Oleh: Sabara Nuruddin A, S. HI, M. Fil.
Orang yang beragama adalah orang gila dan infantil (Sigmund Freud)
Di akhir abad 19 dan di awal abad 20, seorang dokter jiwa yang “gila” dan dianggap sebagai bapak psikologi modern mengumandangkan dengan lantang perang melawan agama. Tidak tanggung-tanggung, sang dokter jiwa tersebut mengklaim bahwa orang beragama adalah sama dengan orang gila yang ada di kliniknya (sama-sama neurotic syndrome). Belum hilang dalam catatan sejarah dan dari ingatan manusia pada saat itu, kidung kematian Tuhan yang didendangkan oleh si kumis tebal, Frederich Wilhelm Nietszche, kritik pedas agama yang dilontarkan oleh Ludwig van Feurbach, dan tohokan tajam atas agama sebagai candu (agama adalah candu masyarakat) oleh mbah brewok Karl Marx, dan sekian banyak pemikir Barat lainnya. Kini para teolog dan kaum agamawan kini harus berhadapan lagi dengan Sigmund Freud, bapak psikologi dari Austria. Darah kaum rohaniawan yang sudah panas semakin mendidih. Emosi umat manusia yang beragama makin menggelegak. Betapa tidak! Lewat karya-karyanya (Moses and Monoteism, Totem and Taboo, dan lain-lain) oleh Freud, agama yang selama ini diagung-agungkan kini dihina dengan begitu rupa. Agama yang dianggap sebagai sophia perennis (kebijaksanaan abadi) kini dianggap utopis. Api iman yang menyala di hati umat manusia hendak dipadamkan.
Agama adalah kegilaan yang sangat irasional, karena orang-orang beragama mau berbuat hal-hal yang sama sekali tak tersentuh oleh nalar, meyakini sosok Tuhan yang tak empirik, meyakini suatu sosok transendden yang tak bisa diketahui secara pasti. Apalagi kalo bukan kegilaan? Yah (mungkin) kegilaanlah yang mengantarkan manusia untuk bersujud di lantai mesjid, kebaktian di gereja, doa puja bakti di kuil, dan sembahyang di sinagog. Kebodohanlah yang mengantarkan manusia harus tunduk khusyu’ dihadapan patung dan pelbagai gambar serta tanda dan simbol di tempat ibadah yang dianggap suci. Dan (mungkin) kegilaanlah yang membuat umat Islam rela membuang uangnya hingga puluhan juta rupiah hanya untuk mengelilingi sebuah bangunan berbentuk kubus (Ka’bah). Sungguh kegilaan yang tak masuk diakal (dalam analisis Freud).
Sebagai orang yang beragama tentu kita akan marah besar, emosi kita akan membuncah, seandainya Freud (atau orang semacamnya) ada di hadapan kita, tentu kita ingin membunuhnya. Namun, semakin kita marah, semakin akan membuat Freud and the gank akan tertawa penuh kemenangan. Dan akhirnya kita semakin membuktikan bahwa agama adalah sebuah kepercayaan tanpa nalar dan sangat emosional. Cobalah kita tidak terjebak pada kesalahan berpikir argumentum ad hominem (kesalahan berpikir karena menyerang pribadi). Cobalah kita renungkan dengan nalar yang jernih segala kritikan hingga cacian yang dilontarkan. Sesuatu yang tidak menyenangkan akan menimpa kita. Kritikan Freud and the gank akan semakin menyudutkan kita dan membuat kita terus tersudut hingga pojok ruang pengap dogmatisme buta yang selama ini kita agung-agungkan. Dan ruangan pengap itu bernama agama yang kita puja-puja. Karena keyakinan dengan nalar yang hampa.
Sejak kecil (umumnya) kita sudah diperkenalkan dengan Tuhan dan agama sebagai hal yang tak boleh dipikirkan dan hanya boleh diyakini dengan segenap iman. Adakah keyakinan yang tak didahului oleh sebuah pemikiran dan pengetahuan?. Kalau toh ada, itu tak lebih dari keyakinan sorang anak kecil yang begitu saja mempercayai dongeng-dongeng yang irasional sebagai sebuah fakta kebenaran. Kita bukan anak kecil, kita adalah orang dewasa. Namun, kenapa agama yang kita yakini dengan begitu kuat justru membuat nalar kita menjadi infantil (tak dewasa)?. Benarkah Tuhan tega membiarkan kita berpikir laksana seorang anak kecil?. Atau jangan-jangan benar kata Marx, bahwa agama adalah candu yang meninabobokkan kaum proletar pada surga dan segala kenikmatan abadi yang utopis. Padahal di sekitar mereka kaum borjuis sedsng menari-nari sembari mendendangkan lagu kemenangan karena berhasil merampas hak kita.
Kita kemudian diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit, tetap pada agama yang membelenggu nalar dan memasung kebebasan ataukah kita akan menerobos dinding tebal agama yang memenjarakan kita dan keluar sejauh-jauhnya untuk tidak akan kembali lagi. Marilah kita bangkit! Kumpulkan segenap kekuatan, labrak dinding tebal penjara agama yang memasung nalar, membelenggu kehendak bebas, memangkas kreatifitas. Larilah sejauh-jauhnya, jangan pernah berhenti berlari walau lelah mendera. Larilah ikuti petunjuk akal, ke mana ia menunjuk ke situlah kita berlari. Jika Tuhan benar-benar ada dan Maha Pengasih serta Maha Pemberi Petunjuk, pasti Dia akan tunjukkan KasihNya dan akan menuntun kita pada suatu padang yang indah di mana terdengar desah alam yang damai dengan aliran air yang menyejukkan dahaga. Di tengah padang nan indah itu ada sebuah rumah yang besar, megah nan indah. Rumah yang menjanjikan kedamaian bagi akal, kalbu, dan raga. Itulah rumah Islam (bukan “islam”), rumah yang mungkin telah lama kita lupakan dan baru kita temukan.
Lebih kurang 14 abad yang lalu, seorang lelaki agung nan suci (Muhammad saww) telah datang membawa risalah Tuhan yang mengajak nalar kita terbang bebas, menjelajah angkasa raya, menembus penjuru langit dan bumi. “Agama adalah akal dan tidak beragama bagi orang-orang yang tidak berakal”. Itulah ajaran Nabi Muhammad saww yang sering dilupakan. Akal adalah fondasi yang kokoh dari bangunan Islam yang megah. Imam Ali bin Abu Thalib as berkata: “Apa yang ada dalam Islam adalah sesuai dengan akal manusia, dan apa yang tidaks esuai dengan akal manusia bukan ajaran Islam”. Namun, klaim yang terburu-buru selama ini terhadap ajaran Islam sebagai ajaran yang tidak melibatkan akal dengan doktrin sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati). Sesungguhnya mungkin akal kita yang tidak mampu menjangkaunya karena kita tidak pernah mengajaknya untuk berkelana menembus rahasia yang paling sublim dari Islam. Dan ingatlah Allah melaknat orang-orang yang tidak menggunakan akalnya )Yunus: 100). Kata salah seorang ustadz (Habib syarif Ja’far Shadiq bin Yahya) dalam puisinya “Agama kita bukan agama dogma penuh dongeng belaka”.
Salam Pencerahan
Disadur dari tulisan pada buletin dakwah LDSI al-Muntazhar Makassar edisi November 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar