Jumat, 23 Juli 2010

HMI-MPO dan Wacana Epistemologi

Untuk memahami kerangka ideologi HMI-MPO, maka terlebih dahulu perlu dipahami landasan epistemik dan filosofis dari ideologi Islam ala HMI-MPO. Dalam perumusan basis ideologisnya, HMI-MPO menjadikan epistemologi sebagai perhatian utama. Ketika fase perpecahan telah usai, serta upaya konsolidasi internal HMI-MPO telah mencapai tahap akhir. Paradigma ideologi HMI-MPO mulai merambah ”jalan baru”. Masalah-masalah yang berkenaan dengan epistemologi menjadi perhatian utama. Menurut Suharsono, dilihat dari realitas organisasional, HMI-MPO adalah organisasi pertama di Indonesia yang concern terhadap masalah-masalah epistemologi, meskipun hingga hari ini, HMI-MPO belum melahirkan karya-karya epistemik yang memadai. Namun, secara internal diskursus epistemologi menjadi salah satu tema penting yang dibicarakan dan dikaji baik pada perkaderan formal organisasi maupun pada kegiatan diskusi lainnya. Bahkan pengkajian tentang tema-tema epistemologi di HMI-MPO mendapatkan ”tempat khusus” dan menjadi salah satu tema kajian yang sangat diminati oleh kader.

Pembahasan persoalan epistemologi di dalam khittah perjuangan, khususnya berkenan dengan keyakinan dan bagaimana cara memperolehnya. Khittah perjuangan menampilkan dua bentuk epistemik dari keyakinan yang ada dan melakukan kritik serta menawarkan format epistemologi sendiri, yang diyakini sebagai epistemologi yang cukup par exelence dalam membangun sebuah keyakinan yang kokoh. Islam diyakini secara teologis maupun ideologis memiliki kapabilitas, dan harus kompatibel untuk mengimbangi hegemoni Barat dalam hal perumusan paradigma keilmuan alternatif. Untuk itu, kader-kader HMI-MPPO mulai menggagas bangunan keilmuan untuk meletakkan landasan terciptanya prinsip-prinsip sains dan keilmuan yang memberi rahmat bagi alam semesta. Atau setidak-tidaknya, tidak memberi ruang untuk mengeliminir peran agama dalam kehidupan/

Di dalam khittah perjuangan, dikatakan, ”manusia secara niscaya membutuhkan keyakinan sebagai dasar dari setiap gerak dan aktivitas manusia dalam hidupnya”. Sistem keyakinan dibangun di atas fondasi sistem berpikir yang mengantarkan pengikutnya pada pemahaman dan kepercayaan. Sistem keyakinan yang dibangun di atas fondasi falsafah empirisme dikritik karena mengandung kelemahan, yaitu ketidakmampuan menjelaskan realitas ”ephifenomenal” yang berada di luar jangkauan pengalaman inderawi manusia. Khittah perjuangan juga mengkritik sistem keyakinan yang dibangun dari cara pandang yang didasarkan pada doktrin literal kitab suci (skriptualistik). Menurut khittah perjuangan, ”sistem berpikir literal telah mengingkari peran akal sebagai .sarana verifikasi kebenaran.”

Secara tersirat, khittah perjuangan menjadikan kerangka berpikir yang rasional dan filosofis sebagai dasar pijakan dalam membangun sistem keyakinan. Menurut Muzakkir Jabir, basis ideologi HMI-MPO adalah basis intelektualitas. Artinya dalam memahami Islam, didasarkan pada pengkajian epistemik, diawali dengan ”melepaskan diri” dari kungkungan kerangka paradigma dogmatik yang memahami Islam secara literal dan kaku lantas memahami Islam dalam kerangka rasionalitas dan dinamis yang senantiasa mampu berkesesuaian dengan perubahan zaman dan kemajuan berpikir serta peradaban manusia.

Dalam khittah perjuangan dikatakan,

Sistem berpikir literal sangat potensial membuat manusia “melarikan” diri dari kenyataan dan tantangan zaman, karena cara berpikir tersebut telah mendikotomikan ketundukan pada ayat-ayat suci Tuhan dengan peran-peran peradaban manusia.

Untuk itu, berdasarkan nalar khittah perjuangan, agar ideologi Islam menjadi konsep yang realistis dan menyejarah, serta mampu menjawab tuntutan zaman yang berkembang, maka dibutuhkan perangkat pemikiran yang filosofis dan rasional dalam menelaah ajaran Islam. Dalam pandangan HMI-MPO yang dimaksud dengan epistemologi rasional cakupan ontologisnya juga melingkupi aspek-aspek mistis-metafisis, selama hal tersebut mampu ditelaah dan diverifikasi secara logis melalui kaidah-kaidah filosofis oleh kekuatan akal manusia. Termasuk halnya dengan doktrin-doktrin keislaman yang bersifat metafisis, harus mampu dijabarkan secara sistematis dan filosofis dalam kerangka rasional manusia. Karena dalam pandangan HMI-MPO, wilayah akal melingkupi dua aras realitas, yaitu realitas material dan realitas immaterial (metafisis). Tentu saja pada tataran metodologis untuk memahami realitas keduanya menggunakan metode yang berbeda. Dalam pandangan HMI-MPO, akal menempati porsi yang sama kedudukannya dengan wahyu (Alquran) sebagai sumber kebenaran.

Dalam khittah perjuangan dikatakan, ”manusia memiliki fakultas epistemologi yang disebut fuad, yakni hati dan akal, serta panca indera.” Yang melahirkan keyakinan, perasaan, pandangan hidup, pikiran, dan lingkungan pergaulan. Dengan kata lain, konsepsi kebenaran dalam pandangan HMI-MPO harus didasarkan pada pemahaman yang holistik dan sistematis serta didasarkan pada argumentasi yang rasional-filosofis namun tetap dilandaskan pada doktrin normativitas Alquran. Sehingga tidak ditemukan anomali dalam pemahaman dan keyakinan pada doktrin-doktrin ideologis Islam.

Sikap fundamentalistik dan keyakinan yang kokoh terhadap doktrin-doktrin keislaman tetap bertahan, namun dengan model yang berbeda dari corak yang ditampilkan oleh fundamentalisme Islam yang lain. Menurut Sulhan Yusuf, model epistemologi keislaman yang ditampilkan oleh HMI-MPO adalah sikap fundamentalisme berwawasan yang berbeda dengan fundamentalisme Islam kebanyakan yang dianggap tidak berwawasan. Jika fundamentalisme tidak berwawasan didasarkan pada semangat dan fanatisme buta, tanpa didasari oleh muatan intelektual. Fundamentalisme berwawasan adalah sikap kukuh menganut, mengamalkan, dan membela kebenaran ideologi Islam, namun pencapaian hal tersebut dihantar oleh sebuah pencaharian kebenaran melalui telaah intelektual yang kritis.

Selain penekanan yang kuat pada aspek-aspek rasionalitas, secara epistemik aspek intuitif juga diterima sebagai dasar epistemik untuk mendapatkan pengetahuan, karena intuisi merupakan salah satu fakultas epistemologis yang dimiliki oleh manusia selain akal. Pengetahuan intuitif tidaklah bertolak belakang dengan pengetahuan rasional, bahkan pengetahuan intuitif menjadi sumber inspirasi hadirnya pengetahuan rasional. Menurut Murtadha Muthahhari, Alquran menyebutkan hati nurani sebagai salah satu sumber pengetahuan. Dari kacamata Alquran segenap makhluk ”mengandung” ayat-ayat Allah dan kunci menemukan kebenaran.

Dalam pandangnan khittah perjuangan, ilmu dipandang sebagai entitas holistik yang berporos pada Tauhid, dan tidak ada pemisahan secara kaku antara ilmu agama dan non agama.

Islam menyatakan bahwa ilmu merupakan kesatuan pengetahuan tentang Tuhan, alam, dan manusia, sehingga melahirkan spektrum yang sangat luas, yaitu Tauhid, ke-alam-an, dan sosial yang melahirkan cabang-cabang ilmu lainnya. Pada pandangan umum ilmu terbagi menjadi ilmu agama, ilmu alam, dan ilmu sosial. Kategorisasi ini secara filosofis sangat sekuler. Karena dipandang ilmu agama hanya berkenaan dengan urusan akherat dan bersifat pribadi saja dan tidak merangkum seluruh kenyataan sosial. Di sisi lain dipandang ilmu-ilmu sosial dan sains adalah urusan dunia yang terlepas dari kehidupan beragama. Padahal, secara ontologis, alam semesta (realitas) ini adalah sebuah kesatuan yang membentuk ilmu dalam satu kesatuan yang integral, di mana diantara cabang-cabang tersebut ilmu mesti dipandang secara holistik dan integral serta memiliki hubungan yang saling bergantung.

Dalam buku HMI dan Wacana Revolusi Sosial, Syafinuddin al-Mandari memberikan perbandingan konsepsi filosofis dari konsep Islam ala HMI dengan pandangan materialisme Barat. Pada ranah ontologis, paradigma materialisme Barat hanya memfokuskan pandangannya pada realitas yang empiris, sedangkan dalam pandangan Islam diyakini obyek keilmuan adalah seluruh realitas, baik yang empiris (fenomenal) maupun non empiris (neumenal).

Pandngan tentang ilmu yang bebas nilai menjadi fondasi aksiologis filsafat materialisme Barat, sedangkan dalam pandangan Islam, tujuan dari seluruh aktivitas kehidupan adalah untuk mencapai keridhaanNya.dalam upaya sungguh-sungguh melakukan proses humanisasi. Penjelasan yang lebih sederhana mengenai perbandingan antara konsepsi filsafat materialisme Barat dengan konsep filosofis Islam (dalam pandangan HMI-MPO) tampak pada skema berikut:

Term Materialisme Barat Islam
Ontologi Nyata (empiris/fenomena) Ghaib dan syahadah
Epistemologi Pikir maksimal (eksperimentasi) Dzikir dan pikir
Aksiologi Bebas nilai (free values) Ridha Allah

(Penggalan dr Tesis yg bertajuk "Interpretasi Ideologi Islam dalam Pandangan HMI-MPO: Study Filosofis atas Khittah Perjuangan HMI-MPO)
Semoga bisa menjadi sumbangsih yg berharga bagi organisasi yg telah mengajarkanku berpikir merdeka.
Salam Yakusa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar