Oleh: Sabara Putra Borneo
Judul tersebut disadur dari ajaran tarekat kampung di tanah Bugis, kalimat itu mengingatkan aku pada suatu ketika beberapa tahun yang lalu. Seseorang yang mendalami ajaran mistik kampung Bugis bertanya kepadaku: “siapa nama aslinya laki-laki? Dan siapa nama aslinya perempuan”?. Aku pun terdiam sejenak, belum sempat aku menjawabnya, dia pun menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan. “Ketahuilah anak muda, nama aslinya laki-laki adalah Ali, dan nama aslinya perempuan adalah Fatimah”. Dia pun melanjtkan, “na saba yaro Ali sitongeng-tongenna urane, siba Fatimah sitongeng-tongenna makkunrai” (Karena Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki dan Fatimah adalah sebenar-benarnya perempuan).
Hmm... di lain kesempatan kumendapatkan, lagi-lagi nama Ali dijadikan azimat untuk berbagai karamah. “Pake-pakena Baginda Ali (pake-pakenya baginda Ali)”, “Pajja’guru’na Baginda Ali (Pukulannya Baginda Ali)”, “Pa’gerra’na baginda Ali (geretakannya baginda Ali)”, “Ali Makkarawa, Fatimah ikarawa (Ali menyentuh, Fatimah disentuh”, “Barakka’na Baginda Ali (Berkahnya Baginda Ali)”, dan lain-lain. Hampir semua menjadikan namanya sebagai washilah, terkhusus untuk ilmu kelaki-lakian, karena dalam mindset mereka Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki. Entahlah dari mana akar atau geneologi keyakinan ini. Tapi yang kudapati keyakinan tentang karamah Ali begitu merasuk hingga ke relung-relung dan menjadi doktrin yang begitu kukuh.
Ali adalah sebenar-benarnya laki-laki, karena dia sang maskulin sejati, sekali tebasannya di perang Khandaq kala menebas jawara Quraisy Amr bin Wudd dihargai oleh Allah dan RasulNya lebih berat timbangannya dibanding amal seluruh kaum mukminin.Ali sang manusia biasa yang kefasihannya begitu luar biasa hingga hanya sastra Alquran saja yang menandinginya. Di hari kelahirannya, 13 Rajab bilangan 30 tahun Gajah (10 tahun sebelum kenabian), kala ibunya yang mulia Fathimah binti Asad bertawaf di Baitullah, pintu Ka’bah serta-merta terbuka dan menjadikan lantainya sebagai tempat bayi Haydar memulai hari dengan mengepalkan tangan tanda dimulainya perjuangan mendampingi dan melanjutkan risalah kenabian. Dinding-dinding Ka’bah menjadi saksi kala dunia menyambut kehadiran sang bayi Ali.Dialah Ali yang zuhudnya tiada tara, dialah Ali yang heroismenya tak terkira, dialah Ali yang kefasihannya tak terkata, dialah Ali yang moralnya begitu mulia, dialah Ali yang kecerdasannya luar biasa, dialah Ali dengan keimanan yang sempurna, dialah Ali yang amalnya membumi dan kesadarannya melangit. Dialah Ali. Dialah Ali. Dialah Ali. Laki-laki sejati.
Ribuan kitab dan manaqib takkan pernah cukup melukiskan kegaungannya, jutaan bait syair takkan pernah habis melantunkan pujian untuknya, dan gemerlap cahaya takkan pernah sanggup menandingi cahayanya. Ingatlah ketika ia berkata; “Aku mengimani Alquran karena Muhammad yang membawanya, dan aku mengimani Muhammad karena aku beriman kepada Allah”. Imannya adalah kesadaran sejati, amalnya adalah buah dari cinta suci, ilmunya adalah percik Cahaya Ilahi, dialah Ali sang kinasih Nabi.
Hmm... Kembali kuteringat pada rangkai kata dalam bait-bait azimat yang kudapat dari pelosok-pelosok kampung di tanah Bugis yang penuh berkat. Ali Sitongeng-tongenna Urane (Ali sebenar-benarnya Lelaki).
Salam Bagimu Wahai Sang Washi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar