Jumat, 23 Juli 2010

Kebenaran Sejati dalam keabadian Insani: Perspektfi Esoterisme

Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.

Hanya ada satu kebenaran, pengetahuan sejati tentang wujud kita, di dalam dan di luar, yang merupakan esensi dari segala kebijaksanaan.

Imam Ali menyatakan, "Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu". Pengenalan tentang diri merupakan pengetahuan yang berkembang "di dalam" pengetahuan Allah. Pengetahuan tentang diri menjawab permasalahan-permasalahan seperti, darimana saya? Apakah saya menjadi eksis sebelum saya menjadi sadar tentang eksistensi saya sekarang? jika saya eksis seperti apakah saya?. Pengetahuan tentang diri juga mengajarkan tentang persoalan seputar tujuan apa yang harus kita penuhi? Dan bagaimana mencapai tujuan tersebut?.

Pengetahuan tentang diri menurut kaum arif adalah esensi agama, kaum arif menemukannya dalam setiap agama, mereka melihat kebenaran yang “sama” dalam setiap agama dan karena itu menganggapnya satu karena berasal dari Yang Satu. Perjalanan sejarah dan pemikiran manusialah yang kemudian menjadikannya berbeda. Karenanya kaum arif menyadari perkataan Yesus as, "Aku dan Bapaku adalah satu". Walau begitu perbedaan antara makhluk dan pencipta tetap ada, meski secara hakekat tidak, inilah yang dimaksud dengan “persatuan dengan Tuhan”. Persatuan ini adalah dalam realitas "kelenyapan' (fana') diri palsu dalam pengetahuan tentang diri yang sejati, yang bersifat Ilahiyah, kekal, dan meliputi ketakterhinggan.

Pengetahuan yang mendasar tentang diri kita awal dari seluruh kebijaksanaan dalam tindakan hidup kita. Karena dengan mengenal diri kita yang sebenarnya, maka kita akan mengenal hakekat tujuan hidup kita dan cara-cara pencapaiannya. Dalam sejarah perjalanan intelektual manusia, yang paling sering ditekankan oleh para tokoh baik dari Timur maupun Barat, mulai dari Lao Tze, Kresna, hingga Socrates, Isa, dan Muhammad saww adalah pengenalan diri sebagai fondasi dalam pencapaian kebermaknaan, keharmoniasan, dan kebahagiaan hidup.

Hanya ada satu jalan, pelenyapan ego palsu ke dalam ego sejati, yang mengangkat ego yang fana' menuju keabadian, tempat segala kesempurnaan.

Semua orang yang menyadari rahasia hidup akan memahami bahwa hidup itu adalah satu, namun memuat dua aspek. Pertama, imortal, meliputi, dan hening dan yang kedua adalah mortal, aktif dan maujud dalam keragaman. Keberadaan jiwa dari aspek pertama menjadi tertipu, tak berdaya dan terperangkap dalam pengalaman hidup yang bersentuhan dengan pikiran dan tubuh. Angan-angan akan membuat manusia tak berdaya, terperangkap, dan teralienasi. Ini adalah tragedi kehidupan yang membuat manusia dari berbagai kalangan akan terus menerus dilanda kekecewaaan dan terus menerus mencari sesuatu yang tidak ia ketahui.

Fenomena keterasingan, ketakberdayaan, dan ketakbermaknaan hidup yang telah menghinggapi hampir seluruh manusia yang larut dalam gemuruh ego hawa nafsunya, membuat para sufi yang mengetahui akan dirinya mengambil jalan lain. Kaum arif karena menyadari hal ini kemudian mengambil jalan fana' dan dengan bimbingan guru (mursyid) menemukan akhir dari perjalanannya yang sesungguhnya adalah tujuan finalnya. Seperti dikatakan oleh Iqbal, "Aku mengembara mencari diriku sendiri, akulah pengembara dan akulah tujuan". Dan lebih dari itu kearifan sejati bukanlah keterlenaan dalam ke-fana-an karena ke-fana-an masih merupakan unsur makhluk yang serba nisbi. Dengan kearifan mestinya kita bangkit dan keluar dari labirin ke-fana-an dan menjadi “baqa” karena menyatu dengan Yang Baqa (Kekal). Menyitir sabda Sang Budha, “keluar dari lingkaran samsara yang disebabkan oleh dukha (hasrat)” lalu menjadi pelita yang abadi yang memancarkan cahaya ke-baqa-an dari Sang dan menjadikan cahaya kebijaksanaan yang abadi tersebut untuk menerangi manusia yang dilanda kegelapan. Mengutip kata iqbal, “manusia sempurna bukanlah manusia yang egonya lenyap (fana) dalam diri Tuhan, melainkan manusia yang egonya menyerap Sifat-Sifat ilahiyah dan menjadikannya sebagai elan vital dan kekuatan pengubah dunia.” Mungkin inilah yang dimaksud oleh Mulla Shadra dalam akhir dari perjalanan seorang hamba, “bersama Tuhan di dalam makhluk”. "dan sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesamanya". dan itulah capaian akhir dari kebenaran sejati dalam kebijaksanaan yang abadi.

Wallahu a’lam bi shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar