Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.
Tulisan ini diinspirasi oleh komentar saudara Miswar Abdullah (seorang kawan kuliah yang sekarang juga lagi kuliah di negeri Mullah) pada catatan sebelumnya tentang “Wujud, Ketak-wujud-an, dan Wijdan”. Beliau mengangkat komentar tentang translete kata wujud dalam bahsa filsafat ke dalam kata eksistensi. Kedua kata yang sebenarnya amat tidak sepadan, baik dari segi etimologi maupun pandangan ontologi. Konsep tentang wujud dan konsep tentang eksistensi, meski kalau di bahasa Indonesiakan keduanya diartikan “ada”, tapi keduanya berbeda secara mendasar tentang pemaknaan dari “ada” itu. Sehingga keduanya mencerminkan dua pandangan dunia yang berbeda.
Kata wujud berasal dari kata wajada yang berarti menemukan dan bukan menemukan ke luar tapi lebih ke dalam, karena menemukan wujud berhubungan dengan wijdan (sering diartikan intuisi) sebagai fakultas epistemik tersublim pada diri manusia. Wujud bermakna menemukan diri yang berujung pada kesadaran, sehingga bermuara pada kesatuan antara aqil wa ma’qul (yang mengetahui dan yang diketahui), kesatuan antara being (mengada) dan knowing (mengetahui), dengan demikian tingkatan pengetahuan sangat menentukan tingkatan keberadaan suatu maujud. Dengan demikian kata wujud merupakan cerminan dari sebuah bangunan pandangan filsafat yang bersifat holistik (menyeluruh) dan tidak reduksionis. Kata wujud juga didasarkan pada suatu Wujud Mutlak sebagai Pewujud dari segala yang Maujud. Dengan demikian terminology wujud juga mencerminkan suatu pandangan dunia yang berbasis Ilhiyah (ketuhahan).
Eksistensi berasal dari dua kata bahasa latin, yaitu “eks” yang berarti keluar dan “sistere” yang berarti berdiri, sehingga secara etimologis berarti “keluar berdiri” atau “berdiri keluar”. Secara terminologis, eksistensi akhirnya diartikan sebagai apa yang ada, apa yang memiliki aktualitas, dan apa saja yang dialami. Dengan demikian, “yang ada” dalam terminologi eksistensi adalah sesuatu yang keluar atau sesuatu yang diluar. Dengan demikian kesadaran untuk mengeksis adalah kesadaran yang keluar atau eksternalisasi kesadaran dengan mencerap realitas-realitas disekitar. Hadirlah konsep dualisme subjek-objek (sebagaimana dualisme Cartesian), aku yang menyadari-realitas yang disadari. Karena pengetahuan dan kesadaran bersifat keluar, maka pastilah akan tertumbuk pada dilema epistemologis paling fatal, yaitu sebagaimana disebut dalam filsafat Barat istilah “das ding an sich”, maksudnya pengetahuan kita terlepas dari realitas itu sendiri atau pengetahuan kita tak mungkin mengetahui suatu eksistensi sebagaimana eksistensi itu sendiri. Dengan demikian pengetahuan yang terbangun pun akhirnya pengetahuan yang bersifat reduksionis dan fragmentatif.
Dengan demikian kata wujud tak bisa dipadankan dengan kata eksistensi, kata ada, atau kata apa pun. Karena wujud adalah sebuah kata dengan makna yang unik dan holistik. Makna wujud bisa diartikan secara sederhana untuk menunjukkan adanya sesuatu, tapi makna kata wujud juga bisa berarti menemukan dan mengetahui keberadaan yang akhirnya berhubungan pada tingkatan kesadaran hingga yang tersublim yaitu wijdan. Wajada, Wujud, Mawjud, dan Wijdan, metamorfosa kata yang indah.
Wallahu a’lam bi shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar