Seandainya Aku disuruh memilih terlahir sebagai apa,
Maka, aku akan memilih untuk terlahir sebagai seorang perempuan
(Ibnu ‘Arabi)
Wahai Lelaki! kala kau angkat takbir dalam sembahyangmu
Tanggalkan dan tinggalkanlah kelaki-lakianmu
Karena hanya dengan menjadi perempuan,
kau akan sampai pada Tuhanmu
Doktrin dasar teologi Islam didasarkan pada Tauhid yang menjadi fondasi dan sentrum serta motivasi dan orientasi seluruh aktivitas manusia. Pengetahuan awal mengenai Tauhid adalah mengetahui bukti-bukti rasional tentang keberadaan WujudNya, mengakui keesaanNya sebagai pencipta alam semesta, dan mengenal dan mengetahui Asma (nama) dan SifatNya. Pengetahuan yang menumbuhkan keyakinan yang kukuh akan keberadaan, keesaan, dan keagungan Asma dan SifatNya, tidaklah sekedar doktrin keagamaan yang statis. Tauhid mesti menjadi sumber energi aktif yang mampu membuat manusia terus menggali kedalaman makna semesta jagad yang tiada batas. Dengan Tauhid, manusia mesti mengenali dirinya, dan akhirnya proporsional menempatkan posisinya dihadapan Tuhan dan sesamanya.
Salah satu bagian dari pembahasan Tauhid adalah pembahasan mengenai Asma (Nama) dan SifatNya. Kesempurnaan Tuhan termanifestasi dalam Asma dan SifatNya. Allah mempunyai Nama dan Sifat yang agung, yang dari sinilah gradasi makhluk tercipta. Dari sekian banyak Asma dan SifatNya, pemikir muslim mengkategorisasikan Sifat dan AsmaNya ke dalam dua kategori utama, yaitu sifat Jalaliyah dan sifat Jamaliyah. Sifat Jalaliyah Allah terdiri atas Sifat-sifat yang memanifestasikan sisi keperkasaan (maskulinitas) Allah, sedangkan Sifat Jamaliyah merupakan Sifat-sifat yang mencerminkan sisi keindahan (feminitas) Allah.
Kedua aspek Sifat Allah tersebut bergradasi ke alam kosmik, dan menjadikan tatanan semesta ciptaanNya bergerak secara seimbang dan harmonis. Manusia sebagai makhluk yang mencerminkan puncak kesempurnaan kreasi Ilahiyah, secara potensial memanifestasikan kedua kategori Sifat Allah tersebut secara paripurna. Hanya saja, jika laki-laki lebih dominan menyerap dan mengaktualkan sisi Jalaliyah sedangkan perempuan lebih dominan pada sisi JamaliyahNya. Itulah sebabnya, laki-laki diberikan tanggung jawab memainkan peran dalam hal perlindungan dan penjagaan sedangkan perempuan memainkan peranan pada ranah yang berhubungan dengan kasih, sayang, dan pengasuhan.
Dualitas Sifat Allah tersebut mencerminkan ciri dualisme sisi kosmik yang harmonis dan saling melengkapi. Perempuan dengan “ke-perempuan-annya” (perempuan sebagai adjective) yang mencerminkan dan mewujudkan sisi Jamaliyah Tuhan, menunjukkan pengakuan Allah akan keagungan perempuan pada ranah metafisis. Surga (jannah) sebagai perwujudan kenikmatan dan keindahan adi-duniawi dideskripsikan dengan simbol-simbol feminitas, menunjukkan bahwa aspek-aspek ke-perempuan-an merupakan manifes keagungan Ilahiyah yang ultim. Berbeda dengan neraka (naar) yang menurut Rumi merupakan cerminan dari aspek maskulinitas (Jalaliyah) dari sifat-sifat Tuhan. Maka surga adalah kedirian perempuan itu sendiri yang penuh dengan keindahan, ketenangan, kedamaian, keteduhan, dan lain-lain. Maka simbolitas surga pun dideskripsikan begitu sangat feminim dengan simbolitas bidadari dengan berjuta pesonanya.
Simbolitas surga adalah “kedirian” perempuan yang menunjukkan keagungan dan ketinggian derajat penciptaannya. Itulah sebabnya, Rasulullah saw, melekatkan posisi surga pada tempat terbawah dari perempuan, yaitu di bawah telapak seorang ibu. Oleh karena itu dalam struktur metafisis, posisi ke-perempuan-an menempati posisi yang lebih agung dari posisi ke-lelaki-an. Meski keduanya mendapatkan kesempatan yang sama dengan ketaqwaannya untuk raih derajat puncak kemanusiaan di sisi Tuhan. Namun, seorang laki-laki, harus “menanggalkan” ke-laki-laki-annya dan “menjadi” perempuan dalam sujud sembahyangnya. Posisi keagungan perempuan dalam jagad spritualitas tercermin dalam sabda imam Ja’far al-Shadiq:
Kami (para imam) adalah hujjah bagi keberadaan semesta,
Tapi, Fatimah adalah hujjah bagi keberadaan kami
Dari pangkuan wanitalah, laki-laki menapak tangga menuju langit
(Imam Khomeini qs)
Wallahu a’lam bi shawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar