Dalam pandangan HMI-MPO, Islam diyakini sebagai ajaran agama yang berdimensi ideologis karena mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia baik dalam hal tuntunan yang bersifat teoritik maupun petunjuk yang bersifat praktis. Selain itu, pendekatan intelektualitas yang berbasis rasionalitas-filosofis dalam menelaah Islam telah menjadikan kader-kader HMI-MPO semakin yakin pada Islam pilihan ideologisnya
HMI-MPO memilih doktrin Islam, dan lebih jauh lagi, doktrin Islam dipahami secara ketat sebagai satu-satunya alternatif ideologi yang dapat mengarahkan tatanan dunia menuju keselamatan alam raya. Adanya keinginan keras dari kader-kader HMI-MPO untuk mewujudkan doktrin Islam sebagai aturan-aturan sosial untuk pembebasan umat manusia yang hakiki, merupakan bukti bahwa HMI-MPO telah menempatkan Islam sebagai sumber semangat gerakan ideologisnya. Islam diyakini dapat mengantarkan umat manusia pada cita-cita pembebasan sejati, dan bukan pembebasan sebagai pintu gerbang penindasan bagi golongan lain.
Ideologi Islam dalam pandangan HMI-MPO didasarkan pada pandangan dunia Tauhid. Pandangan dunia Tauhid diyakini memiliki keunggulan dibandingkan pandangan dunia lainnya. Oleh kader-kader HMI-MPO ideologi Tauhid dapat menjamin kepastian yang mudah diuji dengan pendekatan rasional-deduktif, menghilangkan keraguan dan dapat melayani debat intelektual di setiap zaman.
Pandangan dunia Tauhid adalah pandangan dunia yang sangat mudah dibedakan secara prinsipil dengan konsep pandangan dunia dari sumber ilmiah dan filsafat. Sebagaimana dikatakan Murtadha Muthahhari, pandangan dunia ilmiah merupakan pembuktian kebenaran yang bersifat ”temporer” dan sangat labil, sesuatu yang tidak self evident, dan sangat lemah dijadikan pandangan hidup. Sedangkan pandangan dunia filosofis terdapat kaidah-kaidah yang self evident, namun tidak menjamin kesucian dan keabadian yang menjadi cita-cita masa depan manusia secara fitrawi.
Ideologi Islam dalam pandangan HMI-MPO adalah ideologi yang bersifat terbuka dan konstruktif. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kali proses penyempurnaan khittah perjuangan yang didasarkan pada proses perkembangan pemikiran kader-kader HMI-MPO. Keterbukaan pemikiran inilah yang menjadikan muatan khittah perjuangan menjadi begitu kaya akan berbagai khasanah pemikiran Islam yang pernah ada.
Selain bersifat terbuka, konsepsi Islam yang dipahami oleh kader-kader HMI-MPO adalah Islam yang senantiasa ”menyejarah”. Pahaman ini melahirkan pahaman ideologi Islam yang bersifat konstrukif. Rumusan ideologi Islam harus senantiasa bergerak dan berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan kondisi zaman dan masyarakat. Tidak ada kata ”final” bagi sebuah penafsiran keislman, yang dianggap final hanyalah aksioma-aksioma dasar keislaman yang menjadi fondasi ideologis, sedangkan penjabarannya bersifat dinamis dan bersinergi dengan realitas sosial masyarakat yang berkembang. Dengan kata lain, Islam harus mampu ditampilkan sebagai tawaran solutif dalam menata masyarakat menuju kondisi idealnya.
Konsepsi ideologi Islam yang dianut oleh HMI-MPO tertuang dalam dokumen ideologis yang disebut dengan khittah perjuangan. Dalam tulisan ini, Konsepsi ideologi Islam yang termuat dalam khittah perjuangan, secara umum dibagi atas konsepsi teoritik dan konsepsi praktis. Konsepsi teoritis terdiri atas konsepsi tentang ketuhanan (teologis), kesemestaan (kosmologis), kemanusiaan (antropologis) dan kemasyarakatan (sosiologis), serta konsepsi tentang sejarah dan kemasadepanan atau eskatologi. Sedangkan konsepsi praktis berisi tuntunan praktis bagi kader-kader HMI-MPO. Dalam hal ini termaktub dalam muatan tafsir usaha yang menjadi salah satu bagian khusus dari khittah perjuangan HMI-MPO.
Bersambung.
(Penggalan tulisan dari tesis yang berjudul ”Interpretasi Ideologi Islam dalam Pandangan HMI-MPO; Study Filosofis atas Khittah Perjuangan HMI-MPO)
Kudedikasikan pada organisasi yang telah banyak menginspirasiku untuk selalu menelaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar