
Oleh: Sabara Nuruddin, S. HI, M. Fil.I
A. Mukaddimah
Betapa Indah Ramadhan jika kau mengetahuinya
Tapi, untuk memahaminya bukanlah dengan mata dan nalarmu
Tapi,dengan ketajaman dan kehalusan hatimu yang merindu.
Ramadhan bak taman indah yang memendam perbendaharaan keagungan, kemuliaan, dan kesucian yang tiada bandingan. Secara kosmologi metafisis, Ramadhan adalah cakrawala bagi tercurahkan dan tercerahkannya karunia semesta. Sehingga wajarlah, jika semua aktivitas kita di bulan ini bernilai ibadah yang fadhilahnya berlipat ganda. Jika kita berpikir secara analitis-logis, maka kita akan menyatakan; “apa bedanya Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain?”. Jika ia jatuh di pertengahan tahun maka ia akan terasa panas dan jika ia jatuh tepat di akhir atau di awal tahun, maka kita akan melalui Ramadhan yang dingin dan hujan. Bukankah Ramadhan hanyalah bulan yang terdiri dari 29 atau 30 hari, seperti bulan-bulan Hijriyah yang lain?. Kemuliaan Ramadhan, tak akan mungkin bisa didedah oleh nalar, diurai oleh rasio, dideskripsikan oleh imaji, dan dimengerti sepenuhnya oleh persepsi. Karena Ramadhan adalah bulan cinta dan kerinduan pada keagungan dan kemuliaan, yang hanya bisa dipahami oleh hati manusia yang diliputi cinta dan kerinduan pada Sang Maha Agung dan Maha Mulia.
Puasa adalah salah satu hal penting yang menjadi penanda kemuliaan Ramadhan. Puasa adalah riyadhah spiritual yang bersifat sangat pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Sebuah laku spiritual yang mendidik manusia untuk memantik kesadaran reflektif metafisis untuk diejawantahkan pada kehidupan fisis. Sebuah ritus individual, yang akan mengantarkan pelakunya menyublim dari “kebekuan” material yang ephimeral menuju keluasan spiritual yang eternal. Tapi, puasa bukanlah laku tapa, yang menuntut pelakunya untuk “pergi” dari dunia dan kemudian berasyik-ma’syuk dengan halimun semesta. Puasa tak sekedar laku tapa, yang memestikan pelakunya meninggalkan bising dunia. Tapi puasa adalah kelana jiwa untuk memecah rahasia kesunyian ultim di tengah hingar-bingar kebisingan dunia. Karena apa artinya menyelami keheningan dalam senyap?, sejatinya manusia adalah melabrak keriuhan dan ramai lalu berbisik lirih pada kesunyian primordial yang ada dalam dirinya.
Puasa mengajarkan kita
Mengikis tebalnya daki kuasa harta
Dan mendengarkan bisik lirih
Yang tak akan kita dapati
Jika mata kita masih silau oleh fatamorgana
B. Puasa dan Tradisi Spiritualitas/Mistisisme
Tak ada satu pun tradisi mistik atau spiritualitas yang tidak menyertakan puasa sebagai ritus utamanya
Jika kita mempelajari tradisi mistisisme atau spiritualitas di keyakinan mana pun, maka kita pasti menjumpai puasa sebagai salah satu ritus terpenting. Jika kita ingin mendapatkan ilmu-ilmu supranatural, baik yang “hitam” maupun yang “putih”, maka hampir dipastikan puasa menjadi tirakat yang terpenting. Semua tradisi mistik dan spiritual mengenal puasa sebagai media yang paling efektif untuk mengantarkan manusia melepaskan diri dari belitan kepadatan materi menuju pengelanaan alam mistik atau spiritual.
Alam materi atau alam kama sering dikontradiksikan dengan alam spiritual dan alam mistik atau alam batin/alam rupa. Alam spiritual atau alam mistik adalah dimensi yang halus dari alam ini, sedangkan alam materi merupakan jenjang alam terendah yang berdimensi kasar. Oleh karena itu, untuk menembus alam spiritual atau alam mistik, manusia harus melakukan pelampauan terhadap alam materi. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan, menekan, mengurangi, dan bahkan membunuh hasrat dan kecenderungan-kecenderunga
Tradisi spiritual atau mistisisme sangat menekankan pada latihan atau riyadhah-riyadhah yang sangat ketat dalam ajarannya. Latihan atau riyadah itu bertujuan untuk menajamkan sisi batiniah manusia, dilakukan dengan memperhatikan banyak pantangan-pantangan yang sangat keras. Pantangan-pantangan itu berlaku baik secara temporer maupun permanen, pantangan tersebut berkisar pada upaya menahan atau menekan hasrat-hasrat biologis atau kecenderungan ragawi manusia lainnya. Seperti makan, minum, seks, bahkan tidur dan bicara pun dilarang untuk dilakukan. Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam tradisi spiritual maupun mistisisme, puasa menjadi media penting untuk melatih kecenderungan jiwa manusia dalam hal menekan hasrat-hasrat instingtif material guna mengantarkan jiwa manusia menembus petala alam spiritual atau alam mistik. Dengan puasa, manusia menjadi terlatih untuk mengendalikan hasrat ragawi yang liar, sehingga mampu membebaskan jiwanya untuk “terbang” dan merasakan kedalaman dan keluasan dimensi alam batinnya yang amat halus, sehingga pelakunya mampu menyerap kekuatan alam batin yang amat dahsyat.
Islam sebagai agama yang juga sangat menekankan spiritualitas sebagai inti ajarannya berdasarkan metafisika (Tauhid) sebagai pandangan dunianya. Tentu saja menjadikan puasa sebagai salah satu pilar penting yang mengantarkan manusia pada ketinggian derajat kemanusiaan (takwa). Namun, puasa dalam tradisi spiritualitas Islam berbeda dengan yang lain. Puasa tidak ditujukan untuk memperoleh ilmu kedigdayaan mistikal atau puasa tidak ditujukan pada hal apapun selain Allah sebagai tujuannya. Puasa sebagai ibadah yang bersifat sangat pribadi antara seorang manusia dengan Tuhannya, melatih kejujuran dan keikhlasan seorang hamba untuk berbakti pada Sang Khalik. Dan Puasa dalam tradisi Islam adalah bentuk implementasi kecintaan orang-orang beriman kepada Kekasih Sejatinya. Sehingga wajarlah dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Puasa untukKU dan AKU sendiri yang akan menilainya”.
Puasa
Bisik lirih di keheningan semesta
Bersama zikir yang dihantar ketulusan cinta
Menyelami rahim samudera: alpha-omega
(Barack al-Raniri)
C. Puasa: Sebuah Pergulatan Akbar Manusia dengan Dirinya
Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan dengan dirinya sendiri. (Thuong Huo Dhuong)
Alkisah sepulang dari Badar, perang akbar pertama antara umat Islam dan kaum kuffar, di mana pasukan muslim yang jumlah tiga kali lebih kecil berhasil peroleh kemenangan yang gilang-gemilang. Tiba-tiba di tengah sorak-sorai dan yel-yel kemenangan, Rasulullah saww bersabda yang memecah euforia massa, “sesungguhnya kita baru saja dari jihad kecil dan bersiaplah untu jihad yang lebih besar”. Para sahabat pun heran dan bertanya; “Ya Rasulullah, perang apa lagi yang lebih besar dari perang Badar ini?”, Lelaki agung itu menjawab; “Jihad akbar (perang besar) adalah jihad melawan hawa nafsumu”.
Puasa merupakan riyadhah yang lebih ultim dari sekedar laku tapa, karena puasa memantik nalar rasional sekaligus menyuluh rasa cinta yang meluap-luap dari seorang insan. Kesadaran rasional terpantik untuk melawan bengkalai diri yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan. Itulah hawa nafsu yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi (Kecenderungan syaitaniyah) yang dehumanis. Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik yang mampu mengontrol diri untuk hantarkan jiwa berjalan pada jalannya.
Pada level awwam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya. Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderunga
Puasa adalah pertarungan primordial sekaligus kelana diri manusia pada kediriannya. Dan dalam kelana itu manusia harus berhadapan dengan “makhluk-makhluk” penggoda yang akan menghalangi jalannya. Saya teringat pada sebuah kisah dalam Kitab Serat Dewa Ruci. Dikisahkan dalam kitab tersebut Bima berhasrat untuk bertemu dan menyari hikmah dari Dewa Ruci. Berjalanlah Bima ke arah gunung menembus hutan hingga akhirnya ia tiba di pinggir lautan. Dalam perjalanannya Bima dihadang oleh raksasi, naga yang menyemburkan api, dan siluman kera. Ketiganya adalah perlambang keserakahan, nafsu amarah, kelicikan dan egoisme. Setelah berhasil mengalahkan ketiganya Bima pun peroleh petunjuk bahwa Dewa Ruci adalah di dasar samudera. Menyelamlah Bima ke dasar Samudera tuk berjumpa dengan junjungannya, tapi alangkah terperangahnya Bima, ketika yang dijumpainya sebagai Dewa Ruci adalah sosok dirinya sendiri yang begitu sangat kecil.
Dalam kitab Bagavad Ghita, dikisahkan tentang Kresan yang bersabda pada Arjuna di medan kurusetra, “Wahai Arjuna sesungguhnya yang kau perangi bukanlah diri-diri yang tampak, tapi yang dibalik diri-diri yang tampak itu. Sebagai ksatria yang baik, kau diutus untuk melakukan perkelahian yang baik”. Perkelahian yang dimaksud oleh Sang Kresna itu adalah perkelahian internal antara diri kita dengan diri-diri yang tak tampak itu, yang letaknya ada “dalam” diri kita. Puasa sebagai jihad akbar, merupakan peperangan besar yang sangat dahsyat antara diri kita dengan “diri” kita sendiri.
Hidup ini adalah lingkaran derita (Samsara)
Derita disebabkan oleh hasrat
Dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan
“Meniadakan” hasrat
“Meniadakan” Hasrat dilakukan dengan melakukan delapan jalan Darma
(Sidharta Gautama)
D. Puasa: Laku Tapa Yang tak Biasa di Tengah Kehidupan Yang Biasa
Puasa tak sekedar laku tapa untuk gapai digdaya, tapi puasa adalah penyuluh cinta, peneguh jiwa, dan pengobar asa untuk ubah dunia.
Puasa tak sekedar laku tapa yang mensyaratkan untuk tinggalkan hingar-bingar dunia lalu menyepi pada keheningan rimba, mengisolasi diri seolah-olah manusia hidup sendiri. Begitu banyak para petapa yang menjalani latihan tapa-brata selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun menyepi dan tak bersentuhan dengan dunia. Uzlah dan kontemplasi dalam hening nyepi dan tirakat dirasakan sebagai sebuah “persetubuhan” personal sang petapa dengan Tuhannya. Lalu selanjutnya apa? Tak ada apa-apa, selain hening semedhi dan tapa-brata, hanya desah nafas yang teratur berpadu dengan desah semesta yang tak henti mengalun. Tak ada jejak, tak tertoreh semangat juang, selain nestapa pengasingan dalam kesendirian bercinta dengan Tuhan tapi menafikan pengkhidmatan pada makhluk ciptaan Tuhan.
Puasa adalah laku tapa yang tak biasa, yang tak melarang manusia untuk menjalani kehidupan biasa. Puasa menuntun manusia untuk mendengar suara kebanaran di tengah hingar-bingar dunia yang kesetanan. Puasa lebih dari laku tapa, tapi riyadhah untuk tajamkan rasa. Kerahasiaan ibadah memantik keikhlasan dan kejujuran, lapar dahaga menyuluh empati dan simpati pada mereka yang berkekurangan. Sejatinya puasa melatih kesederhanaan dan menyuluh perlawanan, pada rezim dan korporasi yang telah melaparkan jutaan manusia. Puasa bukanlah diam atau ekstase dalam aroma cinta dengan Sang Khalik. Tapi puasa adalah penyatuan kedirian insan dalam hakekat persaudaraan Ilahiyah dan menyerap elan vital Rabbaniyah untuk selamatkan dunia. Itulah sebabnya, orang yang telah sempurna puasanya, berhak untuk mendapatkan titel fitah bertogakan takwa.
Penyatuan dengan Tuhan adalah “melebur” dan “menyerap” Sifat-sifatNYA, lalu menjadikannya sebagai elan vital bagi kekuatan untuk mengubah dunia. (Muhammad Iqbal Lahore)
Selamat Menyambut Bulan Mulia
Marhaban Ya Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar