Jumat, 23 Juli 2010

Empat Penjara Manusia dan Cara Manusia “Mengada” (Filsafat Manusia: Perspektif Ali Syari'ati)

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.

Menurut Ali Syari’ati ada empat penjara yang menghalangi manusia ke arah gerak dinamis menuju tahap kesempurnaan. Keempat penjara tersebut, adalah ; alam, sejarah, masyarakat, dan ego. Hukum alam yang dipahami secara determinisme-mekanistik dapat menjadi penghambat bagi manusia dalam tahapan evolusinya. Karena ketidakmampuan manusia “menundukkan” alam mengakibatkan kehidupan manusia menjadi tidak efektif dan efisien. Sejarah yang merupakan peristiwa masa lalu dapat menjebak manusia pada hukum-hukum determinisnya. Hasil-hasil dari peristiwa sejarah masa lampau yang dirasakan oleh manusia hari ini bisa membuat manusia dapat terjebak pada determinisme historis yang mengakibatkan manusia bersikap pasif dan kehilangan misi futuristiknya. Hukum dan kultur yang ada dalam lingkungan masyarakat pun bisa menghambat kreasi dan inovasi manusia dalam beraktualisasi diri untuk “menemukan” kesejatian dirinya. Sedangkan ego, sebagaimana dalam tinjaun kaum psikoanalisis atau kaum hedonis akan membuat manusia senantias memperturutkan hasrat instingtifnya dan melupakan realitas ruhani yang merupakan realitas sublim bagi manusia.

Empat penjara manusia, sebagaimana yang dibahasakan oleh Ali Syari’ati tersebut bukanlah hal yang determinan bagi manusia. Manusia masih memiliki kesempatan untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman empat penjara tersebut selama ia mampu mengabdikan gerakannya dalam evolusi menuju “peninggian” ruhaninya. Dengan melakukan hal tersebut, manusia bisa mengubah dirinya dari makhluk biasa (being) menjadi makhluk sempurna (becoming).

Syari’ati menjelaskan bahwa becoming adalah bergerak, maju, mencari kesempurnaan, merindukan keabadian, tidak pernah terhambat dan terhenti, serta terus menerus bergerak menuju ke arah kesempurnaan. Evolusi ini adalah evolusi tanpa henti dari manusia yang serba terbatas ke arah realitas yang tanpa batas, bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, atau ke arah kesempurnan yang ideal.

Untuk melakukan gerakan becoming dan melepaskan diri dari empat kekuatan yang “memenjarakannya”. Manusia dibekali oleh Tuhan dengan tiga potensi dasar, yaitu ; kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam raya ini yang memiliki kesadaran. Kesadaran tersebut adalah pengalaman tentang kualitas esensi dirinya, dunia, dan hubungan antara dirinya dengan dunianya. Kesadaran diri adalah ciri pertama manusia, yang memungkinnya untuk meninggalkan insting hewaniyahnya. Dengan potensi kesadaran yang dimilikinya manusia akan mampu mempersepsi realitas diri dan realitas disekitarnya. Dengan kesadarannya jugalah manusia dapat “menundukkan” realitas disekitarnya.

Potensi kedua yang dimiliki oleh manusia adalah kehendak bebas untuk memilih. Manusia adalah satu-satunya makhluk di alam ini yang memiliki kebebasan untuk memilih bagi dirinya sendiri dan apa yang dia pilih dapat bertentangan dengan kecendrungan instingtifnya, dengan alam, dengan masyarakat, dan bahkan dengan dorongan-dorongan fisiologis dan psikologisnya. Kebebasan memilih inilah yang dapat menolong manusia untuk dapat mencapai taraf tertinggi dalam proses “kemenjadiannya”. Kebebasan manusia yang dimaksud oleh Syari’ati, bukanlah kebebasan tanpa batas dan tanpa tanggung jawab, sebagaimana yang dikatakan oleh filosof eksistensialisme ateistik. Melainkan kebebasan manusia untuk memilih mengikuti fitrah primordialnya, yaitu Ruh Allah dengan meninggalkan kecendrungan-kecendrungan instingtifnya yang merupakan manifestasi dari unsur lumpur busuk (Iblis) yang membentuk jasad manusia.

Potensi ketiga yang dimiliki manusia adalah kemampuan daya cipta atau kreatifitas. Dengan kemampuan kreatifnya, manusia dapat membuat barang-barang dalam berbagai bentuk, dari yang paling kecil dan sederhana hingga yang paling kolosal dan kompleks. Kemampuan kreatif manusia terimplementasi dalam eksistensi kekuatan kreatifnya di alam semesta sebagai makhluk yang khas. Manusia tidak hanya semata-mata terampil sebagai pembuat alat, tapi manusia juga adalah artis yang kreatif. Dari kemampuan kreatif manusia yang tinggi inilah manusia tidak hanya berhenti sebagai kreator yang menciptakan alat yang bersifat material semata. Berbagai seni kreatif adalah hasil dari kebutuhan-kebutuhan intelektual dan spiritual yang tinggi dan dalam pada diri manusia. Dengan kemampuan kreatifnya, manusia dapat mengeksplorasi alam sehingga manusia mampu membangun peradaban, memajukan kebudayaan, meningkatkan kemakmuran bagi diri dan masyarakatnya, serta memuaskan kebutuhan-kebutuhan intelektual dan spiritualnya. Dengan kemampuan kreatifnya manusia dapat dengan sempurna mengemban amanah Tuhan sebagai khalifahNya.

Ketiga potensi dasar yang dimiliki oleh manusia tersebut adalah atribut ketuhanan yang hadir dalam diri manusia, dan kemudian manusia mengembangkan ketiga atribut mulia tersebut untuk memenuhi tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Dengan ketiga potensi yang dimiliki tersebut, manusia “diundang” (atau “ditantang”) oleh Tuhan untuk bertindak sebagaimana tindakan Tuhan (berakhlak sebagaimana akhlak Allah).

Ketiga atribut ketuhanan tersebut mesti dikembangkan oleh manusia untuk melepaskan diri dari kungkungan empat penjara yang telah memenjarakan eksistemsinya. Adapun cara “mengada” manusia yang dimaksud oleh Ali Syari’ati dalam upaya membebaskan diri dari empat penjara tersebut, adalah :
- Untuk membebaskan diri dari penjara alam, maka manusia harus berusaha “menundukkan” alam dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian diharapkan manusia akan dapat membawa alam semesta beserta semua sifat dan hukum dasarnya untuk berada dalam pengawasan manusia.
- Untuk membebaskan manusia dari penjara sejarah, yaitu dengan mempelajari tahapan-tahapan historis dan hukum-hukum deterministik yang terjadi dalam perjalanan sejarah umat manusia. Hukum-hukum deterministik dan tahapan-tahapan historis ini kemudian dikembangkan untuk membangun kemajuan sejarah masa depan sesuai dengan cita ideal yang diharapkan.
- Untuk membebaskan diri dari kungkungan masyarakat, manusia bisa mengatasinya dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial, hukum-hukum dan karakteristik yang ada di masyarakat.
- Melepaskan diri dari penjara ego adalah hal yang paling sulit bagi manusia, karena antara “penjara” dan “tawanan” tidak terpisahkan. Jika membebaskan diri dari tiga penjara yang lain cukup hanya dengan mengembangkan pengetahuan dan kesadaran, maka untuk membebaskan diri dari penjara ego hanya ada satu cara, yaitu haruslah dengan cinta.

Cinta yang dimaksud oleh Syari’ati, bukanlah cinta dalam artian sufistik, Platonik, mistik, dan abstrak. Sebab bentuk-bentuk cinta seperti itu adalah bentuk-bentuk penjara itu sendiri bagi manusia. Cinta yang dimaksud oleh Syari’ati sebagai pembebas dari penjara ego adalah cinta dalam artian substantif yang harus melahirkan kekuatan bagi setiap pencinta untuk mengorbankan apa-apa yang dimilikinya. Dalam perkataan lain, cinta yang dimaksud adalah cinta yang mampu menimbulkan kekuatan untuk memberontak melawan sifat dasar manusia
(kecendrungan instingtif dan egoisme) dan mengorbankan kehidupannya untuk sebuah cita-cita ideal (“kebersatuan” dengan Ruh Ilahiyah). Inilah arti yang sebenarnya dari pengorbanan sebagai tahapan “menjadi” yang tertinggi dan sempurna bagi manusia. Ketika manusia berhasil membebaskan dirinya dari empat penjara ini, maka manusia akan menjadi makhluk yang telah terbebaskan dan tercerahkan.

Mengutip pendapat Alexist Carrel, Syari’ati mengatakan, ketika kalbu manusia telah terisi oleh kekuatan cinta murni, cinta itu pastilah tulus, suci, dan sejati. Kehidupan dan wujud cinta merupakan suatu simbol dari mukjizat Allah yang berhasil digapai oleh manusia. Sebagaimana tidak akan mampu memahamiNya orang-orang yang tak memiliki pengetahuan, begitu juga orang tidak akan mengenalNya jika mereka tak memiliki cinta. Dari ungkapan tersebut tergambar pernyataan Syari’ati yang menegaskan betapa cinta merupakan kekuatan tertinggi yang dimiliki oleh manusia untuk “mengembangkan” dirinya menuju kesempurnaan dan kemuliaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar