap sebagai negasi atas terang, kita bisa memahami buruk sebagai negasi atas baik, dan lain-lain.Jadi meskipun ketiadaan atau ketak-wujud-an adalah sebuah konsep yang tak bisa dijelaskan atau dibicarakan, tapi mempunyai peran yang sangat penting pula dalam pahaman manusia. Wujud terpahami secara mudah karena sifatnya yang self-evidence, sedangkan ketak-wujud-an tak mungkin terpahami karena karakteristik dasarnya yang memang negasi (gelap).

Kata wujud berasal dari bahasa Arab, yaitu wajada yang berarti menemukan, setiap yang mewujud pastilah menemukan dirinya sendiri dalam tingkat kesadaran yang berbeda-beda. derivat dari kata wujud adalah wijdan yang berarti intuisi atau fakultas epistemik paling sublim yang mengantarkan manusia untuk menemukan pengetahuan yang bersifat wijdani atau pengetahuan tentang Wujud sebagaimana Wujud (Wujud qua Wujud). Tingkat kesadaran dalam menemukan diri itu tergantung maksimalisasi fungsi epistemik dari wijdan dalam menemukan wujudnya.

Ma dza wajada man fakadaka wamalladzi fakada man wajadaka.
(Apa yang ditemukan oleh seseorang yang tidak menemukan-Mu, dan apa yang tidak ditemukan oleh seseorang yang telah menemukan-Mu?)
Imam Husein Bin Ali as.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar